
Tidak ada hukuman atau nina-ninu, Sultan dan Nabila justru terus saja berdebat. Hal yang seharusnya mengharukan karena Sultan tidak terlibat dalam kecelakaan itu. Namun, semua berubah mengesalkan apalagi kalau bukan karena si Nabila Kadal.
"Gue akan ngasih hukuman nanti, kalau lu udah sembuh," ujar Sultan. Memakai kembali kemeja yang barusan dilemparnya.
"Sembuh dari apa, gue sakit aja enggak. Eh, tapi gue sakit hati deh, kemarin-kemarin. Mungkin sekarang sedang proses penyembuhan," balas Nabila disertai kekehan.
"Hmmm ... lu sembuh dari gila. Puas lu!" cebik Sultan. Tanpa dibalas lagi oleh Nabila.
Nabila yang saat itu sedang duduk tenang di atas ranjang, langsung tersentak saat Sultan tiba-tiba menindih tubuhnya. Bahkan, lelaki itu tidak membiarkan Nabila bisa kabur meskipun sudah meronta sekuat tenaga. Sultan masih tetap mengungkungnya. Mengunci tubuh wanita itu bahkan dengan jahilnya Sultan menaruh kepala di ceruk leher istrinya hingga membuat tubuh wanita itu meremang seketika.
"Sul, bangun, oe!" Nabila berusaha mendorong dada bidang Sultan, tetapi lelaki itu justru kian menindihnya. Tidak peduli pada perintah Nabila. "Napas gue engap, astaga. Lu berat banget."
"Tenang aja. Gue bakal kasih lu napas buatan kalau pingsan." Sultan menjawab santai tanpa sedikit pun beranjak dari tubuh istrinya.
"Kalau gitu gue mau pingsan dulu ya," ujar Nabila. Berpura-pura memejamkan mata, sedangkan Sultan pun mendengkus kasar karenanya.
Lelah terus meronta, Nabila pun memilih untuk diam dan membiarkan Sultan melakukan apa yang lelaki itu inginkan. Percuma ia menolak, ujung-ujungnya pasrah juga.
Percuma ia keras-kerasa berteriak, ujung-ujungnya mendes*h juga. Eh! Haha.
***
Ariel menatap lesu ke arah ponsel yang saat ini sedang dipegangnya. Setelah mendapat omelan panjang lebar dari sang mama. Juga, papanya yang mendiamkan dirinya, membuat Ariel lebih memilih untuk mengurung diri di kamar. Bukan karena takut, tetapi ia lebih memilih untuk menghindari masalah yang mungkin akan semakin rumit.
Ia mendadak galau karena baru saja mendapat pesan dari Nabila yang mengatakan bahwa Sultan sudah pulang dengan selamat. Wanita itu menceritakan semuanya tanpa peduli pada perasaan Ariel yang terluka.
Ia memang berusaha untuk ikhlas. Namun, bersikap ikhlas tidak semudah saat mengucapkannya bukan? Butuh kesabaran dan kegigihan saat melakukannya.
"Gue harap lu bener-bener hidup bahagia setelah ini, Na."
Lelaki itu mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Lalu mengembuskan dengan perlahan. Ia bahkan menaruh ponselnya secara sembarang. Berusaha untuk tidak menyentuh beranda pipih itu selama beberapa waktu. Ia tidak mau jika terus berharap pada Nabila dan sadar jika itu ia lakukan maka kemungkinan ia akan terluka kian dalam.
Tidak mau terlalu larut dalam pikiran dan kesedihannya, Ariel lebih memilih pergi ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Mungkin dengan itu pikirannya akan tenang. Hatinya pun akan merasa lebih baik.
Ariel memejamkan mata, membayangkan Nabila yang sedang tersenyum senang bersama Sultan. Wanita itu pasti terlihat cantik dengan senyumannya. Namun, Ariel segera menggeleng untuk mengusir pikiran itu. Tidak mau jika hatinya semakin sakit karena terbayang Nabila.
"Ayolah, Riel. Come on. Cewek bukan Nabila aja, dan lu bisa buka hati lu buat wanita lain. Jangan sampai lu terus memikirkan Nabila dan akhirnya lu jadi jomblo karatan."
Ariel berusaha menyemangati dirinya meski terkadang lemah, letih, lesu, loyo bestie. Eh!
"****!"
Cukup lama berendam, Ariel pun segera bangkit dan mengguyur tubuhnya di bawah shower sebelum akhirnya memakai jubah mandi. Ariel terkejut ketika masuk kembali ke kamar, ia mendengar ponselnya yang berdering. Dengan gegas, Ariel menerima panggilan tersebut.
