BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 41



"Astaga, Ma. Bisakah kalau teriak lebih pelan sedikit. Aku tidak mau menjadi tuli di usiaku yang masih muda," cebik Sultan. Mengusap telinganya yang masih berdengung. 


"Di mana Nabila? Kenapa mama dan Zaenab ke sini, Mbok Iyah bilang Nabila kabur dari rumah. Kamu apakan dia, hm!" Rasya menjewer telinga Sultan. Walaupun tidak terlalu kencang, tetapi mampu membuat Sultan terkejut dan langsung mengaduh keras. 


"Sakit, Ma." Sultan berusaha  melepaskan jeweran itu. 


"Kamu ini, jadi suami beneran ya. Cuma nyakitin istri. Bagaimana bisa Nabila kabur dari rumah, kamu diam aja!" Rasya masih mengomel. "Lihat, mama mertuamu sedang menangisi Nabila." 


Rasya menarik tangan Sultan agar mendekati Zahra yang sedang menangis. Entah, wanita itu benar-benar menangis atau hanya berpura-pura saja karena yang ditangkap oleh telinga Sultan, tangisan Zahra itu terdengar lebay karena seperti dibuat-buat.


"Sul ... di mana Nabila? Kenapa dia kabur? Apa kamu menyakiti dia lagi?" Zahra tampak mengusap wajahnya dengan tisu, sedangkan Mbok Iyah di samping wanita itu berusaha menenangkannya. 


"Maafin Sultan, Mama Zae. Sultan tidak tahu kalau Nabila ternyata pergi sama Ariel." 


"Ka-kamu tahu darimana dia pergi dengan Ariel, Sul?" Rasya tampak terkejut, begitu juga dengan Zahra. 


"Aku udah nyari Nabila, tapi enggak ketemu, Ma. Pas aku telepon dia, yang angkat si Ariel sialan. Dia bahkan enggak ngomong ke mana bawa Nabila pergi. Terus aku barusan dari rumah Tante Suketi dan kata Om Kiano, Ariel sedang ke luar kota. Jadi, kemungkinan  besar Nabila ada di luar kota," jelas Sultan.


Rasya kembali terkejut, tetapi ia menggerutu kesal setelahnya. "Zae, gue lupa enggak bilang Suketi supaya jangan bilang ke Sultan kalau Ariel pergi bawa Nabila." 


"Gue juga, Ra. Enggak kepikiran sama sekali," balas Zahra yang juga setengah berbisik. 


"Mama Kurap, Mama Zaenab! Jangan bilang kalian dalang di balik semua ini," tukas Sultan marah. 


"Loh, siapa yang jadi dalang, Sul? Mama ngomong bahasa Jawa aja belepotan kok jadi dalang," timpal Rasya membela diri. 


"Ma ... aku serius!" 


"Mama juga serius, Sul. Kalau mama bercanda, pasti mama udah ketawa keras. Hahahahaa." Rasya tergelak seperti orang kesurupan hingga membuat mereka bergidik ngeri. 


"Ra, yang bener aja lu. Tawa lu udah kayak orang gila, kalau beneran gila gimana?" celetuk Zahra. Rasya dengan segera menonyor kepala Zahra. 


"Edan lu, Zae. Jangan bikin gue parno. Kalau gue gila, bisa jadi Om Panu nyari bini muda." 


"Cee ilee ... Om Panu. Mengenang masa lalu, nih, ye. Jadi ingat, Panu sama Kurap, sekarang ketambahan Bisul pula. Lengkap udah keluarga lu, Na." Zahra tergelak keras. 


"Jangan lupain anak gadis gue, ntar dia ngambek kalau namanya enggak disebut," ujar Rasya disertai dengkusan kasar. 


"Dah lah, kalian nyebelin emang. Aku mau ngambek sama mama." Sultan bergegas pergi ke kamar meninggalkan Rasya, Zahra, dan Mbok Iyah yang sejak tadi hanya geleng-geleng melihat kelakuan majikannya.  


