
"Hallo, Kay. Ada apa?"
Sultan mengalihkan perhatian ketika mendengar Nabila sedang bertukar suara dengan Kayla. Walaupun ia kembali terlihat fokus dengan layar ponsel, tetapi Sultan diam-diam menajamkan pendengarannya.
"Nanti, ya. Gue capek banget, Kay. Ntar sore deh gue temenin lu," kata Nabila. Setelahnya, panggilan itu pun terputus karena Nabila mematikannya terlebih dahulu setelah menganggap Kayla tidak akan berbicara apa pun lagi.
"Kayla?" tanya Sultan saat Nabila sudah kembali memainkan jari di atas layar ponselnya.
"Ya. Dia ngajak main. Apa gue boleh pergi dengan Kayla, sore nanti?" tanya Nabila. Menatap Sultan penuh harap.
"Terserah. Kalau lu mau pergi ya tinggal pergi saja. Lu enggak perlu minta izin sama gue." Sultan masih berbicara setengah ketus.
"Em, baiklah. Gue pikir karena udah ada suami, jadi gue harus izin jika mau pergi ke mana pun," timpal Nabila lirih. "Tapi, ternyata gue masih dibebasin aja."
"Karena itu enggak berlalu untuk kita. Lu bebas pergi ke mana pun yang lu mau tanpa harus minta izin sama gue," kata Sultan. Nabila mengangguk mengiyakan lalu kedua orang itu pun saling sibuk dengan ponsel mereka.
Dengan sengaja mereka tidak keluar kamar jika tidak waktunya makan. Hal itu dilakukan agar tidak ada yang curiga dan semua orang akan berpikiran bahwa pengantin baru itu sedang menikmati masa-masa memadu kasih. Padahal pengantin baru itu sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Memadu kasih dengan ponsel mereka sendiri.
"Hanum," gumam Sultan. Mengalihkan perhatian Nabila.
"Kenapa dengan Hanum?" tanya Nabila penasaran. Meskipun dalam hati ada rasa panas yang menjalar, tetapi Nabila berusaha agar tetap terlihat biasa saja.
"Gue belum ngabarin dia seharian ini. Sepertinya gue harus ke panti untuk menemui dia," kata Sultan. Ia bergegas bangun, tetapi Nabila segera menahan lelaki itu dengan cepat. "Kenapa?"
"Jangan pergi dulu. Gue bukannya mau ngelarang lu ketemu Hanum, tapi gue cuma enggak mau kalau sampai papa dan mama curiga. Besok, lu boleh nemui Hanum sebebasnya, tapi jangan sekarang." Nabila berusaha menahan. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah untuk kebaikan mereka karena Nabila sudah sangat paham bagaimana papanya.
"Lu enggak ada hak buat ngelarang gue." Sultan kesal. Ia merasa geram kepada Nabila karena gadis itu sudah menahannya dan menganggap Nabila terlalu ikut campur urusannya.
"Em, baiklah tunggu sebentar. Kalau gitu gue ganti baju dulu, setelah itu kita akan pergi bersama-sama." Nabila pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati ke lemari pakaian.
"Gue enggak mau lu ikut. Gue takut Hanum akan curiga dengan hubungan kita," tolak Sultan mentah-mentah.
Nabila mengembuskan napas kasarnya. "Gue enggak akan ikut lu ketemu Hanum. Takut gue cemburu ntar. Haha." Nabila tertawa hambar. "Gue cuma bantuin lu. Bilang aja kita mau pergi berdua biar mereka enggak curiga, dan lu bisa nurunin gue di mana pun, dan kalau lu udah selesai ketemuan sama Hanum, lu bisa kabari gue dan kita pulang bareng. Ide bagus, 'kan?"
Sultan merasa ide Nabila tidak terlalu buruk.
***
"Lu yakin bakal turun di sini?" tanya Sultan saat mobilnya sudah berhenti di taman kota. "Apa lu mau ketemu Kayla?"
"Enggak usah. Nanti yang ada Kayla akan curiga. Mendingan gue batalin aja pergi dengan dia," kata Nabila sambil menulis pesan untuk Kayla.
"Jangan, lu bisa pergi dengan Kayla biar enggak kelamaan nunggu," cegah Sultan. Entah mengapa, ia merasa tidak enak hati.
"Enggak papa. Lu nikmatin aja waktu bersama Hanum, gue santai kok." Nabila menyimpan ponselnya kembali lalu menyodorkan tangannya ke depan Sultan tanpa berbicara apa pun.
Sultan yang merasa bingung, segera mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menaruhnya di telapak tangan Nabila. Namun, ia terheran ketika Nabila justru tergelak keras.
"Gue bukan mau minta uang sama lu, Sul." Nabila masih terus terkekeh.
"Terus?"
"Gue cuma mau salaman aja. Tapi, karena uang ini udah di tangan gue, anggap aja bonus." Nabila menyimpan uang itu ke dalam tas lalu kembali menyodorkan tangan. Kali ini, Sultan menyambutnya. Ia hanya terdiam ketika Nabila mencium punggung tangannya.
"Dah, gue turun. Hati-hati di jalan. Bye-bye." Nabila melambaikan tangan saat sudah turun dari mobil. Setelahnya ia menghela napas panjang ketika mobil Sultan melaju meninggalkannya. "Mendingan gue jajan aja buat balikin mood."
Nabila pun bergegas pergi ke minimarket terdekat untuk membeli banyak camilan.
Sementara itu, Sultan tidak tenang ketika harus meninggalkan Nabila sendirian. Ia terus saja merasa khawatir kepada wanita itu. Namun, ia berusaha menepis rasa khawatir itu karena baginya Hanum lebih penting dari Nabila.
"Buat apa gue mikirin si Kadal, toh, dia udah bisa jaga diri sendiri," ucap Sultan lirih dan berusaha kembali fokus mengemudi.