BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 45



"Aahhh, badan gue capek semua." Nabila menggeliat saat baru saja bangun tidur. Ia belum menyadari bahwa di sampingnya ada sesosok manusia yang juga baru saja membuka mata karena mendengar suaranya. "Orang nangis ternyata menguras tenaga juga. Cuma nangis, tapi capeknya berasa kayak habis bercinta seratus ronde."


Ia cekikikan sendiri. Melupakan sesaat rasa sakit dan khawatir akan kabar dari Sultan. Namun, saat ia menyadari bahwa Sultan belum ditemukan, Nabila sontak duduk tegak. Bahkan, hal itu pun membuat Sultan yang barusan hendak kembali terlelap, ikut tersentak kaget. 


"Ya Tuhan, bagaimana bisa gue ngelupain kabar Sultan. Gimana dia, udah ditemukan belum ya." Nabila terlihat tergesa dan hendak turun dari ranjang, tetapi ia terpaku ketika merasakan ada seseorang yang mencekal tangannya. 


Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, ia menoleh dan terkejut melihat Sultan yang terlihat tampan dengan muka bantalnya. Melayangkan tatapan tajam ke arahnya. 


"Lu mau ke mana?" tanya Sultan. Suaranya serak khas orang bangun tidur. Namun, bukan jawaban yang diterima oleh Sultan melainkan teriakan Nabila yang begitu memekakkan telinga. 


"Ma! Ada arwah Sultan di sini, Ma! Tolong, Ma!" Nabila berteriak keras dan turun dari kasur. Ia pun hendak membuka pintu, tetapi ternyata dikunci. Berkali-kali ia mencoba memutar handel, tetap saja tidak terbuka. 


Pintunya dikunci, Bodoh! Haha.


Wajah Nabila terlihat sangat gugup hingga keringat dingin membasahi dahi. Sialnya lagi, entah karena gugup atau apa, tangannya mendadak licin dan ia kesusahan memutar kunci itu. 


"Ya Tuhan. Ma! Buka pintunya, Ma!" Nabila menggedor pintu tersebut. Namun, ia terkejut ketika Sultan sudah mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang lagi. Bahkan, tubuhnya yang ringan dihempaskan begitu saja di ranjang. 


"Ah, sakit. Jangan ganggu gue, plis." Nabila menangkup kedua tangan di depan dada sambil terus memohon. "Gue emang kangen sama suami gue, tapi gue enggak mau kalau yang dateng arwahnya." 


"Sialan! Jadi lu pikir gue ini arwah gentayangan?" tanya Sultan penuh penekanan. Nabila pun mengangguk cepat tanpa pikir panjang. Melihat itu, Sultan justru tersenyum licik.


Ia memiliki ide yang menurutnya sangat briliant. 


"Tolong, ampuni gue, Mas Arwah. Gue janji enggak akan kabur-kabur dari lu, Sul. Tapi, gue mohon, lu balik ke tubuh Sultan ya, gue enggak mau Sultan mati cepet. Gue belum ngerasain malam pertama sama dia," kata Nabila tanpa berani mengangkat kepala. 


Sultan rasanya kesal sekali kepada istrinya, tetapi ia berusaha menahan semuanya. "Gue ini emang mau ngasih pembalasan buat lu. Hahaha." 


Tawa Sultan seperti orang gila hingga membuat Nabila bergidik ngeri. 


"Sayangnya yang gue mau enggak cuma itu. Hahaha. Lu harus turuti kemauan gue biar gue bisa balik ke tubuh Sultan lagi," kata Sultan. Dalam hatinya sudah tergelak keras akan kebodohan istrinya. 


"Kemauan apa lagi, sih? Arwah kok banyak maunya," cebik Nabila mulai kesal. Namun, ia langsung mengiyakan ketika melihat Sultan yang sudah mendelik tajam. Seperti akan membuat bola mata lelaki itu lepas dari tempatnya. 


"Gue mau lu jauhi, Ariel. Turuti semua kemauan gue. Beri gue perhatian dan yang jelas ...." 


"Yaelah, banyak banget sih. Yo ndak mampu aku, dudu spek idamanmu. Nuruti karepmu ...." 


"Gue enggak suruh lu nyanyi!" timpal Sultan ketus. 


"Ya sorry. Habisnya kemauan lu banyak banget, sih. Ada ya, arwah kok yang diminta macem-macem, udah kek pembeli rempong aja." Nabila mulai terlihat santai. Tidak setegang tadi. 


Yang tegang justru adik kecil Sultan yang menantang karena melihat posisi Nabila yang ngangkang. Eh keceplosan. Hahaha. 


"Ya udah. Gue cuma mau satu, puasin gue!" Sultan membuka kemeja yang dikenakan hingga terpampanglah perut kotak enam. Nabila pun sampai melongo bahkan ngiler saat melihatnya. 


"Eh, ternyata arwah doyan nina-ninu juga ya? Kupikir kagak." Nabila tergelak keras. Namun, ia terdiam seketika saat Sultan sudah menindihnya. Membuat jantung wanita itu berdebar kencang rasanya.


Bibir Nabila terkatup rapat, tidak mampu berkata-kata apalagi saat tatapan Sultan begitu dalam padanya. Membuatnya serasa lumpuh dan luluh oleh lelaki itu. Bahkan, Nabila sudah siap jika Sultan akan mengobrak-abrik keperawanannya. 


Yaelah, bahasanya. Haha. 


Nabila lupa, masih ada palang merah yang membentang luas hingga menciptakan jarak saat mereka akan melakukan percintaan panas. 


"Eh, tunggu dulu. Kenapa gue ngerasa tubuh lu anget banget, kayak masukin jari ke pantat ayam, sih," celetuk Nabila. Sultan ingin tertawa, tetapi ia berusaha meredamnya.