Melihat kepergian anak menantunya, Zahra langsung menyenggol lengan Rasya. "Keterlaluan enggak, sih, Ra? Lu sama anak sendiri gitu amat." 


"Ya kagak, Ra." Zahra menjawab cepat. 


"Eh, tapi si Nabila masih perawan enggak ya, kira-kira?" tanya Rasya lirih. Namun, ia justru mendapat tonyoran di kepala hingga membuatnya mengasuh. "Sialan lu, Zae!" 


"Dah, jangan diterusin. Ntar otak mesum kita kumat lagi. Mendingan sekarang rencana kita gimana?" tanya Zahra.


"Kita telepon si Ariel, suruh pulang ke sini, tapi jangan bilang ke Nabila atau si Suketi. Biarin aja si Sultan nyari sampai sana dulu," usul Rasya.


Zahra berdecak keras. "Beneran emak edan lu, Ra. Anak sendiri itu, loh. Gue, sih, ikut aja saran lu." 


"Biarin, ntar kalau udah kelar, gue minta maaf sama dia," kata Rasya disertai kekehan. 


Setelahnya, Rasya pun menelepon Ariel dan meminta agar pulang karena Sultan sudah tahu, tetapi Ariel menolak karena pekerjaannya di sana belum selesai. Selain itu, Ariel juga memiliki alasan tersendiri mengapa tidak mau pulang secepat itu. Kedua wanita itu pun hanya bisa mengiyakan tanpa bisa merayu lagi. Namun, Rasya meminta Ariel mematikan GPS ponselnya maupun ponsel Nabila. Setelah Ariel mengiyakan, barulah panggilan itu pun terputus. 


"Yah, gagal, Zae," kata Rasya lesu. 


"Kualat lu sama anak, Zae. Jadi gitu." Zahra pun menutupi tawanya sebelum akhirnya mereka berdua tergelak keras. 


"Dah, mendingan kita sekarang samperin si Suketi sama Markonah. Lama banget kita enggak ngumpul." Rasya bangkit berdiri disusul oleh Zahra. Kedua orang itu pun segera pergi menuju ke tempat sahabatnya. Meninggalkan Sultan yang masih berada di kamar.


***


Tanpa berpikir panjang, Sultan langsung menata baju ke koper dan memesan tiket pesawat karena ia tidak mau menunda lagi. Ia akan mencari istrinya sampai ketemu dan memberi pelajaran untuk si Ariel Kutu Kupret. Ia pun sudah meminta Pandu untuk menghandel semua pekerjaan di kantor untuk beberapa hari ke depan sampai ia pulang bersama Nabila. 


Ketika sudah bersiap hendak berangkat ke bandara, Sultan terkejut karena mama kandung dan mama mertuanya ternyata sudah pergi dari rumahnya tanpa berpamitan. Sultan makin merasa yakin kalau semua ini adalah akal bulus si mama. 


Ia sudah paham gimana sang mama kalau somplaknya lagi kambuh. 


Sebelum berangkat, Sultan terlebih dahulu mengirim pesan kepada Nabila. 


Gue akan jemput lu, Kadal. Kalau sampai gue bisa nemuin lu, maka bersiaplah dengan hukuman gue yang enggak akan main-main! 


Sultan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana lalu masuk ke mobil dan melajukannya ke bandara. Ia ingin segera menemukan Nabila. 


Mobil Sultan melaju dengan cepat karena ia hanya memiliki waktu sedikit karena beberapa menit lagi, pesawat akan lepas landas dan ia tidak mau terlambat.


Ketika sedang asyik melaju, Sultan merasakan mobilnya seperti sedang tidak bersahabat. Padahal waktu yang ia semakin mepet. Hingga akhirnya ia menggeram dan marah dan memukul setir kemudi dengan cukup kencang. 


"Arrggh! Sial!"