BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 52



Ariel terus saja menggerutu. Apalagi saat Jeje sudah menarik paksa tangannya. Menyuruhnya agar menemani gadis itu melakukan kencan buta. Sungguh, hal yang sangat konyol menurut Ariel. Namun, satu hal yang harus ditegaskan bahwa ia tidak bisa menolak perintah Jeje. 


Bukankah wanita itu selalu menang dan tidak pernah salah. Jika wanita salah, maka akan kembali ke pasal 'wanita selalu benar' haha. 


"Sumpah, Je. Lu nyebelin banget, sih. Perasaan dulu elu enggak pernah minta tolong sama gue, tapi kenapa sekarang lu jadi ngedeketin gue, sih. Apa jangan-jangan lu mulai suka sama gue?" Ariel berbicara dengan penuh percaya diri. Sembari tersenyum miring saat menatap Jeje. 


"Dasar ge-er! Dulu aku tidak mendekati kamu karena aku tahu kamu sayang dan cintrong eh cinta banget sama Nabila. Ntar daripada dia ngira kamu pacaran sama aku, jadi mending aku jaga jarak. Tapi, sekarang 'kan sudah beda. Kita sama-sama jomblo, jadi harus saling membantu," ujar Jeje. Terus saja menarik lengan Ariel. 


Lalu menyuruh lelaki itu agar masuk mobil. Setelahnya, mereka pun menuju ke restoran yang telah dipesan sebelumnya. 


Jeje sebenarnya tidak mengharapkan kencan buta ini. Namun, ia tidak punya cara lain lagi karena sang mama terus saja mendesaknya untuk menikah. 


Baginya, apa salahnya mencoba terlebih dahulu, kalau cocok lanjut. Kalau tidak ya, cukup sekali jangan ulangi. Haha.


"Ya ampun, Je. Lu beneran gila. Buat apa sih, lakuin hal konyol ini. Lu kelihatan banget enggak laku. Harusnya tuh, lu junjung harga diri lu sebagai wanita." Ariel masih saja menggerutu. 


"Kamu diem, deh. Ikhlas bantuin aku tidak, sih!" Jeje mulai emosi. Menghadapi ocehan Ariel yang tiada henti. 


"Ya, udah. Terserah elu, deh. Gue enggak akan tanggung jawab kalau cowok yang elu kencanin itu ternyata jelek, dekil, kurus, kerempeng ...." 


"Gevariel! Diem, deh! Mulut kamu berisik banget, sih. Kalau emang tuh laki kaya gitu, ya udah. Aku tinggal pulang aja. Gampang 'kan?" Jeje tersenyum sinis ke arah Ariel. Seolah jalan pikirannya itu adalah paling baik. 


"Terserah elu, deh!" 


Ariel pun memilih untuk diam selama perjalanan bahkan sampai di restoran. Ia membiarkan Jeje turun terlebih dahulu. Bahkan, ketika duduk pun, Ariel memilih selisih beberapa meja dari wanita itu. Mereka berdua memang tidak duduk dalam satu meja karena Jeje ingin melihat terlebih dulu, seperti apa lelaki yang akan kencan buta dengannya. 


Jujur, Ariel merasa dirinya lebih mirip seperti pengawal yang sedang mengantar nona mudanya berkencan. Pada awalnya Ariel bersikap tidak acuh dan hanya duduk santai sambil memainkan ponsel. 


Namun, tiba-tiba ia dibuat melongo saat melihat seorang lelaki berpakaian culun, gigi maju, bahkan ada tompel di pipi sedang mendekati meja Jeje. Yang membuat Ariel makin terheran adalah kacamata hitam yang dipakainya lebih mirip seperti kacamata yang biasa dipakai oleh tukang las. 


Dengan sekuat tenaga Ariel berusaha menahan tawa. Ia tidak menyangka jika teman kencan Jeje akan setragis itu. Ariel pun mengambil gambar mereka termasuk saat Jeje terlihat terkejut. 


***


"Hai, apa kamu yang bernama Jeje?" tanya lelaki culun itu. 


Jeje yang masih terkejut pun hanya menatapnya dengan bingung. 


"Ka-kamu siapa?" tanya Jeje. Memindai seluruh tubuh lelaki itu dari atas sampai bawah. 


"Kenalkan, namaku Ricky. Teman kencanmu," sahutnya tersenyum. 


Jeje tersentak, tetapi ia berusaha terlihat biasa saja karena tidak ingin membuat lelaki itu tersinggung. 


"Oh, iya. Silakan duduk," perintah Jeje.


Dengan antusiasnya, Ricky pun duduk tepat di depan Jeje. Suasana mendadak canggung bahkan mereka saling diam untuk beberapa saat. 


Tidak seperti kebanyakan wanita yang langsung kabur karena teman kencannya culun. Jeje justru betah mengobrol dengan lelaki itu. Bahkan, sesekali wanita itu tersenyum lebar hingga membuat Ariel yang melihat dari tadi, mengerutkan keningnya dalam. 


Ia tidak menyangka jika Jeje betah sekali mengobrol dengan lelaki itu. Merasa jengah terus menunggu sejak tadi, Ariel pun memilih untuk keluar dari restoran.


Biarlah ia menunggu di mobil sendirian, daripada harus menunggu di dalam restoran terlihat seperti orang hilang. 


"Kak Ariel!" 


Ariel berdiri terpaku di samping mobil saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Ketika berbalik dan melihat siapa yang memanggil, tak ayal membuat Ariel seketika mendengkus kasar. 


"Bocil menyebalkan!"