BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 29



Mbok Iyah panik. Setelah melihat Sultan keluar rumah dengan raut wajah dipenuhi emosi, wanita paruh baya itu pun bergegas masuk kamar utama untuk melihat keadaan Nabila karena ia merasa cemas. 


Ia memang mendengar pertengkaran mereka tadi. Lebih tepatnya menguping sesuai dengan perintah Arga. 


Ketika sampai di ambang pintu, Mbok Iyah terkejut melihat Nabila yang sedang menangis sambil terus memijat pelipisnya. Wajahnya terlihat sangat pucat bahkan tatapannya tampak sayu. 


"Non," panggil Mbok Iyah. Namun, belum juga Nabila menjawab, ia sudah tidak sadarkan diri. Membuat Mbok Iyah makin kebingungan. "Nona ... bangun, Non." 


Mbok Iyah menepuk pipi Nabila untuk menyadarkan wanita tersebut. Namun, Nabila tetap bergeming dan tidak membuka matanya sama sekali. 


Mbok Iyah pun segera mengambil ponsel lalu menghubungi Arga untuk mengatakan semuanya. Setelahnya, ia menyuruh sopir pribadi di sana untuk membawa Nabila ke rumah sakit. 


Selama selama perjalanan, Mbok Iyah terus berusaha membangunkan Nabila. Wanita paruh baya itu bahkan terlihat akan menangis karena saking khawatirnya melihat keadaan Nabila. 


"Ya Tuhan, semoga Nona Nabila baik-baik saja." Mbok Iyam bergumam lirih. "Lebih cepat, Pak. Tuan Arga pasti hampir sampai di sana karena lebih dekat."


Sopir itu pun hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya lebih kencang lagi. 


***


"Arrgghhh!!! Brengsek!" 


Prang! 


Sultan melempar apa pun yang ada di kamar apartemennya. Untuk meluapkan segala emosi yang begitu membuncah di dada. Ia geram. Ia marah kepada Nabila. 


"Lu sialan, Na! Gue benci lu, Brengsek!" 


Lagi dan lagi bunyi pecahan terdengar saat Sultan sudah meninju kaca di kamar hingga pecah berantakan. Bahkan tangannya sudah berdarah, tetapi Sultan tidak peduli. 


Tubuhnya luruh ke lantai. Ia memejamkan mata untuk menghalau cairan bening agar tidak keluar dari sudut matanya. Ia tidak mau menangisi Nabila. Ia lebih pantas menangisi Hanum yang menyuruhnya untuk pergi dari kehidupan wanita itu, daripada menangisi istrinya yang menurutnya tidak bisa memegang janji.


"Lu emang brengsek, Na. Gara-gara lu gue kehilangan Hanum. Sial!" 


Napas Sultan tersengal. Ia benar-benar dipenuhi emosi dan ia merasa belum puas melampiaskannya. Ia pun hendak pergi ke klub malam untuk mencari kesenangan di sana. Melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapi. 


Ketika Sultan hendak pergi, ponselnya berdering dan terlihat nomor Mama Rasya.  Ia tahu, pasti Nabila sudah mengadu kepada wanita itu. Jadi, Sultan memilih untuk tidak menerima panggilan tersebut. Ia bahkan mematikan ponselnya begitu saja. 


Untuk saat ini, ia tidak mau berbicara atau bertemu dengan siapa pun. 


Ia ingin merenung dan menenangkan dirinya sendiri. 


***


"Mas, aku takut Nabila kenapa-napa." Zahra menangis dalam pelukan Arga.


Ia cemas dan khawatir kepada putrinya yang saat ini sedang diperiksa oleh dokter.   


Arga memeluk istrinya sangat erat. Berusaha untuk menenangkan wanita itu meskipun sebenarnya hatinya pun sedang bergejolak hebat. Ia pun sama khawatirnya dengan keadaan Nabila. 


"Kamu tenang saja. Nabila pasti baik-baik saja. Bukankah kamu tahu kalau putri kita itu anak yang kuat." Arga memejamkan mata. Ia menahan air matanya sekuat tenaga. 


