BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 61



Tiga bulan sudah usia pernikahan Nabila dan Sultan. Hubungan yang sudah membaik membuat Nabila kian berharap dirinya akan segera diberi kepercayaan. Agar rumah tangganya bersama Sultan makin kukuh. Namun, sampai saat ini, belum ada tanda-tanda Bisulan Junior tumbuh di rahim wanita itu. Padahal mereka berdua sudah berusaha semaksimal mungkin. Tidak peduli waktu pagi, siang, ataupun malam. Mereka terus saja bekerja keras. 


Anak adalah rezeki, dan rezeki itu ada di Tangan Tuhan, Bestie. 


Sabar ya. Hehe. 


"Mas Bisul!" Nabila selalu saja ingin tergelak ketika memanggil suaminya seperti itu. Terdengar aneh, tetapi ia berusaha untuk membiasakannya. 


"Kenapa? Kamu mau apa lagi?" tanya Sultan. Ia pun mulai memanggil Nabila dengan aku-kamu, bukan lu-gue lagi karena ia ingin menjalin hubungan yang lebih mesra dengan istrinya. 


"Cendol," rengek Nabila seperti anak kecil. Bahkan, ia memasang wajah imut di depan suaminya hingga membuat lelaki itu merasa gemas. 


"Hujan-hujan gini, harusnya kamu tuh makan yang berkuah, pedas, dan panas. Supaya perutmu hangat. Kalau cendol itu 'kan dingin, takutnya perutmu kembung," gerutu Sultan. 


Ciee mulai perhatian nih. 


"Tapi aku mau cendol panas bukan dingin," ujar Nabila.


Sultan seketika mengerutkan kening dalam. Ia berpikir keras, sangat keras. Yang ia tahu selama ini yang namanya cendol itu pasti dingin karena diberi es. Ia belum tahu cendol panas itu seperti apa. 


Dah ah. Perkara cendol aja jadi masalah. Haha. Tinggal turuti aja daripada doi ngambek. 


"Nyari di mana? Kamu ini, belum ngidam aja mintanya udah aneh-aneh, apalagi kalau udah ngidam? Semoga saja tidak memusingkanku," keluh Sultan. 


Nabila duduk sambil bersedekap di samping Sultan. Lelaki itu pun, dengan segera meluruskan tangannya merangkul pundak sang istri. Aih, sangat romantis. Apalagi Sultan tidak lupa memberi kecupan di pipi wanita itu. Tak ayal, hal itu membuat Nabila merasa senang dan bahagia. 


Sebagai seorang suami yang baik dan sayang istri. Ciee ... Sultan pun menuruti keinginan Nabila melakukan hal konyol. Semua perintah wanita itu seperti sebuah mandat yang harus dipenuhi. Awalnya mengesalkan memang, tetapi ketika melihat senyum Nabila yang mengembang sempurna saat keinginannya terpenuhi, seketika membuat Sultan pun ikut merasa bahagia. 


Keesokan paginya, Sultan terbangun lebih dulu. Ia pun langsung mandi dan bersiap untuk ke kantor. Namun, ketika baru saja hendak masuk kamar mandi, Sultan dikejutkan oleh Nabila yang berlari kencang menyusulnya. Bahkan, Nabila memuntahkan semua yang dimakannya semalam. 


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Sultan cemas. Berdiri di samping Nabila dan memijat tengkuk wanita itu dengan perlahan. 


Nabila tidak langsung menjawab, ia bersandar tembok terlebih dahulu lalu menghirup napasnya dalam-dalam. Sementara Sultan dengan setia berdiri di samping istrinya. Wajahnya pun terlihat penuh dengan kecemasan. 


"Lagian, kamu ini ada-ada saja. Makanya lain kali kalau makan itu yang bener sesuai kondratnya," omel Sultan. 


Nabila memasang wajah malas jika suaminya sudah ngoceh seperti itu. Ia lebih memilih untuk kembali ke kamar karena bisa saja, Sultan tidak berhenti mengomel. Nabila memaksa untuk berangkat kerja, tetapi Sultan melarang dan menyuruh wanita itu agar tetap di rumah bersama Mbok Iyah. Jika tetap memaksa ikut bekerja maka Sultan tidak akan segan-segan ... anu. 


"Non, apa Nona sudah merasa lebih baik?" tanya Mbok Iyah cemas. Apalagi saat melihat wajah Nabila yang pucat. 


"Sudah, Mbok. Perutnya udah agak enakan. Tidak semual saat bangun tidur tadi. Asem! Gara-gara cendol aja jadi kayak gini," gerutu Nabila. 


Mbok Iyah awalnya mengerutkan kening karena bingung. Saat mendengar cerita Nabila yang meminta cendol panas, seketika tawa wanita paruh baya itu pun meledak. Ia sungguh tidak habis pikir dengan tingkah majikannya. Bahkan, Mbok Iyah pun terkekeh saat membayangkan wajah Sultan yang sudah pasti dipenuhi dengan kekesalan. 


"Aku enggak mau lagi makan cendol panas seperti kemarin. Perutku jadi sakit dan rasanya mual terus," keluh Nabila. 


"Non, jangan-jangan Nona Nabila sudah mulai hamil.  Apalagi 'kan permintaan Nona aneh-aneh seperti itu," celetuk Mbok Iyah. Meredam tawa Nabila begitu saja. 


Wanita itu berpikir keras dan berusaha mengingat kapan terakhir kali datang bulan. Setelahnya, ia pun turun dari ranjang dengan tergesa. Membuat Mbok Iyah ikut panik. 


"Cari apa, Non?" tanya Mbok Iyah saat Nabila membuka laci nakas. 


Nabila tidak menjawab dan fokus mencari testpack yang masih ia simpan di laci. Setelah menemukannya, Nabila pun langsung ke kamar mandi untuk menggunakan alat tersebut. 


Wanita itu menunggu dengan harap-harap cemas. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera melihat hasilnya. 


Dan inilah hasilnya ....


Jreng jreng jreng!!!! 


Ciee nungguin ya. Haha. 


Asem lu!