
Lidah Sultan mendadak kelu ketika mendengar ucapan Nabila yang menusuk hatinya. Ada rasa sesal yang ia rasakan ketika menyadari jika dirinya telah keterlaluan. Apalagi ketika melihat sorot mata Nabila yang tampak sendu. Membuat hati Sultan makin tak karuan rasanya.
"Na, maafin gue." Suara Sultan terdengar lirih.
Nabila tersenyum getir. "Harusnya gue yang minta maaf karena udah rusakin mobil lu dan ganggu makan siang lu sama cewek pujaan hati lu. Sekarang lu pergi aja. Gue akan tunggu mobil derek datang barulah gue kembali ke kantor, sepertinya tidak sampai waktu istirahat habis."
"Na, lu harus pulang sama gue dan biar anak buah gue yang nungguin di sini," kata Sultan lirih. Suaranya tidak sekeras tadi.
"Enggak usah, Sul. Mendingan lu balik dulu karena gue enggak mau ganggu makan siang lu sama Hanum." Nabila masih bisa tersenyum ketika menyebut nama wanita yang dicintai suaminya. Namun, hati Sultan justru berdenyut sakit ketika melihat senyuman Nabila tersebut.
"Gue enggak peduli Hanum. Pokoknya lu harus balik sama gue. Lu sadar enggak, sih, kalau sekarang lu adalah tanggung jawab gue. Maaf kalau barusan gue udah ngebentak elu karena gue ...." Sultan terdiam karena ia merasa ragu ketika hendak meneruskan ucapannya.
"Karena apa?" tanya Nabila setelah cukup lama menunggu ucapan Sultan.
"Karena gue ... arrgghh!" Sultan justru mengerang karena ia tidak mampu meneruskan ucapannya, sedangkan Nabila menjauh dari Sultan untuk menerima panggilan dari Ariel.
Sultan memukul udara untuk meluapkan kekesalan ketika melihat Nabila menjauh darinya sambil menelepon.
Arrggh!! Ya Tuhan, gue cuma pengen bilang kalau tadi ngebentak si Kadal karena gue khawatir sama dia, tapi kenapa mulut gue susah banget mau ngomong gitu. Aarggh! Sialan!
Sultan terus mengumpat dalam hati. Ia sungguh merasa geram kepada dirinya sendiri.
***
Ariel yang datang ke kantor Sultan untuk menemui sahabatnya justru dikejutkan dengan keberadaan Hanum yang masih duduk di area parkir. Walaupun kemarin Ariel hanya melihat Hanum sekilas, tetapi ia masih bisa mengingat dengan baik wajah wanita itu. Wanita yang kemarin mengantar makanan untuk Sultan dan sepertinya mereka memiliki hubungan yang rahasia.
"Kamu sedang apa di sini, Nona?" tanya Ariel berbasa-basi.
Wajah Hanum terlihat sangat gugup ketika bertatapan dengan Ariel. Bahkan, tangannya sudah merem*s rantang yang berada dalam genggaman.
"Ah, iya. Aku ingat, kamu kemarin adalah wanita yang datang ke sini siang hari untuk menemui Sultan, apa sekarang kamu juga akan menemui dia lagi?" tanya Ariel menebak.
Hanum tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk lemah. Ariel yang melihatnya pun langsung merasa geram. Ia mengepalkan tangannya secara erat.
"Nona, sepertinya kamu tidak perlu datang ke sini lagi. Mungkin saat ini Sultan sedang tidak berada di kantor karena dia sedang makan siang dengan istrinya," jelas Ariel. Membuat Hanum mengangkat kepala dan terkejut mendengar ucapan Ariel.
"I-istri? Sultan sudah punya istri?" tanya Hanum tidak percaya.
"Jadi, kamu belum tahu kalau Sultan sudah punya istri?" Ariel menatap Hanum tajam. Berusaha menelisik sorot mata wanita itu apakah ia berbohong atau tidak. Namun, Ariel tidak melihat ada kebohongan di sana.
"Sultan tidak pernah bilang kalau dia punya istri. Jadi, selama ini dia berbohong padaku," ucap Hanum lirih. Suaranya terdengar berat dan penuh kecewa.
"Kurang ajar!" umpat Ariel. Ia benar-benar mengutuk sahabatnya. "Asal kamu tahu, Nona. Sultan sudah menikah beberapa hari lalu dengan Nabila Kanesh Dalila. Putri sulung Om Arga dan Tante Zahra. Bahkan, Nabila harusnya saat ini menjadi pemimpin perusahaan milik orang tuanya, tapi dia lebih milih jadi asisten Sultan. Mengesalkan bukan."
Ariel sengaja berbicara seperti itu agar tidak ada wanita lain yang merendahkan Nabila. Ia ingin semua orang tahu bahwa Nabila adalah perempuan hebat.
"Jadi, Sultan dan Nona Nabila itu sudah menikah?" tanya Hanum lagi. Ia masih belum percaya atas kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Ya. Jadi, kuharap kamu tidak pernah datang mengganggu Sultan lagi karena aku tidak mau siapa pun merusak rumah tangga sahabatku." Suara Ariel penuh dengan ketegasan.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau mereka sudah menikah. Saya janji akan menjaga jarak dengan Sultan setelah ini. Terima kasih karena sudah memberi tahu padaku semuanya, Tuan." Hanum membungkuk hormat. Ariel hanya mengiyakan saja.
Setelahnya, Hanum berpamitan pergi dari sana membawa kembali rantang berisi makan siang yang masih utuh. Mengingat Sultan yang sudah tega berbohong padanya, Hanum benar-benar merasa sangat kecewa.
Kupikir kamu berbeda dari yang lain. Ternyata sama saja. Orang yang banyak harta itu memang hanya bisa menyakiti saja. Aku tidak percaya pada siapa pun lagi setelah ini. Kamu sungguh sangat membuatku kecewa, Sul.