BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 14



Ariel memasang wajah tidak bersahabat ketika harus berhadapan dengan Jeje. Putri sulung Agnes yang sangat menyebalkan baginya. Bahkan, tidak jarang mereka terlibat perdebatan setiap bertemu. 


"Diamlah. Buat apa lu dateng ke sini? Dan gue sangat benci senyuman lu yang menyebalkan itu," ucap Ariel ketus. Ia berdiri membelakangi Jeje. 


"Aku sengaja datang untuk melihat pertunjukan. Seorang lelaki patah hati karena ditinggal menikah oleh wanita yang dicintainya. Bahkan—"


"Gue bilang diam, Jeje! Sebelum gue sumpal mulut lu pakai kaos kaki gue." Ariel sungguh merasa geram dan ingin sekali merem*s gadis di depannya. Gadis yang selalu membuat tensi darahnya naik jika mereka sedang berdekatan. 


"Upss!" Jeje bergaya centil sambil menutup mulutnya. "Sepertinya aku mengganggumu. Lebih baik aku pergi karena aku sadar, kehadiranku di sini membuat kamu malu untuk bunuh diri." 


"Sialan! Dasar mulut laknat!" teriak Ariel setengah membentak. Andai Jeje bukan seorang perempuan, sudah pasti dia akan menendangnya sampai terpental ke kutub utara agar menjadi es di sana. Namun, Ariel sadar diri bahwa ia bukanlah pria pecundang yang hanya berani kepada wanita. 


Maluu dong, bokk! 


Ariel pun hanya mengepalkan tangan secara kuat ketika melihat Jeje pergi dari sana dengan gaya centilnya. Sungguh, ia sangat membenci gadis itu. 


***


Acara telah usai, semua tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing, begitu pun dengan pengantin baru yang kini sudah menempati kamar pengantin. Kamar itu sudah dihias sedemikan rupa oleh orang tua mereka. Terlihat sangat romantis jika digunakan oleh orang yang saling suka. Namun, tidak untuk Sultan maupun Nabila. Kedua orang itu justru hanya saling diam di kamar. 


Sultan duduk di sofa, sedangkan Nabila di tepi ranjang, menanti Sultan datang menghampirinya meskipun hal itu tidak akan mungkin terjadi. 


"Lu aja yang tidur di sini, Sul. Biar gue yang tidur di sofa." Nabila berbicara untuk memecah keheningan yang terjeda cukup lama di antara mereka. 


"Lu aja. Masa iya cowok enggak mau ngalah sama cewek," balas Sultan. Ia justru menaikkan kakinya ke sofa dan merebahkan diri di sana. 


"Em, tapi badan lu bakalan pegel banget kalau bangun tidur. Lihat, tubuh lu aja lebih panjang dari sofa itu," ujar Nabila. Sultan mengangkat sedikit kepala dan melihat kakinya yang memang menggantung cukup panjang. 


"Atau kalau lu mau tidur di sini, enggak papa. Nanti kita kasih pembatas di tengahnya," saran Nabila karena ia masih belum tega melihat Sultan tidur di sofa. Namun, ucapannya itu justru disambut dengkusan kasar oleh lelaki itu. 


"Apa lu lupa kalau dari tadi kita nyari guling enggak ketemu. Pasti orang tua kita yang sengaja nyembunyiin. Tidurlah, gue beneran udah ngantuk," pungkas Sultan. 


Nabila pun hanya mengiyakan. Lalu mereka berusaha saling memejamkan mata. Sampai akhirnya mereka benar-benar terlelap karena rasa lelah yang begitu mendera. 


Keesokan paginya, Nabila terbangun seperti biasa, ia pun hendak langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena ia masih memiliki waktu libur satu hari, Nabila akan memanfaatkan hal tersebut itu untuk rebahan seharian di kamar. 


Nabila mendes*hkan napas secara kasar ketika melihat Sultan yang masih tertidur lelap. Bahkan, masih terdengar dengkuran halus dari lelaki itu. Dengan langkah mengendap-endap, Nabila mendekati Sultan dan menatap wajah suaminya sangat lekat. 


"Lu ganteng banget kalau lagi diem gini." Nabila cekikikan. Sungguh, ia terpesona pada ketampanan Sultan dan sejak sekarang merasa bahagia karena bisa melihat lelaki itu dalam posisi tidur. Karena jika Sultan tidak tertidur, sudah pasti mereka akan terus berdebat dan yang ada wajah Sultan terlihat jelek karena marah-marah. 


Dengan gerakan sangat perlahan, Nabila mencium kening Sultan. Ia melakukannya dengan gerakan slow-motion agar lelaki itu tidak terbangun. 


"Selamat pagi suamiku. Saranghae." Nabila membuat bentuk cinta dengan kedua jari tepat di depan wajah Sultan, lalu setelahnya ia bangkit dan pergi sebelum Sultan terbangun dan menyadari apa yang dilakukannya. 


Bisa mampus gue kalau sampai Sultan bangun dan tahu gue cium kening dia. Kalau hal itu terjadi, gue bukan cuma dihukum potong gaji, pasti langsung dipecat. 


Nabila tidak menyadari kalau sebenarnya Sultan sudah bangun sejak gadis itu memuji ketampanannya. Namun, Sultan hanya berpura-pura tidur karena tidak mau membuat Nabila menjadi grogi. 


Mengingat apa yang dilakukan Nabila barusan, membuat senyuman di bibir Sultan terlihat mengembang. 


"Dasar Kadal, ada-ada saja." Sultan menggeleng sambil terus tersenyum simpul. Ia tidak menyadari jika pipinya sudah bersemu merah.