BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 33



Nabila benar-benar mengikuti kemauannya sendiri. Meskipun Arga terus memaksa agar Nabila pulang bersamanya, tetapi Nabila menolak. Hingga lelaki paruh baya tersebut hanya diam dan kecewa dengan keputusan yang diambil oleh putrinya. Apalagi, Zahra ikut menyetujui keinginan Nabila tersebut. 


Setelah dirasa sudah lebih baik, Nabila hendak berangkat kerja lagi. Namun, Sultan menolak dan meminta Nabila agar berisitirahat terlebih dahulu sampai tubuhnya benar-benar sehat. Sultan tidak mau jika nantinya Nabila akan kembali sakit. 


Cieee ... diem-diem perhatian.


 Ehem! 


Padahal bukan itu maksudnya. Sultan tidak mau jika Nabila sakit dan itu pasti akan membuat dirinya repot. 


Halah! Alesan lu, Sul! 


Apalagi sepulang kerja nanti  Sultan sudah janji ketemuan dengan Ariel, dan ia tidak ingin jika Nabila sampai mengetahuinya. Sultan hanya ingin memastikan apakah memang Ariel yang mengadu kepada Hanum atau bukan. Karena saat ia melihat CCTV di kantor, ia melihat Ariel sedang berbicara dengan Hanum. 


Ia sungguh curiga kepada sahabatnya tersebut. 


***


Sudah beberapa hari tidak bekerja dan hanya tiduran di rumah sakit dan kamar saja. Nabila merasa sangat jenuh. Ia pun memilih untuk pergi jalan-jalan dan tidak memberi tahu siapa pun termasuk Mbok Iyah. Ia tahu, bahwa selama ini Mbok Iyah lah yang menjadi mata-mata di rumahnya. 


Oleh karena itu, daripada Nabila terkena omelan sang papa karena kelayapan. Ia memilih untuk diam dan pergi diam-diam seperti maling. 


Setelah mengisi perut, tujuan Nabila adalah panti asuhan. Ia ingin sekali datang ke sana, bertemu Hanum dan membicarakan sesuatu hal yang mungkin saja penting. 


Setibanya di panti, kedatangan Nabila sempat membuat Hanum yang kala itu sedang bersantai, menjadi terkejut. Ia pun segera meminta Nabila agar duduk meskipun perasaannya tidak nyaman. 


"Nona, ada perlu apa Anda datang ke sini?" tanya Hanum sopan. 


"Aku hanya ingin main saja," sahut Nabila sambil tersenyum simpul. 


"Anda yakin hanya itu tujuan Anda? Saya tidak percaya, Nona." Hanum menatap Nabila yang masih tersenyum tipis.


"Lalu menurutmu, untuk apa aku datang ke sini?" 


"Nona, apakah Anda ingin saya menjauh dari Sultan? Saya tahu Sultan adalah suami Anda," kata Hanum. 


"Siapa yang memberi tahumu kalau Sultan adalah suamiku?" tanya Nabila menyelidik. 


Wajah Hanum terlihat sangat gugup. "Ya pokoknya ada, Nona. Saya tidak tahu dia siapa karena kami baru pertama kali bertemu. Nona ...." Hanum terdiam karena merasa ragu ketika hendak melanjutkan ucapannya. 


Sementara Nabila hanya diam dan terus menunggu. Ia tidak ingin menyela sebelum waktunya. 


"Saya mau minta maaf kepada Anda karena mungkin selama ini saya mengganggu rumah tangga Anda dengan Sultan. Saya benar-benar tidak ada maksud lain karena sebelumnya saya tidak tahu kalau Sultan sudah menikah. Saya sudah menyuruh dia agar menjauhi saya, Nona." Hanum berusaha menjelaskan. 


"Maksudnya?" tanya Hanum bingung. Ia belum paham apa maksud pertanyaan Nabila. 


"Kamu menjalin hubungan yang baik dengan Sultan. Sama seperti dulu. Sama seperti saat kamu belum mengenalku dan belum tahu kalau aku adalah istri Sultan." Nabila masih bisa tersenyum. Tidak ada yang tahu kalau ia sedang berusaha keras menutupi luka hatinya. 


"Nona, saya tidak bisa melakukan itu." 


"Kenapa?" Nabila berpindah duduk di samping Hanum lalu mengembuskan napas secara perlahan. 


"Saya tidak mau merusak hubungan apalagi rumah tangga orang lain. Saya tidak mau jika seumur hidup saya selalu dipenuhi rasa sesal. Saya ingin merasa hidup tenang meskipun harus rela melepaskan, Nona. Saya yakin kalau Tuhan sudah menuliskan jodoh untuk saya, dan itu bukan milik orang lain," ucap Hanum penuh ketegasan. 


