BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 71



Ketika istri sedang ngidam, suami dituntut untuk sabar. Bahkan harus sangat sabar karena tingkat kerempongan wanita hamil itu berbeda-beda. Seperti Sultan yang benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra karena selama hamil, istrinya ini sangat 'merepotkan'. Ada saja yang diminta oleh wanita itu dan selalu saja aneh-aneh. Sultan bahkan terkadang merasa kalau ini semua balasan untuknya karena dulu sering membuat Nabila menangis. 


Namun, seberapa kesal pun perasaan Sultan, ia akan merasa bahagia apabila melihat istrinya tersenyum bahagia ketika permintaannya dituruti. Seolah menjadi penyembuh segala rasa kesal itu. 


Nabila dan Sultan kini sedang berada di rumah sakit untuk melakukan USG. Untuk melihat perkembangan calon Bisulan Junior. Rasanya mereka begitu terharu ketika melihat janin itu sudah terbentuk dengan sempurna. 


Sultan bahkan menciumi perut Nabila berkali-kali sambil sesekali menyapa. Seolah mengajak bicara calon buah hatinya tersebut. Perlakuan Sultan pun kian membuat Nabila merasa bahagia. Ia tidak menyangka akan dicintai oleh Sultan sampai seperti ini. 


Setelah melakukan USG, Sultan pun mengajak Nabila ke kantor karena ia memiliki pertemuan penting. Tidak mungkin Sultan mengantar Nabila terlebih dahulu karena itu akan membuatnya terlambat, sedangkan membiarkan Nabila pulang dengan orang lain, lelaki itu pun tidak tenang. 


Ketika suaminya pergi menemui klien, Nabila dengan santai duduk di sofa. Wanita berperut buncit itu rebahan di sana. Menunggu suaminya selesai melakukan pertemuan. Tidak peduli kalaupun ada orang masuk ke sana. Ia tampak sibuk bermain ponsel sambil berbalas pesan. 


Siapa lagi kalau bukan dengan Ariel. Sudah lama sekali Nabila tidak bersua dengan lelaki itu. Termasuk kabar Ariel yang sudah jadian dengan Jeje membuat Nabila merasa sangat senang dan terus saja mengucapkan selamat kepadanya. 


"Gimana keadaan ponakan gue, Na?" tanya Ariel saat ini panggilan itu sudah beralih menjadi panggilan video. Dari layar tampak Ariel yang terus saja menatap Nabila. 


Ya, walaupun tatapan itu hanyalah sebatas tatapan biasa karena Ariel benar-benar sudah menghapus nama Nabila dari hatinya. Bagi Ariel sekarang hubungan mereka hanyalah sahabat tidak lebih. Ariel sudah bertekad akan mencintai Jeje sebisa mungkin tanpa membawa masa lalu dalam hubungan mereka. 


"Baik pastinya, dong. Dia kalau lahir bakalan cakep kayak  bapaknya," sahut Nabila antusias. 


"Ya iyalah, kalau mirip gue, bisa-bisa ntar Sultan mukul gue. Dikira gue ikutan nabung." Ariel tergelak, sedangkan Nabila sudah mengerucutkan bibir karena kesal pada ucapan lelaki itu. 


"Eh, Riel. Sekali lagi selamat ya, akhirnya lu enggak jomblo lagi. Ngomong-ngomong, kapan lu nikah?" tanya Nabila penasaran. 


"Doain secepatnya. Gue masih pengen menikmati hubungan ini dulu, Na. Belum mau terburu juga. Cuma, kalau Jeje udah kebelet kawin, ya gue bakal langsung lamar dia. Jangan sampai gue ditinggal nikah lagi," kata Ariel, menyindir dirinya sendiri. 


"Gue doain moga kalian cepet ...." 


Ehem! 


Nabila tersentak ketika mendengar suara dehaman dari arah belakang. Bahkan, Ariel pun tampak terkejut dengan kehadiran Sultan. 


"Buat apa lu hubungi istri gue?" tanya Sultan setengah membentak. Walaupun hubungan Sultan dan Ariel sudah baikan, tetapi semua tidak lagi seakrab dulu. Sultan tetap berjaga-jaga karena khawatir Ariel masih akan merebut istrinya. 


"Astaga. Galak amat lu, Sul. Tenang aja, gue enggak akan ngrebut bini lu." Ariel berbicara disertai senyuman miring. Sultan tidak menyahut, hanya mendengkus kasar sebagai tanggapan. 


