BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 66



..."Hal yang paling susah dilakukan adalah berusaha terlihat baik-baik saja padahal hati dan pikiran sedang dibuat porak-poranda. Tidak mudah untuk berusaha tetap terlihat tegar saat keadaan tidak baik-baik saja . Seperti yang aku rasakan saat ini. Gagal meraih cinta yang kudamba dan kini aku tidak dipercaya saat akan membuka hatiku untuk menulis kisah dalam lembaran baru. Padahal hatiku memang ingin mencintaimu dengan sungguh-sungguh." ...


..._Gevariel_ ...


...****************...


Setelah acara makan malam romantis, Ariel pun mengajak Jeje untuk turun karena malam hampir larut. Namun, setibanya di lantai bawah, Jeje dibuat tersentak dengan keberadaan seluruh keluarganya juga keluarga keempat sahabat somplak. Mereka sudah duduk di kursi yang sudah ditata rapi tadi. Bahkan, di depan mereka semua ada sebuah dekorasi pesta yang sangat mewah. 


Sungguh, Jeje merasa heran karena ia tidak melihat semua itu tadi. 


"Riel. I-ini ...." 


"Kejutan tambahan buat lu." Ariel menjawab sambil tersenyum simpul saat melihat wajah Jeje yang terlihat berbinar bahagia. 


"Ta-tapi kenapa aku tidak melihatnya tadi?" Jeje masih belum percaya karena semua ini seperti mimpi untuknya. 


"Tentu saja gue sembunyiin semuanya dari lu." 


Mata Jeje terlihat berkaca-kaca karena terharu dengan apa yang dilakukan oleh Ariel. 


"Selamat ulang tahun, Sayang." Agnes memeluk Jeje sangat erat begitu pun dengan Gatra. Sebelum akhirnya semua saling berpelukan secara bergantian. 


Acara itu pun dilanjut dengan berbagai hal yang membuat kebahagiaan Jeje terasa kian sempurna. Sungguh, berpuluh tahun merayakan ulang tahun, hanya ini kejutan ulang tahun yang paling meriah menurutnya. Selama ini, ia hanya mendapat kejutan dari papa mamanya saja atau dari keluarga Margaretha. Tidak sampai semeriah ini. 


***


"Riel, makasih banyak untuk semuanya." Jeje menelepon Ariel padahal mereka baru saja sampai di rumah masing-masing. 


"Enggak usah berterima kasih. Udah tugas gue bikin lu bahagia. Anggap aja itu balas budi gue buat lu karena selama ini lu yang ngehibur hati gue," ujar Ariel dari seberang telepon. 


Ariel merasa lega karena semua kejutan yang sudah ia persiapkan, akhirnya bisa berakhir sempurna. Walaupun ada rasa kecewa yang ia rasakan karena penolakan dari Jeje. Namun, Ariel merasa sedikit lega karena setidaknya ia sudah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. 


Walaupun akhirnya ditolak. Wkwkw kasihan amat lu, Riel.


"Riel," panggil Jeje. Namun, gadis itu tiba-tiba terdiam dalam waktu cukup lama. Membuat Ariel yang sejak tadi menunggu pun merasa heran. 


"Kenapa? Kok lu malah diem aja, Je? Lu enggak tidur 'kan?" tanya Ariel. 


"Tidak. Em ... tidak jadi. Besok aja lah kalau pas kita ketemu. Sekarang aku mau tidur dulu. Capek banget badanku," balas Jeje. 


Ariel pun mengiyakan dan mematikan panggilan itu karena ia juga sudah merasa lelah setelah semua kejutan dan acara yang ia lakukan untuk membuat Jeje merasa bahagia. 


Namun, ternyata semua tidak mudah karena Ariel justru hanya berguling di kasur. Matanya memang terpejam, tetapi pikirannya berkelana entah ke mana. Banyak hal yang ia pikirkan dan terasa berkecamuk hingga membuat lelaki itu pun akhirnya pasrah karena semakin ia memaksa untuk tidur, matanya justru makin terbuka lebar. 


