BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 26



Tidak ingin membuat mertuanya curiga apalagi sampai berdebat dengan sang suami, Nabila memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Ia beralasan lapar dan ternyata berhasil. Dengan gegas Rasya mengajak Nabila makan bersama. Bahkan, Rasya meminta mereka untuk menginap meski semalam sebelum esok pindah ke rumah baru mereka. 


Ingat, perintah Rasya harus dipatuhi dan tidak bisa dibantah. 


Nabila merasa takjub ketika masuk ke kamar Sultan meskipun ini bukanlah pertama kali wanita itu masuk ke sana. Akan tetapi, ia sudah lama tidak menginjakkan kaki di kamar tersebut dan semua telah berbeda. 


"Ternyata kamar lu udah makin keren aja. Lu yakin, Sul? Bakal ninggalin kamar mewah ini? Gue aja kalau disuruh tidur di sini bakalan betah banget." Nabila merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata secara perlahan. Seolah sedang menikmati suasana di kamar tersebut. 


"Emangnya kenapa? Apa lu mau tinggal di sini? Emang kamar lu enggak bikin betah?" Sultan bertanya balik. 


"Em ... enggak gitu, sih. Kalau gue mah, lebih baik kita punya rumah sendiri aja, walaupun kamar kita sama-sama nyaman. Karena yang gue tahu, rumah itu ibarat istana dan hanya ada satu ratu di dalamnya. Ya, kalau di sini, Mama Kurap lah ratunya. Dari banyak kisah yang gue baca, sebaik apa pun menantu atau mertua, pasti ada ketidakcocokan. Jadi, gue lebih milih tinggal terpisah walaupun harus sering menjenguk mereka," ujar Nabila panjang lebar. 


"Baguslah." Sultan membalas singkat membuat Nabila mencebik kesal. 


"Sul ...." Nabila terdiam, sedangkan Sultan menunggu kelanjutan ucapan wanita tersebut. 


"Apa? Jangan buat enggak sabar, Kadal!" dengkus Sultan. Ia ingin sekali meng-ihhhhh istrinya tersebut. 


"Aishh, dasar enggak sabaran. Gue cuma mau ngomong, gue udah ngebebasin lu deket sama Hanum. Lu boleh ketemu sama dia, kapan pun lu mau. Tapi, gue mohon ... jangan pernah sekalipun lu ngajak Hanum ke rumah pribadi kita nantinya. Jujur, gue haramin hal itu." Nabila mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


Sebenarnya, hal ini sangatlah berat untuk Nabila, terutama hatinya. Batin wanita itu tidak seceria senyumnya, tetapi Nabila berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ada luka yang ia pendam sendirian. 


"Kenapa?" Sultan justru bertanya dengan bodohnya. Lelaki benar-benar tidak peka. 


"Tidak papa. Harusnya lu tahu gimana ngejaga hati perempuan. Jadi, mendingan sekarang gue mandi terus tidur cantik. Ingat, besok sore kita harus pindahan." Nabila bangkit dan langsung ke kamar mandi sebelum air matanya mengalir dan itu akan membuat Sultan makin tidak suka padanya. 


Sementara Sultan hanya terpaku dan terus menatap ke mana pun Nabila pergi. 


Ya Tuhan, kenapa hatiku segelisah ini?


***


Sultan lagi-lagi dibuat kesal karena Nabila lupa membawa handuk. Wanita itu sangat berisik dan meminta bantuan suaminya. Sultan hanya bisa mencebik saat menyerahkan handuk tersebut. Ia benar-benar dongkol kepada Nabila karena menganggap wanita itu tidak mengerti dirinya.


Baru berciuman saja sudah membuat dirinya terngiang, apalagi melihat kulit putih Nabila yang masih ada sisa air yang belum terkena handuk, dan kaki jenjang Nabila yang terekspos. 


Sungguh, Sultan belingsatan hanya dengan membayangkan saja. 


"Argh! Sial!" umpat Sultan. 


"Lu kenapa, Sul? Gila?" tanya Nabila setengah meledek.


