BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 46



"Apa maksud lu tubuh gue anget. Emang ada masalahnya?" tanya Sultan. Berusaha terlihat seketus mungkin. 


"Ya biasanya setan, demit, gitu 'kan badannya dingin kayak habis dari frezzer terus mukanya pucet kayak orang kurang piknik. Tapi, kok lu enggak?" Nabila menyentuh wajah Sultan bahkan menunjuk-nunjukkan jari di pipi lelaki itu.


"Lu apaan, sih!" Sultan berusaha menyingkirkan tangan Nabila karena merasa sedikit risih, tetapi wanita itu tetap saja mengusapnya lagi. 


"Gue curiga. Jangan-jangan lu bukan arwahnya si Bisul lagi, tapi emang beneran kalau lu itu si Bisulan," tukas Nabila. Mengerutkan kening seolah sedang mengamati wajah Sultan sangat lekat. "Wajah lu juga seger walaupun ada bekas ilernya."


"Astaga, Kadal! Mulut lu nyebelin banget, sih!" Sultan mulai kehilangan kesabaran. Ia pun memilih bangkit dan duduk di samping Nabila. 


Ia merasa, semua akan percuma karena adik kecilnya pun belum waktunya masuk ke sarang. Jika terus bertindihan seperti itu, yang ada dirinya harus bermain dengan solo karir lagi. 


"Jawab jujur, deh. Kalau bohong masuk neraka loh. Lu ini Sultan apa arwah Sultan yang gentayangan, sih?" tanya Nabila. Sungguh, entahlah,  gadis itu sangat 'bodoh' atau hanya 'berlagak bodoh'.


"Ya." Sultan menjawab singkat karena ia sudah terlalu malas untuk menjawab pertanyaan istrinya. 


"Ya apa maksudnya? Iya kalau lu ini Sultan beneran, apa cuma arwahnya aja?" tanya Nabila lagi dengan tangan bersidekap di depan dada. Bergaya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. 


Aarrgghh!! Sultan rasanya ingin sekali meng-iiihhh istrinya itu. 


Iiih, itu apaan oe! 


"Gue emang Sultan. Gue nyata! Gue enggak ikut dalam kecelakaan pesawat itu karena gue ketinggalan pesawat karena ban mobil bocor. Gue datang ke sini karena ... Arrgghh!" Sultan mengerang kesakitan karena Nabila tiba-tiba saja menggigit lengannya cukup kencang bahkan ngilunya berasa sampai ubun-ubun. Apalagi posisi Sultan saat itu sedang tidak mengenakan baju. 


"Sakit, Kadal!" seru Sultan. Sangat geram. 


Andai Nabila bukan istrinya, sudah pasti Sultan akan mencekiknya sampai is death. Eh, jangan! 


Wanita itu pun memeluk Sultan sangat erat bahkan tanpa sadar air matanya sampai menetes. 


"Terima kasih, Tuhan. Kau kabulkan doaku. Kau selamatkan suamiku," ucap Nabila disertai tangisan haru. 


Sultan yang awalnya merasa marah pun, mulai membalas pelukan istrinya tersebut. Ia merasakan sebuah perasaan lain, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan, ia ingin menangis ketika mendengar tangisan haru istrinya. 


Ternyata Nabila sekhawatir itu padanya. 


Ciee, ehem! Ehem! 


"Jangan nangis, gue udah di sini dan baik-baik aja." Sultan melerai pelukan itu, dan membantu Nabila menghapus air matanya. "Gue baik-baik saja. Jadi, berhentilah menangis. Jangan seperti anak kecil." 


Bukannya berhenti, tangisan Nabila justru kian mengeras. Bahkan, terdengar sampai ke luar. Dengan terpaksa, Sultan membekap mulut istrinya agar wanita itu diam. 


"Bisakah lu diam? Gue udah di sini dan lu nangis kejer, udah kayak gue mati aja. Gue tahu lu terharu, tapi bukan gini ...." 


"Gue nangis bukan karena terharu." Nabila berbicara sambil terisak sampai suaranya sedikit terputus-putus. 


"Lalu?" 


"Gue cuma takut dapat hukuman dari lu. Huaaaa mama ...." 


"Astaga ... Kadal! Bisakah lu jangan menguji kesabaran gue! Sekali saja!"