BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 13



Hari ini adalah hari yang sakral untuk Nabila dan Sultan. Acara ijab kabul akan dilangsungkan jam sepuluh nanti, dan saat ini Sultan masih berada di perjalanan menuju ke tempat acara bersama dengan keluarganya. 


Begitu juga dengan Nabila yang sudah terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih. Riasan wajahnya tidak terlalu menor, tetapi mampu menampilkan aura kecantikan yang alami. Walaupun masih ada keraguan, tetapi baik Nabila atau Sultan akan bersikap seperti biasa di depan tamu undangan. Mereka sudah sama-sama berjanji tidak akan mempermalukan orang tua mereka. 


"Senyum, dong, Sayang. Jangan diem gitu," kata Zahra. Memegang kedua bahu putrinya dan menatapnya lekat. 


"Ihh, Ma. Aku enggak pede harus dandan kayak gini. Kelihatan kayak ondel-ondel enggak, sih, Ma." Nabila menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memang terlihat cantik, tetapi Nabila merasa tidak percaya diri karena ia jarang berdandan seperti itu. 


"Justru kamu itu terlihat seperti seorang putri, Sayang. Aku yakin kalau Sultan akan tergila-gila sama kamu. Mama yang cewek aja sampai kesemsem," puji Zahra. Membuat rona di wajah Nabila kian jelas terlihat. 


"Sudah selesai?" tanya Arga yang baru bergabung bersama mereka. 


"Sudah, Pa. Lihatlah putri kita." Zahra dengan bangga menunjukkan Nabila. Senyum Arga pun mengembang sempurna dengan gegas mencium puncak kepala gadis itu sangat dalam. 


Nabila terdiam karena ia merasakan sebuah perasaan lain. Jantungnya terasa berdenyut apalagi ketika melihat sorot mata Arga yang justru terlihat sendu. 


"Papa baik-baik saja? Kenapa Papa justru terlihat sedih? Apa Papa tidak ikhlas kalau aku menikah dengan Sultan?" cecar Nabila. Dengan gemasnya Arga kembali mencium puncak kepala putrinya. 


"Tidak. Papa hanya belum percaya sebentar lagi harus jauh dari kamu. Papa tidak bisa lagi bebas memelukmu karena kamu sudah memiliki suami. Papa tidak yakin—"


"Mas, sudah. Jangan dibahas hal itu. Aku tidak mau Nabila menangis dan ia harus dirias lagi. Ingat, lima belas menit lagi acara dimulai." Zahra berusaha mengingatkan. Sejujurnya hati wanita itu pun merasa berat, tetapi Zahra berusaha terlihat biasa saja karena memang tidak ingin membuat putrinya kepikiran. 


"Baiklah. Ayo kita ke sana. Sultan dan Tuan Pandu sudah menunggu." Arga menyuruh Nabila dan Zahra menggandeng tangannya. Sementara Andreas—adik Nabila—menunggu di depan ruangan.


Keempat orang itu menjadi pusat perhatian ketika masuk ke ruangan tempat acara. Semua mata tertuju pada mereka termasuk Sultan dan keluarganya yang sudah bersiap di tempat yang akan digunakan untuk ijab kabul. 


Nabila merasa gugup. Dalam hati mengagumi ketampanan Sultan dalam balutan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun yang dikenakan. Bahkan, ia menyadari tatapan Sultan yang begitu intens kepadanya. 


"Kak Nabila, cantik sekali. Aku sampai pangling," puji Kayla. Nabila hanya menanggapi dengan senyuman simpul karena ia masih merasa sangat gugup. 


Setelahnya, Nabila dan Arga menuju ke meja yang akan menjadi saksi bisu pernikahan sakral itu, sedangkan Zahra bergabung bersama sahabatnya geng Somplak. Ada Rasya, Zety, Margaretha, dan Agnes bersama para suami mereka. Sementara anak-anak mereka pun berkumpul dalam meja yang sama. 


"Ehem! Mohon perhatiannya semua." Suara penghulu terdengar menggelegar hingga membuat suasana di ruangan tersebut hening begitu saja. "Acara akan segera dimulai." 