Wanita itu dengan santai memakai kaos milik Sultan yang kedodoran dan juga celana boxer lelaki itu. Sungguh, penampilan Nabila yang seperti itu justru makin membuat Sultan begitu tergoda.


Andai ... ah, Sultan tidak bisa meneruskan lagi. 


"Lu pakai baju mama aja, ya. Biar gue bantu pinjem," kata Sultan. Ia hendak pergi dari kamar, tetapi Nabila menahan. 


"Enggak usah. Dah, gue pakai ini. Lagian, gue udah ngantuk banget. Gue enggak mau kalau disuruh ganti lagi," tolak Nabila. 


Sementara Nabila masih duduk di tepi ranjang. Mengamati setiap sudut kamar itu. Kamar mewah yang tampak elegan dan menonjolkan kesan maskulin. Membuat Nabila merasa betah. 


Hampir lima belas menit berlalu, Sultan belum juga selesai hingga membuat Nabila mulai merasa jenuh. Dengan isengnya gadis itu membuka laci kecil nakas yang terletak di samping tempat tidur. Namun, Nabila langsung dibuat terkejut ketika melihat sebuah foto tanpa bingkai yang tergeletak di sana. 


Foto Hanum yang tersenyum manis hingga membuat wanita itu terlihat sangat cantik. 


Pantas saja gadis itu bisa membuat Sultan klepek-klepek. Berbeda dengan dirinya yang apabila tersenyum, pasti Sultan akan mengatai Nabila sebagai orang gila. 


Hati Nabila terasa berdenyut. Ia tetap berusaha tersenyum meskipun terpaksa. Ia tidak menyangka jika Sultan sebesar itu mencintai Hanum. Seandainya saja Sultan wanita yang dicintai Sultan adalah dirinya, sudah pasti Nabila akan merasa sebagai manusia paling bahagia di muka bumi ini. 


Halu lu ketinggian, Na! 


Hah! 


Nabila mengembuskan napas kasarnya. 


Semua tentang Hanum. Apa pun demi Hanum, Hanum, dan Hanum. 


Sungguh itu sangat menyebalkan bagi Nabila. 


Nabila menghirup napas dalam dan mengembuskan secara perlahan. Ia ingin beban yang terasa menghimpit dada bisa sedikit berkurang. 


Dosakah kalau gue cemburu kepada wanita ini. Andai Sultan juga sebucin ini pada gue maka gue akan merasa sangat bahagia. Ahh ....


"Apa yang lu lakuin?" Nabila tergagap ketika melihat Sultan keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk sebatas pinggang. 


Dengan gegas Nabila menaruh foto Hanum di tempat semula dan menutup laci dengan rapat. 


"Jangan sembarangan menyentuh barang-barangku!" sembur Sultan marah. Ia tahu apa yang barusan dilihat oleh Nabila. 


"Maaf, Sul. Gue cuma penasaran aja. Siapa tahu lu nyimpen ****** di laci ini. Haha." Nabila tertawa sumbang. Tidak peduli meskipun Sultan sejak tadi terus menatap tajam ke arahnya. 


"Lu kalau ngomong yang bener!" Suara Sultan masih meninggi. Nabila dengan gegas naik ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya sampai sebatas dada. 


"Gue capek. Mau tidur." Nabila berbicara tanpa menatap Sultan. 


Cukup lama menunggu dan tidak ada pergerakan dari Nabila, Sultan pun segera memakai baju tidur. Ia pun membuka laci nakas. Ia terdiam sesaat ketika melihat foto Hanum di sana. 


Ia lupa. Kapan terakhir kali melihat foto itu. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak melihatnya. 


Sultan pun menatap Nabila yang tertidur berbalut selimut. Tiba-tiba, sebersit rasa tidak nyaman menyelimuti hati Sultan. Ia yakin kalau Nabila pasti sudah melihat foto ini.


Dengan gegas, Sultan membawa foto tersebut dan menyimpannya di tempat lain. Ia tidak mau jika Nabila sampai tahu. Walaupun ia tidak mencintai Nabila dan itu adalah foto Hanum, wanita pujaan hatinya. Akan tetapi, Sultan tidak mau membuat perasaan Nabila sakit. 


Halahh!