
Pengantin baru itu menepati janji. Sepulang bekerja mereka langsung menuju ke rumah Pandu. Selain untuk melepas rindu, Sultan juga tidak ingin jika sang mama akan terus mengomel karena perintahnya tidak dituruti. Bahkan, papanya yang cuek seperti itu saja, bisa bucin dan menuruti apa pun kemauan Mama Kurap tercinta.
Kedatangan mereka langsung disambut hangat. Bahkan, Rasya langsung memeluk Nabila sangat erat. Seolah sangat merindukan wanita itu. Hal itu, membuat Sultan merasa sedikit cemburu.
"Ma, yang anak Mama itu aku, kenapa si Kadal yang dipeluk terus. Mama tidak kangen sama aku?" Sultan berdecak kesal.
"Kamu udah puas mama peluk waktu belum nikah. Sekarang waktunya mama peluk menantu kesayangan mama ini." Rasya kembali memeluk Nabila erat lalu mengajak wanita itu agar duduk bersama.
Ternyata sambutan untuk mereka sudah dipersiapkan oleh Rasya. Semua makanan kesukaan Nabila sudah tersaji di meja. Rasya benar-benar niat sekali. Berbeda dengan Sultan yang merasa kesal karena sang mama yang lebih mementingkan Nabila daripada dirinya.
Kedua wanita itu mengobrol sangat asyik. Bahkan, mereka sampai lupa pada suami masing-masing. Sementara Pandu yang mulai merasa bosan, segera mengajak Sultan agar masuk ke ruang kerjanya untuk membahas tentang perusahaan.
"Sul, papa harap kamu tidak akan pernah menyakiti Nabila," kata Pandu. Membuat Sultan menoleh ke arah lelaki paruh baya itu dengan cepat.
"Kenapa Papa bilang seperti itu?" tanya Sultan heran.
"Tidak. Papa hanya tidak mau kamu menyakiti Nabila baik secara fisik maupun batinnya. Ingat, Sul. Bukan hanya nama baik keluarga kita yang harus dijaga, tetapi hubungan keluarga kita dengan keluarga Nabila. Itu yang lebih penting. Papa tidak mau jika suatu saat kalian memiliki masalah, harus berpisah dan hubungan mamamu dengan Zahra tidak baik," kata Pandu disertai helaan napas panjang.
"Pa, aku baru menjalani hubungan dengan Nabila dan butuh waktu untuk saling mengerti. Walaupun aku dan Nabila sudah berteman dekat sejak kecil, tetapi keadaan sekarang berbeda. Aku hanya akan berusaha, tetapi tidak berjanji." Sultan menatap lekat wajah sang papa yang terlihat sangat cemas.
Batin Sultan terus bertanya, tentang Arga dan sang papa yang sepertinya memiliki firasat tidak baik. Kedua lelaki itu sepertinya tahu jika belum ada cinta di antara dirinya dan Nabila. Atau lebih tepatnya, ia yang belum mencintai Nabila.
"Baguslah. Papa harap kamu tidak pernah mengecewakan kami terutama mama kamu." Pandu menepuk bahu putranya.
Dalam hati ia merasa sangat bangga karena putranya bisa memiliki sikap tanggung jawab seperti itu. Pandu tidak menyadari bahwa putranya dan Nabila memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Nabila asyik bercerita dengan Rasya. Semua hal lucu ia ceritakan hingga membuat wanita paruh baya yang masih cantik itu, tertawa terbahak-bahak.
"Ya Tuhan, Na. Kamu persis sekali seperti si Zaenab. Benar-benar titisan Zaenab yang sangat ceroboh." Rasya memegang perutnya yang mulai terasa kram karena terlalu banyak tertawa.
"Hehe, iya Ma. Sultan juga sering bilang begitu. Kalau aku ini wanita paling ceroboh dan centil yang pernah dia temui." Nabila tersenyum lebar ketika melihat kedatangan Pandu dan Sultan yang langsung bergabung bersama mereka.
"Jangan membicarakanku." Sultan menghempaskan tubuhnya di samping Nabila.
"Biarlah. Sekali-kali aku bercerita tentangmu dengan Mama Rasya. Aku capek selama ini cuma mengumpati kamu di dalam hati," celetuk Nabila. Ia langsung menunjukkan dua jari tanda damai ketika melihat Sultan yang sudah mendelik ke arahnya.
"Sudah, jangan berantem. Masa iya, pengantin baru udah berantem mulu." Rasya berusaha melerai. "Mama tuh, seneng banget kalian bisa bersatu. Keinginan mama sama Zaenab bisa terwujud. Mama harap kalian akan selalu bahagia selalu."
"Aamiin. Semoga doa Mama dicatat oleh malaikat dan langsung dikabulkan oleh Tuhan, Ma." Nabila berusaha tersenyum meski dalam hati merasa galau.
"Semoga saja. Sejak dulu sampai saat ini hanya kamu yang mama inginkan menjadi anak menantu mama, Na. Mama tidak mau Sultan menikah dengan siapa pun selain kamu. Sebaik apa pun wanita itu," kata Rasya. Menatap Sultan dan Nabila secara bergantian.
"Mama tidak bisa mengatur seperti itu karena hati orang tidak ada yang tahu, Ma." Sultan menyanggah ucapan sang mama.
Rasya pun menatap Sultan secara tajam. "Kenapa kamu berbicara seperti itu, Sul?"
Sultan tergagap ketika mendengar pertanyaan sang mama. Jangan sampai ia keceplosan dan menyebut nama Hanum di depan wanita itu. Atau semua akan menjadi gawat.