
Ariel merenung. Memikirkan semuanya. Ia tidak menyangka jika sang mama pernah dekat dengan calon mertuanya. Bahkan, hubungan mereka tidak terlalu baik. Perasaan Ariel pun tidak karuan. Namun, ia merasa yakin pada dirinya sendiri bahwa ia sudah bisa melepaskan Nabila. Ia hanya menganggap wanita itu hanya sebatas sahabat, tidak lebih dari itu.
Lelaki itu terus saja memikirkan banyak hal sampai akhirnya ia mengambil ponsel dan menghubungi Jeje. Mulai sekarang, hanya wanita itu yang bisa menjadi obat setiap kegelisahan hatinya.
"Je, lu lagi apa?" tanya Ariel lirih.
"Baru mau tidur. Kenapa? Kangen lagi?" goda Jeje.
Ariel tersenyum apalagi saat mendengar kekehan dari sang kekasih. Rasa gelisah yang ia rasakan, kini sirna sudah. Sungguh, Jeje benar-benar ampuh sebagai segala pereda.
"Je, lu siap-siap, ya." Ariel tampak ragu, sedangkan Jeje justru bingung.
"Kenapa? Siap-siap buat apa? Jangan membuatku takut, Riel!"
"Ye, lu mau gue lamar malah takut. Gimana, sih! Minggu depan gue bakal ngelamar lu. Gue udah yakin sama perasaan gue buat milih lu. Hanya ada lu di hati gue, Je."
Ariel berbicara penuh ketegasan. Ia tidak tahu jika dari seberang sana, Jeje sedang berusaha menahan air mata haru. Ia memang tidak meminta Ariel untuk segera melamar karena ingin memastikan perasaan Ariel. Ia pun baru akan menerima Ariel jika lelaki itu sudah benar-benar bisa menghapus perasaannya untuk Nabila.
Seperti sekarang ini, Jeje merasa sangat bahagia karena akhirnya Ariel mau meminangnya. Rasanya sudah tidak sabar ingin menjalani hubungan yang lebih serius dengan lelaki itu. Tanpa berpikir panjang, Jeje pun langsung mengiyakan dan akan mempersiapkan semuanya.
***
"Kamu sudah yakin pada perasaanmu?" tanya Zety. Ariel menatapnya jengah apalagi ini bukanlah pertama kali sang mama memberikan pertanyaan seperti itu.
"Ma, sudah berapa kali Mama bertanya seperti itu? Aku sudah yakin, Ma. Aku benar-benar memilih Jeje." Ariel menjawab dengan penuh ketegasan. Tanpa keraguan sedikit pun.
"Kalau papa setuju saja. Papa justru senang jika kamu langsung menjalani hubungan yang serius seperti ini. Minggu depan, papa akan melamar Jeje untukmu dan semoga semua berjalan lancar," kata Kiano. Menengahi pembicaraan di antara anak dan istrinya.
"Terima kasih banyak, Pa."
Kiano pun bergegas ke kamar disusul oleh Zety. Sesampainya di sana, lelaki itu menatap istrinya dengan tatapan yang susah dijelaskan. Bahkan, tanpa berbicara apa pun, ia langsung menarik tubuh istrinya masuk dalam dekap eratnya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Zety bingung.
"Tidak papa." Kiano menjawab singkat, tetapi ucapan itu penuh dengan makna.
"Jangan khawatir. Aku dan Mas Gatra sudah sama-sama bahagia dengan jalan kita masing-masing. Aku tidak mungkin menggantimu dengan lelaki mana pun. Aku dan Mas Gatra hanyalah sebatas kisah masa lalu yang cukup menjadi kenangan." Zety membalas tatapan Kiano. Ia tahu, apa yang membuat suaminya segelisah itu.
Apalagi kalau bukan rasa takut kehilangan.
"Terima kasih. Maaf, aku masih saja meragukanmu padahal kamu sudah mencintaiku sampai sedalam ini," ucap Kiano merasa bersalah.
"Ya. Tidak apa. Aku cuma mau minta sama kamu, Mas. Kalau Jeje dan Ariel jadi menikah, aku ingin jangan membawa masa lalu kita pada mereka. Jeje dan Ariel saling mencintai jadi biarkan mereka menjalani bahtera rumah tangga yang bahagia tanpa campur tangan masa lalu orang tuanya," nasehat Zety.
Ah, sungguh Kiano makin cinta dengan istrinya. Wanita itu sungguh sangat bisa berpikir dewasa. Setelahnya, mereka pun beristirahat.
***
Acara lamaran Jeje dan Ariel berjalan dengan lancar dan pernikahan kedua orang itu akan dilangsungkan dua bulan ke depan. Sekarang ini, Ariel sedang memilih gaun pengantin bersama Jeje.
Sungguh, lelaki itu bisa memperlakukan Jeje dengan sangat baik dan penuh cinta. Menuruti apa pun keinginannya dan jika ada yang tidak pas, maka kedua orang itu akan saling berdiskusi.
"Kak Ariel!" Suara Nesya yang cempreng mengalihkan perhatian calon pengantin itu.
"Kamu enggak manggil aku?" sindir Jeje kesal. Walaupun ia tidak benar-benar kesal dengan sepupunya.
"Buat apa? Aku cuma kangen sama Kak Ariel." Nesya mengibaskan rambut dengan gaya centil. Membuat Jeje mendengkus kasar.
"Kalian pasti lagi milih baju pengantin, ya? Aku juga mau dong." Nesya mengaduh saat Jeje sudah menonyor kepalanya cukup kencang hingga hampir terjengkang.
"Buat apa? Kamu mau nikah juga?" tanya Jeje sinis.
"Iyalah. Emangnya Kak Jeje doang yang mau nikah? Aku juga maulah." Nesya sama sekali tidak takut.
"Mau nikah sama siapa? Kuliah aja baru mau lulus," kata Jeje setengah ketus.
"Sama Kak Ariel, lah. Tidak apa Kak Jeje jadi istri pertama, aku jadi istri kedua. Aku ikhlas, Kak." Nesya tampak berusaha menahan tawa ketika melihat Jeje yang sedang menahan kekesalan.
"Nesya! Dasar nyebelin!" pekik Jeje. Geram.
Bukannya takut atau meminta maaf, Nesya justru tergelak keras. Begitu pun dengan Ariel yang hanya menggeleng melihat tingkah mereka.
Akhirnya, acara pemilihan baju pengantin itu pun tidak berjalan lancar karena Nesya selalu mengganggu dan gadis itu sangat tahu bagaimana cara membuat Jeje kesal.
Anggap saja ini adalah balasan dari Nesya untuk Jeje karena sudah menggaet hati Ariel. Namun, setelah ini Nesya akan benar-benar mendoakan semoga kakak sepupunya hidup bahagia dengan lelaki idamannya.