
Satu minggu sebelum acara pernikahan itu. Nabila merasa senang karena kakinya sudah sembuh total. Ia bahkan sudah bisa berjalan dengan baik dan kembali bekerja sejak beberapa hari lalu. Segala persiapan pernikahan pun hampir rampung seratus persen dan Sultan benar-benar tidak bisa menolak lagi. Namun, Sultan tidak mengabari Hanum kalau ia akan menikah dalam waktu dekat. Sultan justru akan menyembunyikan semuanya dari Hanum karena ia tidak mau jika nantinya wanita pujaan hatinya itu akan menjaga jarak dengannya.
Setelah pulang dari kantor, Sultan dan Nabila langsung menuju ke bandara untuk menjemput Kayla—adik perempuan Sultan—yang baru saja pulang dari luar negeri. Sultan sudah bisa menebak betapa hebohnya nanti jika sang adik bertemu dengan Nabila. Pasti suasana akan mendadak ramai dan akan seperti pasar meskipun hanya ada dua perempuan itu.
"Kak Na-na bil-bil la-la. Kak Nabila!" teriak Kayla ketika mereka baru saja bertemu.
Nabila tergelak ketika mendengar panggilan itu. Ia pun langsung memeluk Kayla sangat erat. "Ya ampun, Kay. Lu udah kayak orang gagap aja."
Kayla hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya. Setelah kedua orang itu saling berpelukan cukup lama, mereka pun melerai pelukan tersebut karena Sultan sudah berdeham cukup keras.
"Kak, rasanya aku sudah tidak sabar lihat Kak Nabila dan Kak Sultan menikah, pasti kalian akan sangat cantik dan cocok." Kayla memegang kedua pipi dan tersenyum saat membayangkan pernikahan Nabila dan Sultan.
"Elu itu ya. Pasti yang bikin elu enggak sabar karena mau nyari cowok 'kan? Mau caper gitu ke cogan-cogan," tukas Nabila. Secara refleks ia menutup mulut ketika Kayla mengedipkan mata dan sesekali melirik Sultan. Setelah mengerti arti kedipan mata itu, Nabila pun cekikikan.
"Kalian ngomongin gue?" Sultan melirik mereka secara bergantian.
"Iihh, pede! Makanya jangan sok ganteng. Siapa juga yang ngomongin Kak Sultan, iya 'kan, Kak?" Kayla sedikit mengangkat dagu, memberi kode agar Nabila mengiyakan.
"Bener. Dia bukan ngomongin elu, Sul. Tapi, dia itu lagi ngomongin rencana buat menggaet hati para pria tampan—"
"Kak Nabila!!"
"Apa, Sayang?" timpal Nabila santai.
"Nyebelin!" Kayla bersedekap kesal, bibirnya pun sudah mengerucut. Dengan gemasnya, Nabila mencium pipi gadis itu untuk meredam kekesalannya.
"Maaf, jangan ngambek, ntar cantiknya ilang, loh."
"Ish! Aku marah sama Kak Nabila. Aku mogok bicara." Kayla memalingkan wajah. Menghindari Nabila.
"Ya udah." Nabila justru duduk bersandar dengan santai dan berpura-pura menghadap depan padahal ekor matanya beberapa kali melirik Kayla. Hal itu justru membuat Kayla makin merasa kesal.
Cukup lama suasana di dalam mobil itu terasa hening karena tidak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya Kayla merengek manja dan melingkarkan tangannya di perut Nabila.
"Ihh, Kak Nabila nyebelin," rengeknya. Nabila pun tersenyum simpul.
"Nyebelin kenapa? Katanya mogok bicara," ledek Nabila. Membuat Kayla kembali merasa kesal.
"Enggak jadi." Kayla makin mengeratkan pelukan tersebut.
Nabila pun mencium puncak kepala Kayla dengan penuh kasih sayang.
"Kay, seandainya nanti bukan gue yang jadi kakak ipar lu, gue harap lu tetep manja kayak gini ke gue ya. Jangan jadi jauh."
Mereka terkejut karena Sultan mengerem mendadak hingga membuat tubuh mereka terhuyung ke depan.
"Sultan! Lu mau bikin kita mati?" Nabila bertanya kesal. Sultan tidak menyahut, ia hanya berbalik dan menatap kedua perempuan itu secara bergantian. Namun, tatapan Sultan terlihat seperti orang kebingungan.
"Lu baik-baik aja, Kay?" tanya Sultan meskipun ekor matanya melirik Nabila.
Sultan pun hanya diam dan kembali melajukan mobilnya secara tenang. Ia pun sesekali menatap ke kaca kecil untuk melihat kedua wanita itu.