***


Sama halnya dengan Ariel, semalaman Jeje tidak bisa tidur karena terus kepikiran lelaki itu. Entah mengapa, Jeje merasa cukup menyesal karena langsung menolak cinta Ariel tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Padahal selama ini, ia pun merasa gelisah apabila tidak mendapat kabar dari lelaki itu. 


Seperti saat ini, Ariel kembali melakukan perjalanan ke luar kota, tetapi tanpa mengajaknya. Lelaki itu hanya datang ke restoran untuk berpamitan. Namun, sama sekali tidak mengajak dirinya. Jeje pun merasa sedikit kecewa karena ia berharap Ariel akan mengajaknya. 


"Kak, kenapa, sih? Kelihatan galau mulu. Kangen Kak Ariel pasti ya?" tanya Nesya yang saat itu sedang bermain di rumah Jeje. 


"Apaan, sih!" balas Jeje ketus. Ia bahkan sudah melirik Nesya sangat tajam. Padahal dalam hati membenarkan tuduhan Nesya. 


Ciee gengsi, Bokkk!! 


"Ya ampun, lirikan matamu udah kayak Kunti mau nelen salome aja," celetuk Nesya. Makin menambah kekesalan Jeje. 


"Apaan itu salome?" tanya Jeje. Masih melayangkan tatapan tajam.


"Salome itu punya dua arti, Kak. Salome yang dimakan sama kayak cilok, atau salome nikmat yaitu satu lobang rame-rame," celetuk Nesya diiringi gelakan tawa. Namun, itu hanya sesaat karena Jeje sudah menonyor kepala gadis itu sampai hampir terjengkang. 


"Iih, Kak Jeje. Jahat!" Nesya ngedumel, tetapi Jeje justru terkekeh. 


"Eh, Sya. Emang kalau aku jadian sama Ariel, kamu tidak cemburu? 'Kan kamu suka banget sama Ariel," tukas Jeje. 


Nesya menggeleng cepat. "Enggak lah, Kak. Buat apa cemburu. Lagian, sekarang aku udah punya pria idaman baru. Temen kampus, Kak. Baru pindahan." 


Jeje menggeleng mendengar Nesya yang bercerita dengan antusias. "Dasar, kamu itu tidak bisa ya jangan genit kalau lihat cowok cakep." 


"Enggak papa, dong, Kak. Selama belum ada yang melamar apalagi jadi pacarku, jadi aku masih bebas buat bergenit ria." Nesya menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Jeje dan langsung dibalas dengan decakan keras. 


"Dasar! Aku yakin kalau kamu ini calon playgirls. Kelap kakap," cibir Jeje. 


"Bagus, dong, Kak. Daripada kelas teri. Haha." Nesya tergelak sendiri seperti orang gila. Ia sungguh merasa puas bisa melihat wajah kesal Jeje. "Lagian, nih, Kak. Aku emang sengaja berhenti ngejar cinta Kak Ariel karena sesuatu hal." 


Wajah Nesya yang barusan tampak semringah kini terlihat sedih. Tidak ada senyuman lagi hingga membuat Jeje merasa heran. 


"Kenapa? Wajah kamu jelek banget, Sya." Jeje sungguh merasa sangat penasaran. "Ariel itu 'kan masih jomblo, jadi kalau emang kamu suka dan mau mengejar cinta dia, enggak akan ada yang cemburu juga. Lagian, kalian juga sempet mau dijodohin 'kan." 


Ucapan Jeje mengandung sebuah penekanan dan syarat akan makna. 


"Enggak lah, Kak. Katanya cintaku buat Kak Ariel itu 'kan cuma sebatas cinta monyet," ujar Nesya. Menatap Jeje dengan lesu.


"Terus?" 


"Huaaaa ...." Nesya justru menangis keras hingga membuat Jeje kebingungan. 


"Sya! Kenapa kamu malah nangis? Jangan bikin gue bingung karena mereka akan ngira kalau aku udah jahat sama kamu." Jeje benar-benar kebingungan.  


"Kak Je, kalau cintaku buat Kak Ariel itu cinta monyet, mendingan aku enggak ngejar cinta Kak Ariel karena aku ini manusia bukan monyet." 


"Astaga." 


Tuing Tuing Tuing ... hahaha. 


Dasar manusia ada saja tingkah dan polahnya.