BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 54



Nabila sungguh pintar sekali selalu bisa membuat Sultan merasa kesal. Bagaimana bisa wanita itu bilang dirinya ngidam, sedangkan mereka baru kemarin siang melakukan percintaan panas. Setahu Sultan, walaupun memakai jalur express, tetapi seorang wanita baru akan hamil setelah satu bulan melakukan percintaan panas. Itupun kalau bisa langsung hamil. Bukan seperti mengadon donat atau kue yang bisa sehari langsung jadi. 


"Muka lu jelek amat, Sul." Nabila terkekeh, melihat wajah kesal suaminya seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya. 


"Diamlah. Lu jadi mau beli bubur enggak?" Sultan memelankan laju mobilnya. Berjaga-jaga barangkali Nabila meminta berhenti agar tidak mendadak. 


"Jadilah, gue enggak mau anak kita ileran," goda Nabila. 


Sultan hanya melirik sekilas tanpa menanggapi ucapan wanita itu. Ia tidak mau makin esmosi karena es doger atau es kelapa muda itu lebih enak. Eh, lagi puasa.


"Biar gue yang beli, kalau lu yang beli pasti lama." Sultan menahan Nabila yang hendak turun dari mobil. Ia tidak mau makin siang datang ke kantor hanya karena wanita itu mengobrol dengan penjual bubur ayam. 


Walaupun dengan bermalasan, Sultan berjalan mendekati penjual bubur itu dan memesan satu porsi lengkap. Dengan sabar Sultan menunggu, tetapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya, bertubuh gembul. Wajahnya penuh dengan make-up hanya sebatas dagu hingga menunjukkan leher hitamnya.


Cantik, sih. Kalau dilihat dari lubang hidung semut. 


"Ya ampun, kamu artis ya? Ganteng banget." Wanita itu berteriak histeris membuat Sultan menjadi sangat terkejut. 


"Maaf, saya bukan artis." Sultan berusaha menyingkirkan tangan wanita itu dari lengannya. Ia sungguh merasa risih. 


"Tapi gantengnya kebangetan, kayak artis. Kulitnya putih, halus, cakep. Apalagi pakai jas seperti ini." Wanita itu benar-benar heboh, tidak peduli tatapan orang lain kepadanya. 


Sultan merinding saat wanita itu dengan lembut mengusap lengannya. Ia pun meminta penjual itu untuk segera membungkuskan buburnya. Setelah membayar, Sultan dengan setengah berlari masuk ke mobil. 


Wanita itu pun mengejar dan bahkan mengetuk-ngetuk kaca mobil. Meminta Sultan agar membukakannya. Namun, Sultan langsung melajukan mobilnya menjauh dari wanita itu. Sungguh, ini seperti mimpi buruk untuknya. 


Bukan hanya wanita itu saja yang membuat hatinya dongkol, tetapi Nabila yang tergelak keras di dalam mobil. Wanita itu rasanya puas ketika melihat Sultan yang digoda oleh emak-emak 'cantik'. 


"Diem, Kadal! Jangan bikin gue makin kesal," perintah Sultan. Namun, tawa Nabila justru terdengar kian keras. 


"Sial amat nasib lu, Sul." Tawa Nabila perlahan memelan, tetapi masih mampu membuat Sultan berdecak kesal. 


***


"Riel, ada yang mau mama bicarakan denganmu," kata Zety. Saat ia sedang duduk berdua bersama dengan putranya. 


"Apa, Ma?" Tidak ada rasa heran atau curiga yang Ariel rasakan. Ia masih tetap bersikap biasa saja. 


"Menurutmu, bagaimana Nesya?" tanya Zety hati-hati. 


"Tidak gimana-gimana, memangnya kenapa, sih, dengan bocil itu," ujar Ariel mulai heran. 


"Mama jangan bercanda," timpal Ariel disertai gelakan tawa. "Mana mungkin aku cinta sama anak kecil seperti dia. Kita bahkan tidak sebanding, Ma." 


"Loh, memangnya salah? Dia bukan anak kecil lagi, tapi dia itu gadis dewasa. Kuliah saja sudah hampir lulus. Sama seperti Kayla. Atau kamu mau sama Kayla?" tanya Zety terus. 


"Maksud Mama apa, sih? Nanya-nanya gitu? Mama mau jodohin aku sama salah satu dari mereka? Kalau memang iya, aku menolak dengan keras, Ma. Aku tidak mau menikah karena perjodohan," kata Ariel penuh ketegasan. 


"Kenapa? Apa kamu sudah punya calon sendiri? Atau kamu belum bisa melepaskan Nabila," tukas wanita itu. Menatap sang putra penuh selidik. "Ingat, Riel. Nabila sudah bahagia bersama Sultan." 


"Aku tahu, Ma. Bukan aku tidak bisa melepas Nabila, tapi aku tidak mau jika dijodohkan. Aku berhak memilih pasangan hidupku sendiri, Ma. Bukankah jika sudah menikah nanti, aku yang akan menjalani," kata Ariel terselip penekanan dalam setiap ucapannya. 


Zety menutup rapat mulutnya. Ia tahu, ucapan Ariel memang benar adanya dan ia tidak akan bisa memaksa putranya untuk selalu mau menuruti keinginannya. 


Sebenarnya, Zety pun masih ragu dengan keinginannya, tetapi ia lakukan itu agar Ariel bisa cepat melupakan Nabila. Ia tidak mau jika rasa cinta Ariel untuk Nabila akan berdampak yang tidak baik untuk putranya. 


Tidak mau kian berdebat, Ariel pun memilih untuk berpamitan ke kamar. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya. Zety tidak melarang sama sekali dan membiarkan putranya pergi. 


Setelah mengunci pintu kamar dengan rapat, Ariel dengan segera menghempaskan tubuhnya di ranjang king size miliknya. Menatap langit-langit kamar dan memikirkan banyak hal. 


Ia yakin dengan pasti, kalau ide sang mama tadi ada karena desakan dari Nesya. Gadis itu pasti sudah memohon kepada orang tuanya agar menjodohkannya dengan Ariel. Sungguh, demi apa pun, Ariel sangat membencinya. 


Perhatian  Ariel tiba-tiba teralihkan oleh sebuah masuk dan ia mendes*hkan napas secara kasar ketika melihat pesan dari Nabila tersebut. 


Riel, gue udah jadi istri Sultan sepenuhnya. Doain gue cepet hamil biar Sultan makin sayang sama gue, dan lu juga cepet dapat ponakan lucu. 


Ariel memaksa senyumnya ketika melihat emot tersenyum dan penuh cinta di akhir pesan itu. Ia berusaha turut bahagia meski hatinya merasakan luka. 


Pasti, Na. Gue doain semua kebahagiaan lu. Doain gue juga bisa cepet nyusul dan kalau kita udah sama-sama punya anak, kita jodohin anak kita aja nanti. 


Edan lu, Riel! Gue hamil aja belum, oe!


Ariel berusaha membalas dengan candaan. Ia tidak mau membuat Nabila menjadi curiga kepadanya. 


***


Semoga puasa hari ini diberi kelancaran untuk semuanya.


Jangan lupa dukungan kalian.


akhir bulan kisah ini bakal tamat, jadi Audrey dan lainnya baru akan mulai lagi awal bulan.