
"Riel, ada yang akan mama bicarakan denganmu," ucap Zety saat Ariel baru saja masuk ke rumah.
Meskipun belum berbicara, tetapi Ariel sudah paham apa yang akan dibicarakan oleh sang mama. Apalagi kalau bukan soal 'perjodohan'.
Menyebalkan bukan!
"Apa, Ma? Kalau mau bahas soal Nesya atau Kayla. Aku tidak mau, Ma. Sampai kapan pun aku tidak mau nikah sama mereka. Kecuali hati aku sendiri yang milih. Aku mau nikah sama wanita yang aku cintai. Yang aku pilih atas kemauan aku sendiri," tutur Ariel.
Zety berdecak kesal ketika mendengar ucapan Ariel yang panjang lebar kali tinggi. "Kamu ini, mama belum bertanya apa pun sudah ngomong sepanjang itu. Dengerin mama dulu."
"Hmmm."
"Mama mau tanya, apa kamu melakukan kencan buta? Bukan hanya kamu, tapi Jeje juga melakukan hal yang sama. Bahkan, kalian berdua saling menolong satu sama lain." Zety menatap putranya penuh selidik, sedangkan Ariel tampak terkejut.
Lelaki itu merasa heran. Bagaimana bisa sang mama mengetahui kalau ia melakukan kencan buta. Apakah mungkin sang mama menaruh mata-mata disekitarnya?
"Mama kok tahu?" tanya Ariel penasaran. "Mama memata-mataiku?"
"Tidak!" sanggah Zety cepat. "Mama memang tidak menaruh mata-mata, tapi Tante Agnes yang laporan sama mama."
"Astaga." Ariel mendes*hkan napas ke udara secara kasar.
"Riel, mama tidak mau kamu melakukan itu lagi. Jangan sampai kamu salah memilih wanita hanya karena tidak bisa mendapat cinta Nabila. Mama mau kamu menikah dengan wanita baik-baik yang bukan hanya terlihat dari tampilan luarnya saja," nasehat Zety.
"Iya, Ma."
"Daripada kamu dan Jeje sibuk nyari pasangan dan melakukan kencan buta. Mendingan kalian aja yang nikah. Dah, beres," cetus Zety. Seolah memberi ide brilian.
"Mama gimana, sih! Kemarin Nesya atau Kayla, sekarang Jeje. Besok siapa lagi?" Ariel mulai kesal karena menganggap sang mama sangatlah plinplan.
"Tidak, deh. Mama sekarang terserah kamu saja. Yang terpenting, dia itu wanita baik dan kamu pun sudah mengenalnya dengan baik. Jangan sampai wanita yang kamu pilih itu seperti kedondong. Di awal aja manis mulu, eh ternyata banyak duri di dalamnya." Zety memberi nasehat.
"Kamu yakin? Mama mau sebelas cucu biar bisa jadi satu klub, eh lima belas karena yang tiga pemain cadangan," cetus Zety.
"Mama yang benar saja! Kalau itu mah namanya keterlaluan. Kasihan istriku, Ma. Dikira pabrik anak," gerutu Ariel. Zety hanya terkekeh melihat wajah kesal putranya.
***
Hubungan Sultan dan Nabila kian hari kian membaik. Sultan tidak lagi seketus dulu. Ia bahkan mulai menaruh perhatian kepada Nabila meskipun hanya perhatian kecil. Namun, setidaknya hal itu mampu membuat Nabila merasa bahagia.
Untuk saat ini, Nabila masih menjadi asisten pribadi Sultan bahkan menjadi asisten kesayangan lelaki itu. Di mana ada Sultan, di situ ada Nabila. Seperti pepatah di mana aku, di situ ada kamu. Eeeakkk!!
"Sul, lu ntar malem mau makan sama apa?" tanya Nabila sambil sibuk memilih resep masakan dari ponselnya.
Sultan tidak langsung menjawab, ia justru melirik istrinya dengan sangat tajam hingga membuat perhatian Nabila teralihkan dari ponselnya.
"Kenapa lu melotot gitu? Emang gue punya salah?" tanya Nabila bingung.
"Jangan manggil lu-gue. Panggilah yang sopan," suruh Sultan. Namun, Nabila justru memasang wajah malas.
"Terus? Harus manggil apa? Sayang? Cinta?" tanya Nabila.
"Terserah." Sultan menjawab ketus.
Nabila pun melangkah mendekati suaminya bahkan dengan tanpa malu ia melingkarkan tangan di leher lelaki itu. Prinsip Nabila, kalau Sultan cuek maka ia harus bisa agresif. Ia harus bisa membuat Sultan menjadi luluh karena perlakuannya. Nabila yakin bisa melakukan itu. Walaupun ia harus bersikap genit, tetapi tidak apa. Yang penting ia hanya melakukan itu kepada suaminya.
"Ya udah, gue manggil Mas aja kalau gitu. Mas Bima Sultan Andaksa." Nabila mencium pipi Sultan hingga membuat lelaki itu memalingkan wajah karena malu. "Mas Bisulan."
Nabila terkekeh, sedangkan Sultan yang merasa gemas pun langsung mencubit pipi istrinya. Ingin sekali ia meng .... ingat, ingat, Ting! (Ngedipin satu mata genit).
Lagi puasa! Hahaha.