
Sungguh, Ariel dibuat kesal oleh Jeje yang ternyata sangat menyebalkan. Bukannya takut atau meminta maaf, gadis itu justru tergelak keras meskipun Ariel sudah mengumpatinya dan mengatai gila. Jeje sama sekali tidak merasa sakit hati.
"Sumpah, Je. Gue enggak habis pikir sama jalan pikiran lu! Bagaimana bisa lu ngenalin gue sama cewek kayak gitu? Kalau sampai beneran gue ngenalin dia ke mama, udah pasti gue bakal digantung di pohon toge!" seru Ariel tidak terima.
"Kalau digantung mati?" tanya Jeje santai.
"Iyalah. Pohon togenya yang mati," balas Ariel masih penuh emosi.
"Ya udah, sih. Jadi, jangan takut kalau kamu butuh pohon toge, aku bisa kok cariin buat kamu," goda Jeje. Sama sekali tidak takut pada kemarahan Ariel.
"Jelita Aurellia!" pekik Ariel geram. "Ini bukan soal pohon toge!"
"Ya, aku tahu. Ini soal aku yang salah nyariin cewek buat kamu 'kan? Padahal itu bukan cewek asli, Riel." Jeje berusaha menahan tawa. Apalagi saat melihat wajah Ariel yang tampak terkejut.
"Lalu? Jangan bilang dia itu waria!" sentaknya.
"Emang iya. Hahaha." Jeje tertawa sangat puas. Sungguh, ini sangat menyenangkan bagi Jeje. Kapan lagi bisa mengerjai Ariel sampai sekesal itu. "Dia dulu pria, tapi sekarang udah jadi wanita, tapi tenang aja, Riel. Dia doyannya sama pria kok."
"Lu beneran gila, Je! Bisa-bisanya lu mikir sampai sejauh itu buat ngerjain gue! Ngenalin gue sama waria. Dasar lu arrgghhhh!!!" Ariel menggeram. Ingin sekali ia melucuti pakaian wanita itu dan ah ... jangan dilanjut bestie.
"Hahahaha sabar, Riel. Gue cuma bercanda."
"Lu ...." Umpatan Ariel tertahan saat Jeje memberi kode padanya agar diam. Wanita itu terlihat fokus dengan layar ponselnya dan selang beberapa saat Jeje terlihat menerima panggilan entah dari siapa.
"Dia udah di depan," kata Jeje saat baru saja selesai menerima panggilan tersebut.
"Siapa?" tanya Ariel bingung.
"Calon pacar kamulah! Eh, pacar pura-pura ya. Aku lupa. Haha."
Sungguh, Ariel menganggap Jeje itu sepertinya sudah mulai gila karena sejak tadi terus saja tertawa dan bahkan wanita itu merasa sangat puas bisa melihatnya menderita.
Tanpa berbicara apa pun, mereka bergegas ke depan lagi. Belinda tadi, terlihat sedang duduk dengan gaya centil, menatap pantulan wajahnya di cermin sambil mengangkat satu kaki hingga terlihatlah pahanya, serta buah dada yang dihasilkan dari proses suntikan. Ariel sama sekali tidak mau menatapnya. Apalagi saat mengetahui bahwa ia adalah wanita jelmaan, membuat Ariel makin merinding.
Namun, perhatian Ariel teralihkan pada seorang wanita cantik dengan gaya anggun yang saat ini sudah berdiri di depan Jeje. Senyuman wanita itu terlihat sangat manis. Semanis penulis cerita ini. Eeakkkk!!
Mereka pun berkenalan lalu duduk dalam satu meja bersama wanita jadi-jadian tadi. Namun, saat menatap dua wanita asing di depannya, Ariel langsung berbisik di telinga Jeje.
"Lu yakin yang satu wanita tulen 'kan, Je? Jangan sampai ternyata dia wanita jadi-jadian kayak satunya."
Jeje tidak menjawab, hanya menanggapi dengan tawa yang membuat kekesalan yang dirasakan Ariel kian membuncah dalam dada.
***
Baru saja pulang berkencan buta dengan wanita yang dikenalkan oleh Jeje, Ariel lagi-lagi mengeluh di depan wanita itu. Wajahnya tampak frustasi hingga membuat Jeje menghentikan pekerjaannya sesaat.
"Kamu kenapa lagi? Pulang kencan bukannya seneng malahan kayak orang depresi gitu." Jeje menatap Ariel dengan terheran.
"Sumpah, Je. Cewek yang lu kenalin ke gue, kagak ada yang bener! Yang satunya waria, yang satunya lagi ternyata playgirl," keluh Ariel disertai helaan napas panjang.
"Masa, sih?" tanya Jeje heran.
"Masa, sih?" Ariel menirukan pertanyaan Jeje. "Emang lu kagak lihat kalau pipi gue merah gini?"
