BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 67



"Bima Sultan Andaksa! Bisulan!" Suara Nabila terdengar memekik telinga padahal Sultan ada di sampingnya. Mendengar teriakan itu, seketika Sultan menoleh dan menajamkan tatapannya kepada istrinya yang sangat menyebalkan. Ya, walaupun ia sayang, sih. 


"Lu ...." 


"Mas Sultan," ucap Nabila manja bahkan tanpa malu mencium pipi Sultan dengan sangat lama. 


Ahh, ini yang membuat Sultan tidak bisa berlama-lama marahan dengan istrinya. 


"Apa? Katakan saja kalau kamu mau sesuatu," tebak Sultan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Nabila sejak hamil. 


"Aihh, suamiku ini emang pintar sekali. Aku mau ... seblak. Haha."


"Ya Tuhan, apa kamu tidak bisa menginginkan makanan lain selain seblak, cilok, dan, batagor. Ini udah tahun ke berapa dan seblak masih jadi primadona." 


"Stop!" Nabila mencium bibir Sultan dengan tiba-tiba. Membuat lelaki itu terpaku. "Kamu bicara atau ceramah. Panjang sekali." 


Dengan manjanya, Nabila duduk di atas pangkuan Sultan bahkan ia sengaja menggoyangkan bokongnya perlahan hingga membuat Sultan merasa tidak karuan. 


Ada yang berdiri menantang, tapi bukan keadilan. Haha. 


Nabila rasanya ingin tergelak ketika melihat wajah suaminya yang terlihat lucu karena menahan sesuatu. Namun, ia tidak mau mendapat hukuman jika ketahuan sedang meledeknya. 


"Sudah lama sekali tidak ada seblak. Jadi, aku rindu. Seperti Dylan. Ah, bukan Dylan, tapi seperti aku bila jauh darimu, Bisulan Sayang." Nabila berbicara dibuat seerotis mungkin. Dengan gaya secentil mungkin. 


Sungguh, Sultan tidak bisa menahan diri jika Nabila terus saja seperti ini. benar-benar tidak baik untuk kesehatan adik kecilnya. 


"Ya sudah. Aku akan belikan kamu seblak, tidak pedas. Ingat, seharusnya kamu itu makan yang ...." 


"Ya, aku nurut dan kamu berhentilah ceramah. Sekarang kita berangkat." Nabila turun dari pangkuan suaminya dan langsung memakai jaket. 


Awalnya Sultan tersenyum senang karena tanpa disuruh, Nabila sudah mengerti bahwa ia harus menjaga dirinya. Termasuk memakai jaket jika pergi malam-malam seperti ini. Namun, ketika Nabila mengatakan bahwa ia ingin naik motor, seketika membuat Sultan berdecak kesal. 


Menolak? Tentu saja Sultan ingin menolak dengan tegas, tetapi sekali lagi bahwa perintah Bumil Rempong satu itu, tidak dapat diganggu gugat. Jika tidak dipatuhi maka Sultan harus bersiap tidur di luar. Iya kalau luar kamar masih mending, ini luar rumah, Bestie.


Kejam bukan? Haha anggap saja itu balasan buat Sultan karena dulu sudah membuat Nabila jungkir-balik. 


"Malam-malam seperti ini, emang ada penjual seblak?" tanya Sultan. 


"Apa?" Nabila bertanya keras hingga membuat Sultan berdecak kesal. "Ngomong yang keras. Aku enggak denger kamu ngomong apa." 


"Enggak jadi." Sultan malas sekali. 


"Sugar Daddy? Di mana?" Telinga Nabila sungguh sangat bermasalah. "Di mana Sugar Daddy? Kenapa aku enggak lihat?"


Sultan diam saja. Tidak menanggapi istrinya yang celingukan mencari sosok sugar Daddy. Tiba-tiba Sultan mengerem mendadak karena Nabila menyuruhnya berhenti tiba-tiba. Bahkan, Sultan merasakan hangatnya dua bukti kembar yang ukurannya mulai membesar, terasa menekan punggung. 


Stop, oe! Tahan diri. 


"Kenapa, sih?" tanya Sultan berbalik. 


"Itu penjual seblak. Ayo kita ke sana." Nabila menunjuk warung kecil di pinggir jalan. Memang ada tulisan jual seblak yang besar dan dicetak tebal. Sultan pun menurut dan menuju ke sana. 


Namun, ketika sampai di sana bukan seblak yang dijual oleh orang itu melainkan gorengan anget seribuan. Beli sepuluh ribu gratis cabai tiga biji. 


Yaelah. 


"Mana seblaknya?" tanya Nabila. 


"Maaf, Non. Kami tidak jual seblak. Kita jual gorengan saja," sahut penjual itu santai dan tanpa rasa bersalah. 


"Loh, kok tulisannya seblak?" Nabila mulai kesal. 


"Oh, itu saya ambil banner dari mantan penjual seblak, Non." 


Sungguh, penjual itu tidak ada rasa bersalah sama sekali. Tetap santai meskipun apa yang ia promosikan tidak sesuai dengan apa yang ia jual. Akhirnya, Nabila pun mengajak Sultan pergi dari sana dengan penuh kekesalan. 


Langkah Nabila menghentak dan Sultan tahu bahwa suasana hati istrinya sudah memburuk. Sultan pun harus berusaha keras untuk merayunya setelah ini.


Apakah memang wanita hamil itu menyebalkan? Sangat sensitif dan mudah sekali tersinggung. Yang Sultan tahu, dulu istrinya tidak 'ngambekan' seperti ini. Namun, sekarang wanita itu sungguh sangat menguji kesabarannya yang kadang setipis tisu.