Ia bukannya cengeng, tetapi jika menyangkut soal Nabila. Hatinya pasti akan lemah karena Nabila adalah putri kesayangannya. Wanita yang paling ia cintai setelah Zahra. 


"Bagaimana, Dok?" tanya Zahra tidak sabar. 


"Tidak apa, Nyonya. Anda tenang saja karena Nona Nabila hanya butuh istirahat. Demamnya tinggi, tapi saya sudah memberi obat tadi dan mungkin beberapa saat lagi demamnya akan turun," sahut dokter tersebut. Membuat Zahra dan Arga bernapas lega. 


Setelah sedikit mengobrol dengan dokter, kedua orang itu pun segera masuk untuk melihat keadaan putrinya. Zahra langsung menciumi wajah Nabila yang memang terasa panas. 


"Sayang, semoga cepat sembuh." Zahra kembali mencium kening Nabila. 


"Mama dan papa di sini," ucap Nabila lemah. Bibirnya terlihat sangat pucat. 


"Iya, Sayang. Tadi, Mbok Iyah telepon katanya kamu pingsan." Zahra menjawab sambil terus mengusap wajah Nabila. 


Dari sorot mata putrinya, Zahra bisa merasakan kalau ada beban yang sedang dirasakan oleh wanita itu. Namun, Zahra maupun Arga tidak mau membahasnya saat ini karena tidak mau membuat kondisi putrinya kian melemah. Kesembuhan Nabila sekarang adalah fokus utama. 


"Tidurlah, Sayang. Kamu harus banyak istirahat." Arga duduk di samping Nabila dan mengusap puncak kepala Nabila dengan lembut. 


"Pa, apa Papa menelepon Sultan kalau aku di sini?" tanya Nabila cemas. 


"Tidak. Lebih tepatnya belum," sahut Arga. Tatapannya ke arah Nabila penuh dengan kecurigaan. 


"Jangan bilang sama Sultan, Pa."


"Kenapa? Dia berhak tahu kondisimu karena dia adalah suami kamu, Na. Justru, seharusnya dia sekarang ada di sini. Bukan malah menghilang," kata Arga penuh emosi. Ia sudah tidak mau membahas ini, tetapi Nabila justru memancing-mancing. 


"Dia sedang sibuk, Pa. Aku tidak mau buat dia khawatir." 


"Sibuk apa? Sibuk bertemu dengan wanita lain? Sibuk memikirkan wanita lain hingga dia lupa pada istrinya. Bahkan, dia sudah membuatmu masuk rumah sakit seperti ini, Na." Ada penekanan dalam setiap ucapan Arga. 


Nabila tersentak. Ia tidak percaya bagaimana bisa sang papa bisa berbicara seperti itu. 


"Pa ...." 


"Kamu tahu, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menutupi semuanya dari papa. Untuk saat ini papa tidak mau membahas hal ini. Kamu harus fokus pada kesembuhanmu dulu," kata Arga. 


"Maafkan aku, Pa, Ma. Udah buat kalian khawatir." Nabila menghela napas panjangnya. 


"Sudah. Jangan dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu tidur. Kamu harus banyak beristirahat agar cepat pulih," kata Zahra lembut. 


Nabila mengangguk lemah lalu memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Setelah cukup lama terdiam dan mendengar dengkuran halus dari putrinya, Arga pun mengajak Zahra untuk keluar sebentar. 


"Aku harus pergi dulu. Kamu jagalah putri kita dengan baik," kata Arga. 


"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Zahra penasaran. 


"Kamu tidak perlu tahu akan ke mana aku pergi. Kamu tahu, aku sangat menyesal karena sudah menuruti ide bodoh kamu dan Nona Rasya untuk menikahkan Nabila dengan Sultan. Bukannya bahagia, putri kita justru menderita seperti itu. Apa kamu sudah puas melihat putrimu sakit seperti itu?" Arga berbicara lirih, tetapi penuh dengan penekanan dalam setiap kalimatnya. 


Zahra pun menunduk dalam karena ia merasa sakit ketika mendengar ucapan suaminya yang terus saja menyalahkan dirinya.


"Sejak dulu kamu selalu saja ceroboh dalam membuat keputusan." 


 "Maafkan aku, Mas."