BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 60



..."Tidak semua cinta itu berakhir indah. Banyak kisah tentang cinta yang berbeda alurnya. Seperti apa yang aku alami sekarang ini. Mencintai secara diam-diam dan harus merasakan pedih karena bertepuk sebelah tangan. Yang lebih menyakitkan lagi adalah orang yang aku cintai, mencintai sahabatku sendiri bahkan mereka menikah dan saling cinta sekarang. Dah, nasibku." ...


...****************...


Ariel tidak menyangka jika akan seseru ini ketika pergi bersama Jeje. Hampir seperti saat bersama dengan Nabila. Baru hampir ya, tidak sama persis. Karena bersama Nabila tentu saja memberi kesan spesial untuk Ariel. Ya, meskipun sekarang semua tinggal kenangan. Bahkan, hubungannya dengan Nabila maupun Sultan sudah tidak seperti dulu. Ariel sengaja menjaga jarak dari mereka karena khawatir apabila suatu saat terjadi kesalahpahaman. Ia tidak mau hal itu terjadi karena Ariel akan benar-benar ikhlas melepas Nabila.


Kedua orang itu benar-benar menikmati waktu bersama. Bahkan, mereka lebih pantas terlihat seperti pasangan kekasih. Tidak ada rasa canggung ataupun malu-malu. Jeje tetap bersikap seperti biasanya. Menjadi gadis yang apa adanya. 


"Ternyata lu seru juga. Gue pikir, lu bakal kaku dan kita tidak akan seseru ini," ujar Ariel. 


Saat ini mereka berdiri di tepi danau sambil menatap indahnya matahari tenggelam. Hari ini adalah hari terakhir mereka di kota itu sebelum malam nanti akan kembali ke kota sendiri. Ariel benar-benar akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menenangkan dirinya dari segala pikiran yang terus mengusiknya selama ini. 


"Lihatlah, senja itu sangat cantik." Jeje tersenyum. Menatap lembayung senja yang menghiasi langit sore itu. 


"Ya. Banyak sekali yang terkagum pada indahnya senja. Padahal senja menyimpan banyak makna termasuk tentang keindahan yang hanya sesaat dan tidak akan kekal untuk dinikmati." Ariel menghela napas panjang. 


Ia kembali terhanyut pada perasaannya kepada Nabila. Ibarat senja, cinta yang dimiliki oleh Ariel untuk Nabila itu sangat indah, tetapi hanya sesaat singgah. Bukan karena tidak ingin, tetapi tidak akan mungkin bisa bersatu. Seperti senja yang harus ikhlas meninggalkan orang-orang yang mengaguminya. 


"Hei! Jangan galau. Kamu ini seorang lelaki mapan. Masa iya, hanya karena cinta saja sudah lemah." Jeje berbicara meledek Ariel. 


Mendengar ucapan itu, seketika membuat Ariel menatap kesal. Tidak semua orang merasakan apa yang orang lain rasakan, bukan? Mungkin Jeje belum pernah merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan hingga semudah itu ia berbicara. Coba saja kalau gadis itu merasakan patah hati, sudah pasti akan menangis meraung. Haha. 


"Mendingan sekarang kita pulang aja." Ariel mengajak Jeje untuk pergi dari sana. 


Namun, ketika baru saja berbalik, Jeje berteriak histeris dan menarik tangan Ariel agar kembali ke posisi semula karena ada bintang jatuh. Lucu bukan? Di saat senja hampir memudar, ada bintang jatuh yang seolah memberi harapan kepada manusia jomblo itu. 


Jeje memaksa Ariel untuk memejamkan mata. Mengucapkan sesuatu yang diinginkan karena katanya bisa menjadi nyata. Meskipun terkesan konyol, tetapi Ariel tetap mengikuti perintah wanita itu.


Semoga aku mendapat jodoh terbaik. 


Semoga gue dapat jodoh terbaik.


Doa mereka bersamaan. 


"Kamu doa apaan, Riel?" tanya Jeje ingin tahu. 


"Kepo." Ariel menjawab singkat. Lalu bergegas pergi meninggalkan Jeje begitu saja. Ia tidak peduli meskipun Jeje kewalahan mengikuti langkah kakinya yang lebar. 


Ciee Ariel mulai ada tanda-tanda pendekatan nih, semoga doa kalian lekas terkabul ya. Aamiin. Hihihi.