BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 35



Banyak pikiran yang berkecamuk di otak Sultan. Setelah lima hari menyendiri dan tidak berhubungan dengan Nabila sama sekali. Entah mengapa, Sultan merasa seperti ada yang hilang dari bagian hidupnya. Ia memang mengaku tidak mencintai Nabila, tetapi kenapa tidak mendapat kabar sama sekali dari wanita itu membuat Sultan merasa rindu dengan keceriaan dan kecerobohan wanita itu. 


Nabila sungguh mengikuti apa kata Sultan. Tidak mencari keberadaan Sultan ataupun sekadar mengirim pesan untuk menanyakan kabar. Padahal Sultan selalu membawa ponselnya ke mana pun karena ia khawatir ketika ada pesan masuk dari Nabila, ia melewatkannya. Ia tidak mau jika hal itu sampai terjadi. 


Perhatian Sultan teralihkan pada status Nabila yang baru dipublish satu menit lalu. Dengan tidak sabar, Sultan pun melihatnya. Sebuah foto langit dengan awan yang cerah dan ada caption di dalamnya. 


Kata Dylan rindu itu berat. Emang iya.


Tapi kalau dipikir, padahal lebih berat lemak di tubuhku. Ya Tuhan, begini nasib jadi pengangguran. Cuma makan tidur aja, enggak kerasa perutku buncit seperti hamil tujuh bulan. 


Sultan menggeleng apalagi saat melihat emot senyum di akhir caption tersebut. 


"Dasar Kadal!" 


Namun, jantung Sultan kembali berdebar kencang saat melihat status dari Hanum. 


Aku pamit, aku harus pergi. Percayalah, kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing. 


Sultan langsung membalas status tersebut, tetapi tidak terkirim juga. Dengan gegas, Sultan memasukkan ponsel ke saku jas lalu segera pergi menemui Hanum. Ia harus mencari kejelasan dari status tersebut. 


***


"Hanum," panggil Sultan saat ia baru saja sampai di halaman panti. 


Melihat kedatangan Sultan, Hanum meminta rekan kerjanya untuk menemani anak-anak karena memang ada hal yang harus ia bicarakan dengan Sultan. 


Mereka tidak berbicara di panti, tetapi Hanum meminta Sultan agar pergi ke dekat danau buatan yang sepi dan sejuk. Sehingga mereka bebas untuk mengobrol. Sultan pun hanya menyanggupi permintaan wanita itu. 


"Kebetulan sekali kamu datang, Sul. Ada hal yang akan aku bicarakan denganmu." Hanum terlihat menghela napas panjang tanpa berani menatap Sultan.


"Apa?" tanya Sultan masih terlihat tenang. "Aku juga mau bertanya apa maksud kamu bikin status seperti itu? Kamu mau pergi ke mana?" 


"Aku mau pamit sama kamu, Sul. Mungkin aku sudah sering banyak salah padamu. Aku juga mau bilang terima kasih padamu karena sudah mau menjadi teman yang baik untukku selama ini." Hanum tersenyum simpul. Namun, tidak dengan Sultan yang tampak gelisah. 


"Katakan apa salahku, Num? Kenapa tiba-tiba kamu mau pergi. Apa karena aku sudah menikah dengan Nabila? Sebentar lagi juga aku akan bercerai dengannya," ujar Sultan tanpa jeda. 


"Aku tidak mencintainya, Num. Aku menikah dengannya juga karena perjodohan." Sultan membantah. 


"Bukan tidak, tapi kamu sudah mencintainya hanya saja kamu belum menyadarinya, Sul. Aku yakin kalau kamu bisa mencintai Nona Nabila seiring berjalannya waktu. Bukalah hatimu untuknya." 


"Aku ...." 


"Aku pun akan melakukan itu." Hanum menyela ucapan Sultan. "Besok aku harus pulang kampung karena lusa aku akan menikah." 


"Menikah?" pekik Sultan tidak percaya. "Kamu jangan bercanda, Num! Ini tidak lucu." 


"Aku serius, Sul. Aku akan menikah dengan pria pilihan orang tuaku. Aku memang belum mencintainya, tapi aku sudah mengenalnya sejak lama." Hanum memejamkan mata sembari mengembuskan napas panjang. 


"Num, kamu harus pikirkan baik-baik. Untuk apa kamu menikah dengan pria yang tidak mencintaimu. Itu hanya akan membuat kamu terluka, Num. Kamu bisa menolak keinginan orang tuamu." Sultan berbicara tegas, tetapi hal itu justru disambut senyuman tipis oleh Hanum. 


"Tidak. Aku tidak akan pernah menolak apa pun keinginan orang tuaku karena aku yakin apa pun keputusan orang tuaku itu adalah yang terbaik untukku. Aku yakin kalau orang tuaku tidak akan pernah salah memilih seorang lelaki untuk dijadikan suamiku," ucap Hanum.


"Bagaimana kalau aku melamarmu sekarang? Agar kamu tidak menikah dengan pria pilihan orang tuamu itu?"  


"Maaf, Sul. Aku tidak bisa. Walaupun kamu datang ke pernikahanku, aku tetap akan pada keputusanmu. Aku akan menikah dengan pria pilihan orang tuaku. Jadi, lebih baik sekarang kamu fokus pada rumah tanggamu dengan Nona Nabila. Aku yakin, kalian akan bahagia." Hanum menatap Sultan lekat, membuat lelaki itu hanya terdiam di tempatnya. 


"Tanyakanlah pada hatimu sendiri, Sul. Pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu salah mengambil keputusan." Hanum bangkit berdiri disusul Sultan di belakang. 


"Kamu mau ke mana?" tanya Sultan. 


"Aku mau pulang karena harus bersiap-siap." Hanum berjalan begitu saja, dan Sultan pun mengikutinya. 


Walaupun perasaannya sedang gelisah, tetapi Sultan tetap mengantar Hanum pulang ke panti, barulah ia akan kembali ke apartemen. Untung merenungi semua ucapan Hanum. Bukan hanya Hanum saja, tetapi hampir semua orang berkata seperti itu.


Sultan benar-benar tidak tenang. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Ingin sekali Sultan menghubungi Nabila, wanita yang masih berstatus sah sebagai istrinya. Namun, gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Hingga akhirnya yang bisa ia lakukan adalah menunggu kabar saja. 


Anggaplah bersamaku adalah sebuah pelajaran bahwa setiap pasangan butuh diakui dan dihargai. Jika bukan denganku maka perlakukanlah wanita yang akan hadir selanjutnya di hidupmu dengan baik. Aku baik-baik saja menjadi bagian dari kisahmu. Jika memang harus berpisah, aku ingin kita berpisah dengan cara baik dan tanpa dendam. 


"Ya Tuhan ...." Sultan tidak bisa menahan lagi. Ia pun mengirim pesan kepada Nabila meski hanya sebuah sapaan.