
"Kamu bisa enggak kalau kita lagi berantem atau salah paham gini, jangan ada mama. Mereka itu ribet!" omel Sultan saat ia dan Nabila sudah berada di dalam kamar.
"Yah, mana aku tahu kalau kita mau berantem. Aku 'kan cuma mau izin ke mall sama mama, tapi kamu malahan ngebentak. Ya rasakan saja." Nabila sungguh tidak takut. Ia justru menatap suaminya dengan menantang.
Arggh!! 'Kan ... 'kan, Sultan jadi gemas sendiri. Istrinya itu selalu saja pandai menjawab.
"Sudahlah, aku mau tidur!" Sultan merebahkan diri dengan cukup kasar. Nabila pun menyusul, tiduran di samping suaminya bahkan dengan manjanya memeluk lelaki itu.
"Aku mau." Nabila merengek, sedangkan Sultan berdecak kesal. Baru saja mereka mau balikan, eh Nabila sudah mulai lagi. Mancing-mancing emosi.
"Mau apa? Jangan minta yang aneh-aneh. Aku capek," keluh Sultan. Tubuhnya memang sangat lelah seharian ini. Pekerjaan kantor yang padat juga pergi mengantar tiga wanita somplak ke mall, membuatnya merasa sangat lelah.
"Kalau kamu capek, ya udah. Enggak jadi. Kita tidur aja, ntar aku bilang anak kita aja. Kalau Daddy-nya mau jenguk besok karena sekarang sedang capek," kata Nabila disertai kekehan.
Berbeda dengan Sultan yang langsung menindih Nabila. "Kenapa tidak bilang kalau anak kita minta dijenguk? Aku juga sangat merindukannya." Tatapan Sultan terlihat menggoda.
"Katanya kamu capek," ledek Nabila.
"Tidak jadi. Aku tidak jadi capek." Sultan pun mulai mencium bibir Nabila. Namun, itu hanya sekilas karena Nabila langsung melepaskannya.
"Kenapa?" Napas Sultan mulai memburu. Terlihat begitu penuh napsu.
"Kamu boleh jenguk anak kita, tapi dengan satu syarat," kata Nabila menggantungkan ucapannya. Lagi, lagi Sultan berdecak keras.
Semoga saja dia tidak minta macam-macam. Batin Sultan mulai cemas.
"Aku mau bakso," rengek Nabila.
Ah, Sultan bernapas lega. Kalau hanya bakso saja, sepertinya permintaan itu masih wajar.
Sultan masih bisa bernapas lega. Itu masih mudah. Ia tinggal minta penjualnya untuk membuat, mudah bukan. Dengan kekuatan uang, dijamin semua akan beres.
"Aku juga mau, anaknya itu cewek cowok biar lengkap."
"Kadal!!" Suara Sultan memekik hingga membuat Nabila menutup rapat telinganya. "Kamu ini jangan aneh-aneh! Mana ada bakso beranak dan anaknya itu ada kelaminnya. Cara bedainnya gimana? Itu bakso bukan bayi."
Astaga. Sultan kehabisan kesabaran lagi. Sungguh ia tidak habis pikir dengan istrinya yang selalu saja aneh-aneh, dan sekarang Nabila menggunakan senjata andalan terakhir. Memasang wajah memelas lalu menangis.
Sultan mengacak rambut kasar. Sungguh ia sangat ingin meng—iih, istrinya. Namun, ia tidak mungkin melakukan itu. Mana tega ia melihat istrinya terluka.
"Ya udah, kalau kamu enggak mau. Jangan tidur denganku. Aku mau tidur sendiri!" Nabila merajuk. Mendorong tubuh Sultan lalu membelakangi lelaki itu. Bahkan, Nabila menarik selimut sampai menutup seluruh kepalanya.
Wanita itu terlihat seperti kepompong.
"Na, maafin aku. Beneran aku enggak ada niat buat ngebentak kamu, cuman aku enggak habis pikir sama permintaan kamu—"
"Permintaan calon anak kamu. Calon anak kita bukan permintaanku." Nabila meralat.
"Ya, maksudku itu. Sekarang daripada kamu ngambek, mendingan kita keluar. Cari apa yang kamu mau. Ya," rayu Sultan.
Lelaki itu tidak menyangka jika dirinya bisa jadi sebucin itu pada istrinya yang menyebalkan. Bahkan, perintah aneh istrinya pun, pasti akan ia turuti.
Pada akhirnya, dengan berbagai drama. Mereka pun pergi ke penjual bakso dan Sultan membayar cukup mahal hanya untuk membuatkan satu bakso beranak dua. Anaknya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
Bagaimana cara membedakannya? Tanya saja pada Nabila atau penulisnya. Karena hanya mereka yang tahu. Wkwkwk.