"Pantas saja Sultan bisa kagum dan jatuh cinta padamu. Ternyata kamu seluar biasa ini," puji Nabila. Namun, ucapan itu justru membuat kening Hanum mengerut dalam. "Kamu tahu, walaupun menikah denganku, tetapi hati Sultan bukan untukku, tapi kamu." 


"Jangan bercanda, Nona." Hanum menyanggah cepat. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan Nabila tersebut. "Dia tidak mungkin jatuh cinta dengan saya. Kalau memang iya, kenapa dia bisa menikah dengan Anda? Lagi pula, jika dibandingkan dengan Anda, saya ini kalah jauh, Nona."  


"Kalah jauh dari segi apa? Kalau soal harta, itu bukanlah masalah. Kamu tahu, cinta tidak melulu berkaitan dengan harta. Aku dan Sultan itu sudah dijodohkan sejak kecil. Karena mama kita adalah sahabat baik dan papaku adalah asisten kepercayaan papanya Sultan dulu. Aku memang sangat mencintai Sultan dan selalu kagum padanya sejak dulu. Itulah mengapa aku setuju saat orang kita menjodohkan. Namun, tidak dengan Sultan." 


Nabila menjeda ucapannya untuk mengambil napas. Sementara Hanum masih tetap diam untuk mendengarkan. 


"Aku dituntut untuk sadar diri. Semakin aku mencoba menggenggam Sultan, tapi dia justru semakin menjauh dan aku tidak mampu menggapainya. Aku seolah ditampar oleh kenyataan bahwa bukan namaku yang tertulis jelas di hati Sultan, tapi kamu, Num. Hanum." 


"Nona ...." 


"Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk meluluhkan hati Sultan, tapi sepertinya aku harus menyerah. Bukan karena aku tidak sayang padanya, tapi aku hanya ingin dia meraih kebahagiaan yang jelas-jelas bukan denganku. Aku mohon padamu, Num. Bersatulah dengan Sultan agar dia bisa hidup bahagia. Karena kamulah kebahagiaan dia." 


Hanum tersentak ketika mendengar ucapan Nabila. Apalagi saat wanita itu menggenggam tangannya dengan erat dan menatapnya penuh memohon. Namun, Hanum pun menggeleng lemah setelahnya. "Nona, saya tidak bisa melakukan itu." 


"Kenapa? Bukankah kalian berdua saling mencintai? Kamu tenang saja. Aku dan Sultan akan bercerai. Aku sudah janji padanya akan melayangkan gugatan cerai setelah bisa membuat kalian bersatu. Jadi, haruskah aku bersujud memohon padamu agar kamu mau menuruti keinginanku?" tanya Nabila panjang lebar. 


"Jangan, Nona. Saya tidak mau melakukan hal itu karena memang tidak pantas. Saya tidak mau merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain. Walaupun saya bisa mendapatkan Sultan, tapi saya tidak mau jika seumur hidup saya dipenuhi kegelisahan," ujar Hanum. "Nona, apakah Anda tidak merasa bahwa apa yang Anda lakukan ada perbuatan yang bodoh? Maaf, kalau saya sudah membuat Anda tersinggung." 


Nabila melepaskan genggaman tangannya dan segera menatap ke depan untuk menghindari tatapan Hanum. "Aku emang bodoh. Aku tidak tahu kenapa bisa menjadi sebodoh ini hanya karena cinta. Aku hanya ingin melakukan apa yang kata hatiku minta. Termasuk melihat Sultan bahagia meski bukan denganku."


"Nona, berusahalah terus untuk menaklukkan hati Sultan. Saya yakin Anda pasti bisa." Hanum berusaha menyemangati. 


"Tidak. Aku sudah melakukan segala cara, tapi Sultan tetap tidak mau menatapku sebagai istri. Kamu tahu, baginya aku hanyalah teman masa kecil yang sangat ceroboh dan menyebalkan." Nabila terkekeh. 


Namun, Hanum bisa menangkap luka dari tawa wanita itu. 


"Sudahlah, aku mau pamit saja. Besok aku akan datang lagi untuk merayumu. Agar kamu mau menerima Sultan." Nabila bangkit dan hendak pergi, tetapi Hanum segera menahan wanita itu. 


"Nona, teruslah bertahan karena saya yakin, Anda bisa menaklukan hati Sultan. Lagi pula, saya tidak bisa melakukan itu, Nona. Saya ...." Hanum terlihat ragu-ragu, sedangkan Nabila terus menatapnya dengan tidak sabar. "Minggu depan saya akan menikah dengan pria pilihan orang tua saya, Nona."