BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 57



Jeje merasa heran akan kedatangan Nesya ke rumahnya. Gadis itu terlihat tidak heboh dan ceria seperti biasanya. Bibirnya terlihat terus saja cemberut. Seperti anak kecil yang sedang merajuk. Bahkan, ketika Jeje menyapa pun, Nesya hanya menanggapi dengan helaan napas panjang. Tidak balas menyapa ataupun sebatas senyuman. 


"Dasar bocil," gumam Jeje berusaha tidak peduli pada Nesya. Suara Jeje memang lirih, tetapi masih bisa didengar baik oleh Nesya. 


"Kak! Jangan panggil aku bocil. Aku tidak mau dipanggil bocil," sentak Nesya dengan gaya manjanya. 


"Terus? Bukankah kamu ini emang masih bocil." Jeje sepertinya senang sekali membuat adik sepupunya itu menjadi emosi. 


"Aku udah gede, Kak. Lihatlah, aku sudah pakai BeHa bukan miniset lagi," ujar Nesya. Membusungkan dada tinggi-tinggi padahal belum terlihat menonjol besar. Jeje pun tak kuasa menahan tawa saat melihat adik sepupunya. 


"Sya, kamu pikir gede itu cuma diukur dari besar-kecilnya susu?" tanya Jeje. Nesya mengangguk cepat. Jeje pun bangkit berdiri dan mendekati sepupunya itu. Lalu menepuk pelipis Nesya dengan pelan. "Yang jadi patokan kamu gede apa enggak, itu dari sini." 


"Lah, bukannya kalau kepala gede itu penyakit, Kak? Hidroponik—"


"Hidrosefalus." Jeje menyela dengan gemas. "Kamu ini kuliah, tapi kenapa oon-nya kebangetan. Masih kayak anak TK?" ledek Jeje. Membuat bibir Nesya seketika maju beberapa centi. 


"Ish! Kak Jeje mah, jahat! Mentang-mentang udah bisa dekat sama Kak Ariel. Padahal 'kan aku sudah suka sama Kak Ariel sejak dulu," ujar Nesya sambil memasang wajah kesal. "Malah Kak Jeje yang deket sama Kak Ariel." 


"Loh, memangnya kenapa? Kamu juga bisa kok dekat sama Ariel," kata Jeje menenangkan adik sepupunya. 


"Enggak, Kak. Kak Ariel enggak mau. Padahal aku udah gede. Makanya itu, harusnya aku yang lahir duluan bukan Kak Jeje. Jadi, aku ... auw!" Nesya memekik karena Jeje sudah menyentil keningnya. 


Bibir gadis itu kembali mengerucut. 


"Jangan nyalahin takdir! Pamali! Lagian, aku dan Ariel itu cuma sebatas dekat. Bukan pacaran. Jadi, kamu jangan salah paham," kata Jeje. Membuat wajah Nesya terlihat begitu semringah. 


"Yang benar? Jadi, aku boleh dekat sama Kak Ariel? Yee!!" Nesya bersorak kegirangan seperti anak kecil. Jeje pun menggeleng sambil menghela napas panjang.


"Tapi, Sya. Kamu jangan terlalu berharap karena yang namanya jodoh itu sudah ada di Tangan Tuhan. Kamu harus mengenali rasa yang kamu miliki ke Ariel itu sebatas rasa kagum atau apa? Lagian, seumuran kamu itu, harusnya masih mikir soal kuliah dan menata masa depan. Bukan serius dengan cinta monyet," nasehat Jeje. Senyum Nesya yang barusan mengembang pun kini tampak memudar perlahan. 


"Tapi, Kak ...."


"Dengarkan kakak. Sekarang kamu fokus saja pada kuliahmu. Kalau memang Ariel jodoh kamu, pasti suatu saat kalian akan bersatu, tapi kalau ternyata kalian tidak berjodoh, ya sudah. Berarti ada lelaki lain yang mencintaimu dengan tulus. Lagi pula, menurut nasehat itu lebih baik kita dicintai daripada mencintai. Mencintai itu sakit apalagi kalau hanya bertepuk sebelah tangan," balas Jeje panjang lebar. Namun, ia tiba-tiba tersentak ketika mendengar suara tepuk tangan Nesya yang terdengar keras. 


"Weh, Kak Jeje hebat banget. Kak Jeje pasti pernah ngalamin ya?" tukas Nesya. Jeje memilih untuk diam. 


***


"Auu, sakit." Nesya merintih karena terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. 