"Pembicaraan tadi jadi kepotong 'kan, Kak. Kenapa Kak Nabila bicara seperti tadi? Aku cuma mau Kak Nabila yang jadi kakak iparku, tidak mau yang lain!" Kayla merengek, tetapi Nabila justru menanggapi dengan senyuman simpul.
"Kay, manusia itu hanya bisa berencana, tetapi Tuhan sudah punya rencana sendiri untuk kita. Jangankan orang berpacaran, orang yang sudah menikah saja, kalau belum berjodoh bisa saja bercerai. Jadi, apa pun keadaannya nanti, gue harap lu tetep nganggep gue kakak lu."
"Jangan berbicara macam-macam!" sela Sultan ketus. Bahkan, lelaki itu terlihat sedang menahan kekesalan yang teramat dalam.
Nabila pun menutup mulut, begitu juga Kayla yang memilih untuk diam. Bahkan, ia berpura-pura tidur agar tidak ada lagi percakapan di antara mereka.
***
"Makasih udah nganter gue, Sul. Harusnya tadi lu enggak perlu repot-repot bolak-balik." Nabila bersiap untuk turun, tetapi Sultan dengan cepat menahannya.
"Ada yang mau gue bicarakan," ucap Sultan. Jika tadi ia hanya diam karena ada Kayla, tetapi sekarang hanya ada mereka berdua di mobil itu.
Nabila mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Lalu kembali duduk seperti semula. "Apa?"
"Gue harap elu enggak ngomong seperti tadi lagi ke Kayla. Gue enggak mau dia kecewa," ujar Sultan. Ucapan itu disambut senyuman sinis dari sudut bibir Nabila.
"Sul, lebih baik kecewa sekarang daripada nanti-nanti akan lebih dalam rasa kecewa itu. Tadi gue sengaja ngomong kayak gitu karena gue cuma enggak mau Kayla terlalu berharap pada hubungan kita. Gue enggak mau kalau seandainya nanti kita harus berpisah, Kayla enggak mau nganggap gue seperti kakaknya lagi. Gue bakal kesepian kalau sampai hal itu terjadi."
Nabila menjeda ucapannya sesaat untuk menghirup napas secara dalam. Ia tahu pembicaraan seperti ini akan membuat hatinya gelisah, tetapi ia berusaha agar tetap terlihat tenang.
"Sul, gue yakin jalan yang kita lalui setelah menikah nanti, semua enggak akan mulus. Gue yakin akan ada banyak lika-liku yang harus kita hadapi, dan gue enggak yakin kita bisa mampu bergandengan tangan untuk melewati bersama atau enggak."
"Kenapa lu sampai ngomong sejauh itu? Kita bahkan belum menjalaninya." Sultan menatap Nabila sangat lekat.
"Karena di sini." Nabila menunjuk dada Sultan. "Kagak pernah ada nama gue. Gue tahu hanya ada nama Hanum di sini."
Sultan terpaku, ia merasakan gelayar aneh yang membuat syarafnya terasa berdenyut apalagi ketika melihat sorot mata Nabila yang penuh kepiluan.
"Lu tenang aja, Sul. Saat ini gue selalu ngeyakinin hati gue biar enggak terlalu berharap. Anggap aja pernikahan kita hanyalah sebatas formalitas. Sebagai penebus janji kedua orang tua kita. Lu tenang aja, gue bakal bantuin lu buat ngenalin Hanum kepada Tante Rasya secara perlahan. Setelah Tante Rasya bisa menerima Hanum dengan baik, gue janji bakal pergi dari kehidupan elu, Sul."
Deg!
Ucapan Nabila tersebut sungguh membuat lidah Sultan mendadak kelu hingga tidak mampu berbicara apa pun.
"Ada mama di depan. Gue harus segera turun sebelum mama mengira kita sedang berciuman di dalam." Nabila berusaha terkekeh meskipun hambar. Ia mengusap wajah untuk memastikan tidak ada air matanya sebelum akhirnya turun dari mobil.
Sultan hanya diam dan menatap Nabila yang sedang tersenyum simpul sambil melambai kepadanya.
"Hati-hati Bisulan calon suamiku. Makasih tumpangannya." Nabila berbicara cukup keras lalu berjalan cepat mendekati Zahra.
Sultan tahu, apa yang dilakukan Nabila tadi hanyalah sandiwara agar Zahra tidak curiga. Setelah melihat kedua perempuan itu masuk rumah, Sultan merem*s dada.
Ya Tuhan, kenapa dadaku rasanya sakit sekali. Padahal aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah jantungku bermasalah? Aku harus memeriksanya setelah ini.