Penghulu itu pun memberi beberapa patah kata sebelum acara ijab kabul dimulai. Setelah mereka berkata siap, Sultan pun langsung berjabatan dengan Arga. Kedua lelaki itu sama-sama gugup. 


"Bismillahirrahmanirrahim." Arga menghirup napas dalam sembari memejamkan mata.


"Saudara Bima Sultan Andaksa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Nabila Kanesh Dalila binti Arga Pradaya Aziel, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan perhiasan sebesar seratus gram, dibayar tunai!" 


"Saya terima nikah dan kawinnya Nabila Kanesh Dalila binti Arga Pradaya Aziel, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Sultan dalam satu tarikan napas. 


Disusul kata sah dan ucapan syukur. Ruangan itu dipenuhi air mata haru. Termasuk Nabila yang berusaha keras menahan air mata agar tidak mengalir. Mulai detik ini, Nabila sudah sah menjadi istri Sultan, dan ia berharap hidupnya akan bahagia setelah ini meskipun ia merasa harapannya itu terlalu tinggi. 


"Sul, om sangat berharap kamu tidak akan pernah menyakiti Nabila. Kalau memang kalian tidak cocok nantinya, kamu bisa kembalikan Nabila kepada om tanpa harus menyakitinya. Om akan menerima Nabila kembali dengan tangan terbuka," bisik Arga.


 Sultan terpaku, pesan itu seperti sebuah isyarat. Dengan berat Sultan mengangguk mengiyakan. Namun, ada rasa gelisah yang Sultan rasakan. 


Kenapa Om Arga berbicara seperti itu. Apakah Om Arga tahu tentang hatiku yang sebenarnya berat menjalani pernikahan ini? Batin Sultan tidak tenang. 


***


"Aah, Kak Sultan dan Kak Nabila kenapa romantis sekali. Besok kalau kita menikah juga pasti akan seperti ini, 'kan, Kak?" Nesya—putri sulung Margaretha, seumuran Kayla— menatap menggoda ke arah Ariel yang sejak tadi terpaku di tempatnya dan sibuk menatap pengantin baru. 


Andai hati bisa berbicara di depan umum, pasti semua orang tahu kalau Ariel sedang patah hati saat ini. Ia tidak menyangka jika kisah cinta yang selama ini ia bayangkan bersama Nabila hanyalah sebatas kisah mimpi yang tidak akan jadi nyata. Bahkan, kisah cinta Ariel harus kandas sebelum terjalin. 


"Kak Ariel!" 


Ariel tersentak saat Nesya sudah menepuk bahunya cukup kencang. Membuyarkan lamunan itu kala itu juga. 


"Apa, sih, bocil! Cerewet banget," cebik Ariel kesal. 


"Nes, jangan ganjen, oe! Dimarahi Om Andra ntar lu," Telunjuk Kayla mengarah pada Nesya dan langsung ditepis oleh gadis itu. 


"Apaan, sih, lu, Kay!" 


Mereka terdiam ketika melihat Ariel sudah bangkit berdiri dan pergi dari sana begitu saja. 


"Eh, Kak Ariel kenapa?" tanya Nesya setengah berbisik. 


"Patah hati kali," balas Kayla santai. Yang lain hanya menggeleng tanpa ada yang berniat mengejar Ariel. 


Memilih untuk pergi dari tempat itu, Ariel menuju ke taman belakang. Ia tidak sanggup jika terus berada di sana karena hatinya akan kian merasa sakit. Ariel mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku dan membukanya secara perlahan. 


"Mungkin kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama, Na. Semoga lu bahagia dengan Sultan." 


Ariel merem*s kotak itu cukup kuat seolah akan meremukkannya. Namun, sepersekian detik selanjutnya, lelaki itu mengembuskan napas panjangnya. 


"Aargghh!! Gue benci perjodohan!" teriaknya lantang. 


"Jangan berteriak karena itu sangat mengganggu. Kamu terlihat seperti orang yang sedang patah hati." 


Ariel terkejut ketika mendengar seseorang berbicara di belakangnya. Ia pun berbalik setelahnya.