
Tidak mau terus berdebat, Arga memilih pergi meninggalkan Zahra. Ia akan mencari tahu tentang Sultan lagi. Ia hanya mendapat laporan dari Mbok Iyah bahwa Sultan membentak dan menyebut nama wanita lain ketika lelaki itu sedang bertengkar dengan Nabila.
Mbok Iyah memang dikirim oleh Arga untuk menjadi mata-mata di rumah putrinya karena jujur, Arga belum yakin jika Sultan bisa membuat Nabila bahagia, dan ternyata dugaannya memang benar.
Ia tidak pernah membuat Nabila sakit. Menjaga putrinya dengan sepenuh hati, tetapi justru lelaki lain yang sudah ia percayalah yang membuat Nabila sakit seperti ini. Arga benar-benar tidak rela.
Sepeninggal suaminya, Zahra pun bergegas masuk untuk menemani Nabila. Ia juga sudah menghubungi Rasya dan wanita itu saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
***
"Makanlah, Sayang." Zahra merayu Nabila untuk makan. Namun, Nabila menggeleng dengan cepat.
"Aku belum lapar, Ma." Nabila justru memejamkan mata. Berpura-pura hendak tidur.
"Sayang, kamu harus makan. Jangan sampai papamu marah-marah karena kamu tidak mau makan." Zahra masih terus berusaha merayu. Namun, lagi-lagi Nabila menggeleng lemah.
Zahra pun meletakkan piring tersebut dan mengusap wajah putrinya sangat lembut. Tatapannya tampak sendu hingga membuat Nabila yang baru membuka mata pun merasa heran.
"Maafkan mama, Sayang."
"Maaf untuk apa, Ma? Sepertinya Mama tidak memiliki salah apa pun." Nabila balik bertanya. Ia belum tahu apa maksud ucapan sang mama.
"Na, karena ide konyol mama dan Tante Rasya, kamu terpaksa harus menikah dengan Sultan. Padahal mama tahu hanya kamu yang mencintai Sultan, tetapi dia tidak mencintaimu. Mama pikir, seiring berjalannya waktu, Sultan akan mencintaimu, tetapi ternyata salah. Ia justru membuat kamu sakit seperti ini," ucap Zahra penuh sesal.
"Ma, aku bahagia kok, menikah dengan Sultan. Aku sakit bukan karena dia, tapi karena memang tubuhku sedang butuh istirahat," balas Nabila. Memaksa senyumnya.
"Lalu kenapa sampai sekarang Sultan tidak datang menjengukmu?" Zahra kembali bertanya, tetapi untuk beberapa saat Nabila hanya terdiam dan merasa bingung harus menjawab apa. "Na, sebegitu besarkah rasa cintamu untuk Sultan? Sampai kamu menutupi semua kejelekan dia." Zahra berdecak lirih.
"Ma ...."
"Mama tahu kamu berbohong. Mama tahu kamu berusaha menutupi semuanya. Mama tahu itu, Na. Jadi, janganlah kamu tutupi lagi karena semua akan percuma. Kalau memang kamu sayang sama mama, katakanlah semua dengan jujur. Mama janji, tidak akan pernah marah padamu asal kamu mau berkata dengan jujur," suruh Zahra penuh memohon.
Nabila terpaku beberapa saat. Ia merasa bimbang. Ingin sekali menjerit dan mengatakan semuanya kepada Zahra. Namun, ia khawatir jika orang tuanya akan membenci dan bahkan melukai Sultan. Sungguh, Nabila tidak ingin jika sampai hal itu terjadi.
"Sayang, kalau kamu diam saja maka mama akan benar-benar marah padamu," ancam Zahra karena ia sudah merasa gemas kepada putrinya.
Nabila pun menghirup napasnya dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Bahkan, Nabila sengaja menghindari tatapan Zahra karena tidak mau jika nantinya wanita itu melihat dirinya menangis.
"Ma ... mencintai seseorang apakah sesakit ini? Apalagi jika jelas-jelas orang itu mencintai wanita lain." Nabila menjeda ucapannya, sedangkan Zahra diam mendengarkan karena ia ingin mendengar kata hati Nabila.