Jeje segera mendekati Ariel dan mengamati dengan lekat wajah lelaki itu. Memang, ia bisa melihat pipi lelaki itu yang memerah seperti bekas tamparan.
"Lah, kok bisa?" tanya Jeje bingung.
"Ya Tuhan, emang sih, dia itu sering jalan sama cowok, tapi mana aku tahu kalau ternyata itu cowok-cowok dia. Soalnya, dia kalau bilang ke aku, itu cuman temen dia," jelas Jeje. Merasa tidak bersalah karena sudah membuat Ariel bernasib sesial itu.
"Masa bodo lah. Pusing gue. Susah juga nyari pasangan pura-pura." Ariel memijat pelipisnya.
"Rasain kamu, Riel. Akhirnya kamu ngerasain apa yang aku rasain," kata Jeje setengah meledek.
"Dah, mending elu aja yang jadi pacar pura-pura gue. Titik enggak pakai koma," perintah Ariel penuh ketegasan.
Jeje menghirup napas dalam. Mengumpulkan tenaga untuk mengomel kepada lelaki di depannya. Bahkan, dadanya pun terlihat naik-turun. "Bukankah sudah kubilang aku tidak mau! Tidak mau! Kamu mau hubunganku dengan Nesya renggang? Kamu mau hubungan mamaku dan Tante Etha jadi renggang juga? Kamu ...."
Jeje meronta karena Ariel sudah memasukkan sepiring roti kepadanya hingga membuat mulutnya sangat penuh.
"Lu udah kaya kereta aja. Ngomong enggak berhenti," ucap Ariel berusaha menahan tawa. Apalagi saat melihat raut wajah Jeje yang terlihat lucu karena mulutnya penuh dengan roti.
"Dah, telan. Gue yang bayar," godanya. Jeje hanya menghentakkan kaki karena kesal.
***
Nesya baru saja pulang kuliah, langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Tasnya tergeletak secara sembarangan, sedangkan ponselnya masih dalam genggaman. Melihat putrinya yang seperti itu, Margaretha pun hanya bisa menggeleng.
"Kamu kenapa, Sya? Frustasi amat," tanya Margaretha.
"Pusing aku, Ma." Nesya menggaruk keningnya perlahan. "Kenapa, sih, aku dan Kak Jeje, harus Kak Jeje yang lahir duluan," keluhnya.
"Loh, memangnya kenapa? Yang hamil dulu 'kan Tante Agnes. Jadi, sudah pasti Jeje dulu yang lahir. Apa ada masalah, Sayang?" tanya Margaretha penasaran.
"Coba kalau aku yang duluan lahir. Sudah pasti, Ma. Yang deket sama Kak Ariel itu aku bukan Kak Jeje. Aku sebel Kak Ariel nolak aku karena aku masih bocil katanya." Gadis itu bersedekap kesal, sedangkan Margaretha justru tertawa.
"Ya ampun, Sya. Kamu ini ada-ada saja," ujar Margaretha. "Makanya belajar jadi cewek dewasa biar Ariel kesemsem sama kamu, Sya." Margaretha memberi ide, Nesya pun tersenyum simpul.
"Tunggu dulu, Ma." Nesya terlihat sibuk memainkan ponselnya, selang beberapa saat gadis itu pun menunjukkan gambar kepada Margaretha.
"Sya! Ini apa?" Margaretha membelalakkan mata saat melihat gambar yang ditunjukan oleh putrinya.
Gambar gaun seksi dengan belahan dada rendah, bahkan bagian bawah pun sampai terlihat sampai pangkal paha.
"Ini gaun, Ma. Biar aku kelihatan dewasa," sahut Nesya santai sambil menaik-turunkan alisnya.
"Kamu pikir dengan memakai gaun ini, kamu akan terlihat dewasa? Kamu tahu?"
"Tidak," sahut Nesya santai.
"Astaga. Mama sedang tidak bertanya padamu. Ingatlah, bukan gaun yang membuatmu terlihat dewasa, tapi sikap dan cara pemikiranmu. Kalau gaun ini itu gaun yang biasa dipakai purel," omel Margaretha kesal.
"Purel itu apa, Ma?" tanya Nesya sok polos.
"Kamu tidak tahu purel?" Margaretha balik bertanya sambil menahan kekesalannya.
Nesya menggeleng cepat. "Enggak. Emang apa? Apa purel itu wanita dewasa?"
"Purel itu Purwanti Eliana." Margaretha menjawab asal.
"Lah, bukannya itu tetangga kita, Ma?" tanya Nesya kaget. Margaretha hanya berdehem karena sudah mulai malas menanggapi pertanyaan putrinya. "Ya udah, kalau gitu besok aku manggil Mbak El, Purel gitu ya, Ma?"
"Astaga." Margaretha menggeleng sambil berdecak.