"Bagaimana bisa lu terjatuh?" tanya Ariel yang saat itu kebetulan lewat.


Melihat pria yang ia kagumi datang mendekat, dengan liciknya Nesya berpura-pura kesakitan. Ia sengaja memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik perhatian  Ariel. 


"Hanya luka sekecil ini lu bilang sakit? Pantes, masih bocil," cibir Ariel. 


Nesya mendongak lalu menatap Ariel dengan tatapan yang sudah dijelaskan. Raut wajah yang barusan terlihat kesakitan pun kini tampak terlihat datar. 


"Kak Ariel kenapa galak banget kepadaku. apa aku ada salah?" tanya Nesya kembali memasang wajah memelas. 


Ariel awalnya hendak kasihan, tetapi ketika menyadari bahwa gadis itu hanya sedang berusaha menarik perhatiannya, Ariel pun langsung mendengkus kasar. 


"Jangan ngedrama. Hai, bocil! Lu mau dengerin gue?" Ariel menatap Nesya dalam membuat gadis itu langsung mengangguk cepat. 


"Pasti, Kak. Pasti Kak Ariel mau bilang kalau sayang sama aku, 'kan? Mau nikah sama aku, 'kan?" Nesya terlihat sangat percaya diri. Ia bahkan sudah senyum-senyum sendiri. 


"Tidak." Ariel menjawab cepat membuat wajah Nesya mendadak sendu. "Gue justru akan bilang sama elu kalau lu jangan terlalu berharap sama gue. Apalagi bermimpi kita nikah karena gue enggak akan menikah dengan lu sampai kapan pun." 


Mata Nesya berkaca-kaca. Tidak ada sedikit pun senyuman di wajah gadis itu. Ariel yang melihatnya pun mulai tidak tega. Ia merasa memang keterlaluan kepada gadis itu, tetapi Ariel juga tidak mau jika gadis tersebut terlalu berharap padanya karena sampai kapan pun, ia tidak akan bisa membuka hatinya untuk gadis tersebut. 


"Kenapa? Apa karena aku kurang cantik? Atau aku kurang seksi dan menarik?" tanya Nesya dengan suara parau karena menahan tangis. 


"Bukan karena itu, tapi ini soal hati. Gue enggak bisa maksa hati gue buat jatuh cinta sama siapa pun. Biarlah hati ini milih akan jatuh di hati siapa, gue enggak bisa maksa. Gue cuma enggak mau kalau lu terlalu berharap sama gue dan ternyata kita enggak bisa bersatu. Yang ada lu akan makin sakit hati. Jadi, maaf kalau sekarang gue bikin lu sakit, tapi gue enggak mau kalau lu justru sakitnya nanti," kata Ariel panjang lebar. Ia mengeluarkan semua uneg-unegnya yang ada di dalam hati. 


Bukan Ariel mau bersikap kejam, tetapi ia tidak mau jika Nesya terlalu berharap padanya. 


"Kak Ariel, kalau semisal suatu saat ternyata kita tidak berjodoh. Apa Kak Ariel akan menjauhiku?" tanya Nesya lirih. 


"Tentu saja enggak. Aku enggak akan menjauhi siapa pun. Jadi, lu tenanglah." Ariel berusaha menenangkan hati Nesya. 


"Baiklah. Terima kasih, Kak." Nesya mendongak dan terlihat sekali bahwa ia sedang memaksa senyumnya. "Kalah begitu, aku mau berdoa saja semoga Kak Ariel lekas menemukan jodohnya, dan semoga gadis itu adalah aku," imbuhnya penuh percaya diri. 


Ariel menggeleng cepat. "Terserah lu aja." 


"Hmmm. Sekarang aku mau pulang. Maukah Kak Ariel mengantarku? Kakiku sakit sekali," ucap Nesya setengah merintih. 


Ariel menghela napas panjang. "Baiklah, gue anter lu pulang. Sekarang gue gendong lu sampai mobil." Ariel bersiap hendak memasang kuda-kuda. 


"Yee!! Akhirnya aku digendong Kak Ariel!" teriak Nesya heboh. Bahkan, ia justru berjingkrak-jingkrak hingga membuat Ariel mendengkus kasar. 


"Katanya kaki lu sakit, tapi kenapa bisa jingkrak-jingkrak gitu?" tanya Ariel ketus. 


"Eh iya. Aku lupa." Nesya menepuk kening lalu berpura-pura kesakitan lagi. 


"Dasar bocil!"