BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 53



"Kak Ariel ngapain di sini?" tanya Nesya antusias. Wajahnya pun terlihat semringah karena bertemu dengan lelaki yang ia kagumi. 


"Makan," sahut Ariel ketus. Namun, hal itu tidak membuat Nesya cemberut atau tersinggung. Gadis itu sudah terbiasa dengan sikap Ariel yang ketus sejak dulu setiap kali mereka bertemu. 


Hampir sama seperti kisah Nabila dan Sultan, Nesya pun menaruh rasa kepada Ariel meskipun lelaki itu selalu saja bersikap ketus padanya. Namun, Nesya sama sekali tidak gentar untuk mengejar cinta dari seorang Gevariel. 


Ia yakin bahwa Gevariel adalah jodohnya kelak. Kalaupun bukan jodohnya maka ia akan memaksa. Haha. 


"Ih, kenapa enggak ajak aku. Harusnya kakak ajak aku biar enggak sendirian," rengek Nesya manja. Seperti anak kecil. 


"Buat apa gue ngajak bocil kaya elu." Ariel masih menjawab ketus. "Bukannya jadi temen makan, malah ngerepotin. Ribet!" 


"Ih, Kak Ariel kenapa, sih, selalu aja gitu ke aku. Emang aku punya banyak salah sama Kakak ya?" Nesya berpura-pura merengek manja, tetapi Ariel tetap saja bersikap tak acuh. "Kak, nanti kalau ternyata kakak dijodohin sama aku, jangan nolak ya. Pokoknya aku mau kita nikah dan jadi pasangan bahagia seperti Kak Sultan dan Kak Nabila." 


Bola mata Ariel mendelik saat mendengar ucapan putri sulung Margaretha alias Markonah itu. Yang tidak lain adalah sepupu Jeje. 


"Gue nggak mau dijodohin. Lu tahu, gue berhak memilih pasangan hidup gue sendiri. Gue bisa nentuin masa depan gue sendiri," kata Ariel penuh penekanan. Ia menatap Nesya tidak suka. 


Ajaibnya, Nesya masih saja tersenyum kepada Ariel hingga membuat lelaki itu terheran. Seperti tidak ada rasa sakit hati atau tersinggung dari wajahnya hingga membuat Ariel menganggap Nesya seperti gadis yang kurang. 


Kurang kasih sayang, kurang belaian, kurang .... kurangnya aku apa? Haha.


"Em, baiklah. Tidak apa aku tidak bisa memiliki Kak Ariel, tapi suatu saat Kak Ariel akan tahu kalau aku sayang banget sama Kakak. Aku pergi dulu," ucap Nesya lalu berpamitan dari sana. 


Ariel memang terdiam, tetapi ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Nesya. Akan tetapi, ia langsung menggeleng untuk mengusir perasaan itu. Ia tidak mau kepikiran hal yang tidak penting itu. 


Dengan gegas, Ariel pun segera masuk ke mobil dan menunggu Jeje di dalam sana. Ia sangat berharap semoga Jeje lekas keluar dari restoran dan mengakhiri kencan buta itu karena ia tidak tahu, sebatas apa rasa sabar dirinya ketika menunggu orang kencan. Ariel tidak tahu, jika Nesya diam-diam bersembunyi untuk melihat kepergian Ariel. 


"Eh, kok ada Kak Jeje," gumam Nesya lirih. Ia terheran ketika melihat Jeje masuk ke dalam mobil Ariel. "Apa Kak Ariel habis kencan sama Kak Jeje ya? Tapi kok keluarnya enggak bareng, sih." 


Gadis itu menggerutu sendiri. Terus menerka tentang Ariel dan Jeje. "Emm, bisa jadi Kak Jeje habis bayar makanan mereka makanya keluarnya tidak bareng, tapi masa' Kak Jeje pacaran sama Kak Ariel? Sepertinya mereka tidak terlalu dekat selama ini," gumamnya terus. Pandangannya tidak terlepas dari mobil Ariel yang perlahan menjauh dari pandangan. 


Setelahnya, Nesya pun mengambil ponsel untuk menghubungi Kayla dan meminta bantuan gadis itu agar membantunya menyelidiki tentang hubungan Ariel dan Jeje. 


Dua gadis muda itu berlagak seperti detektif profesional. 


***


"Je, lu beneran mau sama cowok kaya gitu?" tanya Ariel saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. 


"Ya tidak lah." Jeje menjawab cepat. Hal itu sontak membuat kening Ariel mengerut dalam. "Kamu yang benar saja. Bisa-bisa Mama Agnes ngomel terus." 


"Terus kenapa lu barusan betah banget ngobrol sama dia? Bahkan, gue lihat lu menikmati banget. Kalian kelihatan sangat serasi," ujar Ariel masih belum percaya dan setengah menggoda. 


"Beneran? Jangan bilang kalau lu naksir sama dia. Tapi, boleh dicoba, Je. Siapa tahu kayak di sinetron itu, ternyata dia seorang konglomerat yang nyamar jadi manusia culun cuma buat nyari cewek yang mau nerima apa adanya," celetuk Ariel. 


Jeje mendengkus kasar. "Lah, yang bener aja. Kamu kebanyakan nonton sinetron, Riel. Kalaupun iya, aku tidak peduli. Aku mau nyari cowok yang benar-benar bisa buat aku nyaman."


"Walaupun dia orang miskin kalau dia buat nyaman. Lu mau nerima?" tanya Ariel. Menatap Jeje sekilas. 


"Iyalah, buat aku harta dan status itu bukan masalah. Yang penting itu hatinya," ujar Jeje. 


"Yakin nih, enggak mau lihat dari statusnya? Gimana kalau cowok itu ternyata duda anak seratus—"


"Ariel! Jangan nyebelin!" Jeje memekik kesal, sedangkan Ariel sudah tergelak keras. 


Sungguh, menggoda gadis itu seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya. 


***


"Bisulan! Tungguin gue!" Nabila melangkah tergesa menuruni tangga. Sementara Sultan menunggu di bawah sambil harap-harap cemas. Khawatir istrinya akan terjatuh. 


Ciee .... mulai perhatian nih. 


"Jangan lari, Na. Kalau lu jatuh gimana?" Sultan tidak sabar untuk tidak berbicara apa pun.


Namun, ia tersentak ketika Nabila tiba-tiba naik ke dalam gendongannya. Bahkan, mereka hampir saja terjatuh karena Sultan dalam posisi yang tidak siap. 


"Ya ampun, bisakah lu hati—"


Sultan langsung diam karena Nabila sudah mencium pipinya. Ia pun segera memalingkan wajah karena tak ingin jika Nabila tahu ia sedang tersipu malu. 


"Lu pakai blush-on, Sul?" tanya Nabila menggoda. "Kok pipi lu merah gitu."


"Apaan, sih!" Sultan memilih untuk membopong Nabila keluar rumah. Lalu mendudukkan wanita itu secara perlahan di dalam mobil. 


Setelahnya, mereka pun langsung berjalan menuju ke kantor. 


"Sul, gue pengen makan itu." Nabila menunjuk penjual bubur ayam di seberang jalan. 


"Udah siang, Na. Ntar aja gue suruh orang kantor buat beliin," kata Sultan karena memang waktu yang sudah siang. 


"Tapi gue pengen, Sul. Eh, jangan-jangan gue lagi ngidam, Sul," celetuk Nabila. Membuat Sultan mengerem mobilnya secara mendadak. 


"Lu yang bener aja, Kadal!"