Ia pikir, Nabila yang meneleponnya hingga hendak menerima seantusias itu. Namun, ternyata bukan. Melainkan Jeje, gadis paling menyebalkan menurut Ariel.
Ia menaruh kembali ponselnya tanpa ingin menerima. Namun, panggilan itu terus saja membuat telinga Ariel merasa sumpek. Dengan bermalasan, ia pun terpaksa menerima panggilan tersebut.
"Kenapa?" tanya Ariel seperti tidak bertenaga.
"Kapan? Lu di situ dulu. Gue habis ini kesitu." Ariel memerintah dengan terburu.
Ia pun segera mematikan panggilan tersebut dan memakai kaos oblong secara sembarang. Lalu berjalan tergesa keluar dari kamar.
"Kamu mau ke mana, Riel?" tanya Zety yang baru keluar dari arah dapur.
"Ke rumah sakit, Ma. Barusan Jeje telepon katanya mamanya masuk rumah sakit lagi," sahut Ariel yang membuat Zety terkejut.
"Kalau gitu mama ikut kamu, ya." Zety pun segera mendekati putranya. Bahkan, sudah menggandeng putranya untuk mengajak pergi dari rumah.
"Ma, tidak izin sama papa dulu? Ntar dicari, loh." Ariel menahan Zety yang hendak masuk ke mobil.
"Biarin aja dia kelimpungan nyari mama. Salah sendiri masih diemin mama sampai sekarang."
Mendengar jawab sang mama, membuat Ariel merasa tidak enak hati. Karenanya, mama dan papanya menjadi bertengkar.
"Kenapa muka kamu jelek gitu? Dah, jangan dipikirin, nanti malam juga papamu baikan lagi. Mendingan sekarang kita langsung ke rumah sakit." Zety meyakinkan putranya. Ia tahu apa yang membuat putranya mendadak murung seperti itu.
Ariel pun tidak berbicara apa pun lagi. Ia kembali fokus pada setir kemudi dan bergegas menuju ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Ariel dan Zety langsung menuju ke ruangan VIP tempat Agnes dirawat. Ketika baru masuk ruangan, mereka langsung disambut oleh Jeje dan Gatra, sedangkan Agnes masih tertidur lelap dan wajah wanita itu memang terlihat sangat pucat.
"Loh, Zet, kamu tahu istriku dirawat?" Gatra tampak terkejut dengan kedatangan Zety dan Ariel.
"Iya, Mas. Ariel mau ke sini, jadi aku ikut sekalian. Gimana keadaan Agnes? Apa sudah lebih baik?" tanya Zety lembut.
"Sudah mendingan. Dia sudah sadar meskipun sekarang sedang tidur lagi," sahut Gatra.
"Syukurlah. Semoga lekas membaik," ucap Zety penuh harap dan hanya disambut 'aamiin' oleh mereka.
***
"Kenapa wajah lu jelek gitu? Bukankah harusnya lu seneng karena nyokap lu udah sadar. Tinggal pemulihan." Ariel terus menatap Jeje yang sejak tadi hanya diam bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Aku cuma masih kepikiran mama aja," kata Jeje lesu. Disertai des*han napas kasar berkali-kali.
"Gue tahu, sih. Perasaan lu. Gue juga paham seberapa sayangnya elu ke orang tua lu. Gu cuma bisa doain semoga nyokap lu lekas membaik," ucap Ariel. Menyesap kopi yang masih mengepulkan asap panas secara perlahan.
"Masalahnya, sekarang bukan cuma kesehatan mama yang bikin pikiranku kacau." Jeje lagi-lagi menghela napas panjang. Membuat Ariel merasa sedikit curiga karena melihat Jeje seperti memiliki masalah yang sangat berat.
"Lalu apa lagi masalahnya? Mama lu bahkan pernah drop lebih parah dari ini, lu masih bisa tegar, tapi kenapa sekarang gue ngerasa kalau lu punya beban yang sangat berat?" tanya Ariel penuh curiga.
"Aku kepikiran ucapan mama yang nyuruh aku buat cepet nikah sebelum dia pergi. Aku sedih. Aku nolak dan tidak mau nikah. Lebih baik aku tidak menikah daripada harus kehilangan mama. Aku takut kalau aku sudah menikah, mama bener-bener ninggalin aku."
Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Membuat Ariel merasa tidak tega. Jika biasanya ia akan sebal dengan sikap Jeje, tetapi jika dalam situasi seperti ini. Rasa sebal itu akan berubah menjadi rasa iba.