Belum juga Ariel berbicara, Sultan sudah mematikan panggilan tersebut bahkan ia langsung memasukkan ponsel Nabila ke dalam saku jasnya. Nabila tidak merengek atau meminta ponselnya kembali karena ia tidak ingin membuat suaminya marah apalagi salah paham. 


"Sudah puas teleponan sama pria lain. Nungguin suami kerja, bukannya anteng main ponsel malah asyik teleponan," kata Sultan kesal. 


"Kamu itu harusnya ...." 


"Aku mau ice cream," kata Nabila. Menyela ucapan Sultan. Membuat lelaki itu bungkam seketika. 


Mulai resah. Mulai gelisah. Ahh ... sabar, Sul. 


"Baiklah. Kita beli sekarang," ajak Sultan. Ia lebih memilih untuk menuruti keinginan wanita itu daripada menolak akan membuat moodnya memburuk, dan ia yakin pasti akan sangat susah untuk membujuknya. 


Nabila dengan antusias pun langsung turun dari sofa. Menggandeng tangan suaminya dan bergegas pergi menuju ke kedai ice cream. Bayangan ice cream vanila dengan lelehan coklat kacang sungguh sangat menggoda lidah Nabila. Rasanya, wanita itu sudah tidak sabar ingin segera menikmatinya.


Kekesalan Sultan seketika lenyap ketika melihat Nabila yang sedang antusias menikmati ice cream tersebut. Bahkan, Sultan pun ikut menikmati ice cream itu karena Nabila terus menyuapinya dan sekali lagi, ia tidak bisa menolak. 


Sepulangnya dari kedai, mereka langsung menuju ke rumah Rasya karena sudah lama sekali mereka tidak ke sana. Kedatangan mereka sangat disambut oleh wanita itu. Bahkan, Rasya terus saja menciumi pipi anak menantunya. 


"Gimana kehamilan kamu, Na?" tanya Rasya. Mengusap perut Nabila dengan gemas. 


"Baik-baik saja, Ma. Bahkan, sekarang sudah mulai menendang-nendang." Nabila bercerita dengan antusias. Bagaimana calon Bisulan Junior itu sangat aktif di perutnya. 


"Syukurlah. Semoga sehat selalu dan lancar sampai persalinan," doa Rasya. Baik Nabila maupun Sultan pun mengamini doa tersebut. 


"Kak Nabila!" pekik Kayla. Gadis itu terlihat sangat bahagia ketika melihat keberadaan Nabila di sana. Setelah mencium pipi Nabila, Kayla pun langsung mengusap perut ibu hamil itu. "Ah, keponakanku." 


"Kay, kalau mama hamil lagi boleh tidak. Biar kamu punya adik dan tidak mengeluh kesepian," celetuk Rasya. Membuat Kayla menatap kesal kepadanya. "Kenapa kamu menatap mama seperti itu? Jangan khawatir, mama masih kuat mengejan dan papamu masih kuat meng—"


Ucapan Rasya terhenti karena Pandu sudah membekap mulut wanita itu. Ia tidak mau jika istrinya berbicara keceplosan. Rasya pun terkekeh lalu mencium pipi Pandu untuk meredam kekesalan lelaki itu. 


***


"Ah, aku capek sekali, Mas." Nabila mengeluh saat mereka baru saja masuk kamar. 


"Makanya, kamu itu terlalu aktif. Jangan terlalu lelah, kasihan anak kita." Sultan mengomel, tetapi tangannya mengusap punggung wanita itu. 


Nabila pun memejamkan mata sampai tidak terasa, ia benar-benar terlelap. Mendengar dengkuran halus dari istrinya, Sultan langsung menyelimuti wanita itu lalu tidur di sampingnya. 


Sultan menghela napas panjang. Menatap langit-langit kamar sambil memikirkan Nabila. Selama ini ia diam, tetapi sebenarnya ia kepikiran soal proses kelahiran calon buah hatinya. Jujur, Sultan cemas ketika mendengar cerita bahwa melahirkan itu sangatlah sakit bahkan nyawa yang jadi taruhannya. Namun, lelaki itu berusaha terlihat tenang di depan istrinya karena tidak mau membuat Nabila merasa khawatir. 


Semoga istri dan calon anakku diberi keselamatan. Ya Tuhan, aku mohon lindungilah mereka.