BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 37



"Ke-kenapa lu ngomong gitu? Gue enggak keras kepala," tanya Nabila bingung. 


"Gue pengen lu enggak keras kepala. Lu dengerin gue baik-baik. Gue enggak akan ngejar Hanum. Gue ikhlas dia mau nikah sama pria pilihan orang tuanya karena gue sadar. Gue enggak akan bisa bersama dia." 


"Lu belum mencobanya, Sul. Lu harusnya utarain perasaan lu ke Hanum biar dia bisa nolak perjodohan itu," ujar Nabila. Benar-benar membuat Sultan merasa gemas dan ingin merem*s wanita itu. 


"Gue udah coba, Na. Gue udah ketemu Hanum kemarin dan yang ada, dia malah nyuruh gue biar terus pertahanin rumah tangga kita. Banyak hal yang dia omongin sampai buat gue akhirnya mikir. Sepertinya gue emang harus berhenti ngejar cinta Hanum. Karena rasa yang gue miliki buat dia itu bukan rasa cinta, tapi hanyalah sebatas kagum." Sultan mengembuskan napas panjang. Lalu menatap Nabila yang terlihat diam di tempat. 


"Tapi, Sul ...." 


"Sudah. Jangan bilang tapi-tapi, keputusan gue udah bulat. Gue bakal ngehapus nama Hanum dari hati gue dan belajar buat mencintai lu. Membangun rumah tangga yang bahagia dengan lu," kata Sultan. 


Mata Nabila tampak berkaca-kaca. Bahkan, ia menatap Sultan dengan tatapan tidak percaya. "Sul, apa gue lagi mimpi ya." 


"Enggak, lu enggak mimpi." 


Nabila menepuk pipinya dan memang terasa sakit. Ia pun menghempaskan tubuhnya dan bersandar jok mobil. 


"Kenapa?" tanya Sultan heran saat melihat wajah Nabila yang justru terlihat tidak bahagia. "Lu enggak suka kalau gue mau ngejar cinta lu?" 


"Bukan gitu, gue ngerasa bersalah aja. Karena gue lu harus pisah sama Hanum, karena gue Hanum jadi terpaksa menikahi pria ...." Nabila terdiam saat Sultan lagi-lagi memeluknya. 


"Udah lu diem. Jangan mrepet mulu. Sakit telinga gue dengernya. Mendingan sekarang kita perbaiki semuanya. Gue minta maaf karena udah enggak baik sama lu." 


"Lu 'kan emang enggak pernah baik sama gue selama ini. Selalu aja marah-marah enggak jelas," sela Nabila. 


Sultan berdecak kesal. "Lu emang beneran ganggu suasana romantis yang sedang gue bangun, ya." 


"Eh, lu lagi bangun? Emang kapan lu tidurnya, Sul. Lu juga mau ngapain buka jas gitu. Lu mau ngajak gue kawin di sini. Lu yang bener aja, Sul. Masa iya jebol perawan di mobil, enggak asik, lah," kata Nabila sedikit memundurkan tubuhnya karena Sultan sudah sangat dekat dengannya. 


"Mesum lu!" 


"Gue cuma mau nutupi tubuh lu. Emangnya elu enggak sadar kalau cuma pakai jubah mandi." Sultan melempar jas ke wajah Nabila karena merasa sebal dengan wanita itu. 


Nabila memeluk jas milik Sultan lalu melihat dirinya sendiri yang hanya memakai baju tidur. Bahkan, Nabila masih menggunakan sandal bergambar Dora yang biasa dikenakan di rumah. Tanpa merasa bersalah, Nabila menunjukkan rentetan gigi putihnya. 


"Gue lupa." 


"Dasar ceroboh. Sekarang kita pulang, gue enggak mau lu keluar dengan tampilan kaya gini." Sultan menghidupkan mobilnya lalu melajukannya pulang ke rumah. 


"Sul ...." Nabila terlihat ragu. Sultan melirik Nabila sekilas lalu kembali fokus pada setir kemudi. "Enggak jadi lah." 


Nabila menggaruk tengkuknya kasar karena merasa bingung juga mau bicara apa. Namun, tiba-tiba Sultan menghentikan mobilnya lagi hingga membuat Nabila merasa geram kepada lelaki itu. 


"Apaan lagi, sih. Astaga. Jangan bilang lu jadi ngejar Hanum," tukas Nabila. 


Akan tetapi, Sultan tidak menjawab apa pun. Ia justru melihat lengan Nabila dan melihat bekas darah di sana. Nabila pun menyingkap jubah mandi tersebut dan memang ada luka di lengan istrinya. 


"Ini kenapa?" tanya Sultan penuh selidik. 


"Jatuh barusan pas gue lari mau nyari lu." Nabila meniup perlahan luka itu. 


"Lu emang ceroboh banget, ya," protes Sultan. 


"Gue bukan cuma ceroboh banget, tapi gue juga cinta banget sama lu. Hihihi." Nabila cekikikan, sedangkan Sultan memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyumnya. "Cieee, ge-er nih, ye. Ihiiir!!" 


Sultan sungguh ingin sekali menelanjangi istrinya yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Bisa-bisanya, Nabila tidak merasa bersalah sudah membuat Sultan tersipu seperti itu.