"Aku sudah mencintai Sultan sejak dulu. Mengagumi dia dan sangat berharap bisa hidup bahagia dengannya. Aku terlalu percaya diri bisa meluluhkan hati Sultan. Maka dari itu aku sangat setuju ketika harus menikah dengan Sultan karena perjodohan. Namun, ternyata semua tidak seindah yang kubayangkan, Ma. Aku sudah berusaha merebut hati Sultan, tetapi yang ada tetap nama wanita lain di hatinya, dan tidak pernah ada namaku di sana." Nabila memejamkan mata dan membiarkan cairan bening mengalir karena ia sudah berusaha menahan dan menyeka, hal itu tidak membuatnya berhenti.
"Sayang, maafkan mama. Mama bukannya membuat hidupmu bahagia, tapi justru membuat kamu menderita," kata Zahra. Ia pun ikut menangis karena bisa merasakan sakit seperti apa yang dirasakan oleh Nabila.
"Na, kalau sampai papamu tahu tentang semua ini, mama yakin dia pasti akan marah besar dan mungkin saja melakukan hal di luar kendali. Bukankah kamu tahu seberapa sayang papa kepadamu?" Zahra mengembuskan napas kasar. Bayangan Arga marah besar terutama kepada Sultan, sungguh membuatnya terusik. Ia khawatir Arga akan melakukan hal berbahaya kepada Sultan.
"Jangan sampai papa tahu, Ma. Aku tidak mau papa nyakitin Sultan." Nabila tampak begitu memohon.
Zahra menggeleng lemah. "Mama tidak janji, Sayang. Meskipun mama tidak mengadu, tetapi papamu pasti bisa tahu semuanya. Bukankah kamu tahu seberapa pintar papamu. Mama juga tidak yakin dia akan diam saja melihat putrinya disakiti seperti ini."
Nabila tampak cemas. Ia takut terjadi apa-apa dengan Sultan. Diam-diam Nabila mengambil ponsel untuk menghubungi Sultan, tetapi tidak bisa karena sepertinya nomornya sudah diblokir oleh lelaki itu.
***
"Zae, lu mau ngomong apa?" tanya Rasya saat Zahra mengajaknya bertemu.
"Ra, gue mau anak kita bercerai saja," kata Zahra tiba-tiba. Membuat Rasya menatap terkejut ke arah sahabat yang sekarang sudah menjadi besannya.
"Kenapa lu ngomong gitu, Zae? Gue tahu Nabila dan Sultan sedang ada masalah. Tapi, gue yakin kalau mereka bisa menyelesaikan masalah mereka. Kita hanya bisa memberi solusi bukan ikut campur," kata Rasya.
"Ra, gue enggak yakin. Gue juga enggak mau kalau Nabila terus ngerasa sakit hati. Gue udah salah dan sangat egois." Zahra memejamkan mata lalu mengusap wajahnya kasar.
"Zae ...."
"Ra, gue tahu Nabila sangat sayang sama Sultan. Makanya gue nikahin dia sama anak lu. Persis seperti keinginan kita dulu. Gue terlalu yakin kalau Nabila bisa hidup bahagia dengan Sultan. Tapi nyatanya salah, mereka justru tersiksa."
"Zae, gue belum paham apa maksud ucapan lu." Rasya terlihat sangat bingung.
Zahra pun menceritakan semuanya. Semua hal yang dibicarakan oleh Nabila dan apa yang ia dengar dari Mbok Iyah.
Rasya benar-benar tidak menyangka jika kisah Nabila dan Sultan akan serumit itu. Rasya pun berkali-kali meminta maaf karena Sultan sudah menyakiti Nabila.
Setelah selesai obrolan mereka, Rasya pun bergegas pulang dan langsung menceritakan semuanya kepada Pandu. Sungguh, Pandu merasa sangat geram kepada putranya. Ia pun menyuruh anak buahnya untuk membawa Sultan pulang karena ia sudah berusaha menghubungi Sultan, tetapi tidak terhubung. Pandu yakin kalau Sultan sengaja mematikan mematikan ponselnya.
Setelah hampir satu jam menunggu, terdengar teriakan Sultan dari pintu utama. Lelaki itu meminta agar anak buah sang papa melepaskan cekalan tangan mereka.
"Lepaskan aku! Sialan!" bentak Sultan. Namun, kedua anak buah itu tidak mau melepaskan jika bukan Pandu yang menyuruh. "Pa, kenapa—"
"Lepaskan dia dan kalian pergi dari sini." Pandu memerintah.
Cekalan itu pun terlepas lalu kedua anak buah itu bergegas pergi dari sana.
"Pa, ini ada apa?" tanya Sultan belum tahu.
"Papa tidak menyangka kalau kamu sudah membuat papa dan mama kecewa, Sul!"