BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 63



Jika biasanya Ariel datang ke restoran milik Jeje dengan wajah semringah, tetapi tidak untuk kali ini. Lelaki itu terus saja murung hingga membuat Jeje merasa heran.


"Kamu kenapa, Riel? Tumben bibir kamu cemberut gitu," tanya Jeje sambil menaruh secangkir kopi di hadapan Ariel. Hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi Jeje mulai sekarang. 


Seperti seorang istri yang sedang melayani suaminya. Cieee ...


Ariel tidak langsung menjawab, lelaki itu justru mendes*hkan napas ke udara secara kasar  terlebih dahulu. "Nabila hamil," sahutnya lirih. 


Kali ini, Jeje yang mengembuskan napas kasar ketika mendengar jawaban Ariel. Tatapannya lekat sekilas ke arah lelaki itu sebelum akhirnya ia memalingkan wajah. "Memangnya kenapa? Kamu tidak suka Nabila hamil?"


"Tentu saja suka." Ariel menjawab setengah ketus. "Sebentar lagi gue bakal punya ponakan." 


Suara Ariel yang lirih dan sorot mata lelaki itu yang penuh kesenduan, tidak bisa memungkiri bahwa ada luka yang masih dirasakan oleh seorang Gevariel. Mungkin bibir lelaki itu sudah berkata ikhlas, tetapi entah dengan dalam hatinya. Semua tidak semudah itu. Pasti masih ada sisa rasa yang membekas di hati. 


Tidak mudah memang menghapus perasaan yang sudah terlanjur tertanam dalam. Butuh waktu lama bukan hanya sehari dua hari saja. 


"Riel, kamu harus bisa ikhlasin Nabila dengan benar-benar ikhlas. Kalau seperti ini, kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Bukalah pintu hatimu untuk wanita lain dan belajarlah mencintai wanita baru yang hadir di hatimu," nasehat Jeje. 


"Gue harus cepet-cepet nyari pendamping hidup," kata Ariel pasrah. 


"Kalau seperti itu, berarti langkah yang kamu tempuh salah. Kasihan wanita yang akan menjadi pendampingmu nanti," ujar Jeje. 


"Kenapa begitu?" Ariel menatap Jeje penuh kebingungan.


"Karena itu artinya kamu hanya menjadikan dia pelampiasan saja. Kalau memang kamu kamu membuka hatimu untuk wanita lain, selesaikan dulu masa lalumu. Buang-buang semua perasaan lebih dari sahabat untuk Nabila. Yakinkan bahwa kamu sudah ikhlas melepas." Jeje tidak lelah terus memberi nasehat. 


Ariel pun mengangguk mengiyakan. Meskipun semua memang berat, tetapi Ariel akan berusaha keras untuk terus mencobanya. Ia akan mengubah rasa sayang kepada Nabila, menjadi rasa hanya sebatas sahabat. 


Yang membuat Ariel sedikit tersenyum adalah Jeje yang bersedia membantunya. Meskipun ia tidak tahu cara apa yang akan dilakukan oleh Jeje. 


***


Hai, Riel. Lagi apa? Jangan lupa bawakan coklat untukku kalau kamu datang ke sini. Jangan menggerutu. Anggap saja aku adalah cewekmu yang matre. Hehe


Ariel tersenyum simpul ketika membaca pesan dari Jeje. Gadis itu benar-benar ada saja akalnya agar bisa membuat Ariel tersenyum salah tingkah seperti saat ini. 


Ia akan merindukan kabar wanita itu jika tidak mengirim pesan karena sedang sibuk. Bahkan, ketika Ariel yang mengirim pesan dan dibalas lama, lelaki itu pun akan uring-uringan. 


Namun, hari ini Ariel justru dengan sengaja tidak membalas pesan dari Jeje. Padahal tangannya sudah sangat gatal dan ingin sekali membalas. Akan tetapi, ia berusaha menahan sekuat tenaga karena ini merupakan bagian dari rencananya. 


Ia akan menyiapkan sebuah kejutan ulang tahun untuk wanita itu. Ia akan membuatnya kalang kabut terlebih dahulu sebelum memberikan kejutan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Bahkan, Ariel sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. 


Ada sebuah panggilan masuk dari Jeje. Ingin sekali Ariel menerima, tetapi kala tersadar akan semua rencana, Ariel pun segera menjauhkannya. Ia bahkan menutup ponselnya dengan buku sampai deringnya mati sendiri. 


"Ya Tuhan, kenapa gini amat ya. Dulu waktu sama Nabila, gue enggak kaya gini banget hanya karena enggak saling balas pesan ataupun angkat telepon. Kenapa sekarang berbeda banget," keluh Ariel. 


Tidak ingin terus kepikiran, Ariel pun memilih untuk menyibukkan diri pada pekerjaan. Ia berharap waktu segera berlalu agar tiba ia memberikan kejutan tersebut. 


***


Jeje merasa sangat kesal. Bahkan, bibirnya terus saja menggerutu. Ia sudah lelah mengirim pesan dan menelepon Ariel, tetapi tidak ada satu pun yang direspon. Jika memang kehabisan paket data, sepertinya itu tidak mungkin karena pesan dan telepon itu tersampaikan hanya tidak mendapat balasan. 


Saking kesalnya, Jeje menyimpan ponselnya di dalam tas dan ia pun berjanji tidak akan menerima pesan ataupun panggilan dari Ariel sampai rasa kesalnya menghilang. 


Sampai restoran tutup, Jeje sama sekali tidak bertukar kabar dengan Ariel. Ia merasa kecewa kepada lelaki itu. Namun, ia berusaha menenangkan hatinya. Tidak usah terlalu percaya diri. Ia dan Ariel tidak memiliki hubungan spesial, jadi untuk apa berharap lebih pada lelaki itu. 


Jeje mengemudi dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati waktu sekaligus memberi ketenangan pada hati dan pikirannya. Namun, belum juga sampai di rumah, Jeje terheran karena sejak tadi ponselnya terus saja berdering. 


Merasa penasaran, Jeje pun segera menepikan mobilnya. Keningnya mengerut dalam ketika membaca nama Nesya tertera di layar. Tumben sekali gadis itu menghubunginya. 


"Hallo, Sya. Ada apa?" tanya Jeje masih santai.


"Kak, datanglah ke rumah sakit. Kak Ariel kecelakaan." 


Ucapan Nesya yang dibarengi suara memekik dari gadis itu, seketika membuat Jeje terpaku dalam beberapa saat. Pikirannya pun berkelana entah ke mana. 


Tanpa memikirkan apa pun lagi, Jeje pun menaruh ponselnya secara sembarang dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Ya Tuhan, semoga Ariel tetap baik-baik saja. Aku sungguh tidak ingin terjadi apa pun padanya. Aku mohon. Jagalah dia.