BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 73



Pasangan kekasih yang baru resmi menjalin hubungan sejak beberapa bulan lalu, saat ini terlihat berada di toko perlengkapan bayi. Ariel tampak antusias mencari pakaian untuk Sean, sedangkan Jeje hanya diam mengikuti di belakang. Wanita itu hanya sesekali mengiyakan pertanyaan Ariel. 


Hal ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya sang wanita yang sibuk memilih dan sang lelaki mengikut dengan bermalasan di belakang. Ini justru sebaliknya. 


"Je, lihatlah. Ini sangat cocok untuk Sean. Keponakan gue pasti terlihat sangat lucu saat memakai baju ini." Ariel menunjukan satu stel pakaian dengan model terbaru. Jeje hanya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan saja. 


Tak ayal, hal itu mengundang perhatian Ariel hingga akhirnya lelaki itu menaruh baju bayi tersebut ke tempat semula lalu mengajak sang kekasih pergi dari sana. Jeje tidak menolak ataupun sekadar bertanya akan dibawa ke mana. Pikiran wanita itu sedang buyar hingga moodnya mendadak ambyar. 


Setelah sampai di tempat yang cukup sepi, Ariel langsung menarik tubuh wanita itu masuk dalam dekap eratnya. Jeje sontak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya. Wanita itu hanya membisu merasakan pelukan yang terasa nyaman untuknya. 


"Kenapa lu diem aja? Apa ada yang mengusik pikiran lu?" tanya Ariel. Jeje menggeleng lemah. "Terus?" 


"Tidak papa." Jeje menjawab singkat. 


Ariel melerai pelukan tersebut lalu menatap sang kekasih dengan sangat lekat. Seolah ingin menyelami lebih dalam tatapan wanita itu untuk mengetahui apa yang membuat wanitanya tidak bahagia. Jeje mendadak lumpuh setiap kali ia bertatapan sedalam itu dengan Ariel, ia pun memalingkan wajah untuk menghindar. 


"Kalau lu bilang tidak papa, itu artinya ada apa-apa." Ariel menangkup wajah wanita itu. Mengusap pipinya dengan perlahan. "Katakan saja apa yang mengganjal hatimu. Gue enggak mau ada salah paham di antara kita." 


Jeje menghela napas panjang. Ia tidak mengerti kenapa Ariel bisa sangat peka seperti itu. Lelaki itu sepertinya selalu tahu apa yang diinginkan dan dirasakan oleh seorang wanita. Jeje masih menoleh, menghindari pandangan Ariel yang masih sangat lekat ke arahnya. 


"Kamu sangat antusias mencari baju untuk Sean. Bahkan, kulihat kamu sangat senang dengan kehadiran bayi itu. Em ... maukah kamu menjawab jujur? Apakah kamu masih menaruh rasa yang lebih dari sekadar sahabat kepada Nabila?" Jeje menunduk. Bertanya dengan sangat hati-hati karena tidak mau menyinggung perasaan Ariel. 


Berbeda dengan Ariel yang justru tergelak keras. Membuat kening Jeje mengerut dalam saking herannya. 


"Lu jangan bercanda!" sergah Ariel. "Apa lu kagak percaya kalau gue udah ngehapus perasaan gue buat Nabila? Apa lu masih ragu kalau hati gue sekarang milik lu? Gue harus jelasin apa lagi agar lu bisa percaya sama gue?" 


"Riel ...." 


"Kalau elu emang enggak percaya ya udah, enggak papa. Gue enggak akan maksa. Toh, kita udah jalani hubungan ini cukup lama. Kalau emang elu mau bukti, gue bakal buktiin. Kapan lu siap dilamar, gue bakal langsung datang." Ariel berbicara dengan menggebu, sedangkan Jeje hanya membungkam rapat mulutnya. 


Wanita itu tidak tahu lagi harus menjawab apa. 


"Soal gue yang antusias cariin baju buat Sean. Gue minta maaf kalau udah nyinggung perasaan elu. Gue sama sekali enggak ada niat buat lu. Semua ini gue lakuin karena saking senengnya bisa beliin baju buat bayi yang imut," imbuhnya. Jeje masih saja menutup rapat mulutnya karena tidak tahu harus berbicara apa. 


"Gue enggak mau kita berantem. Mendingan sekarang kita pulang. Gue enggak jadi beli baju buat Sean. Biar nanti gue ngasih mentahan aja sebagai tanda selamat." 


Ketika mereka hampir sampai di parkiran, Jeje menghentikan langkahnya dan langsung memeluk Ariel sangat erat. 


"Lu kenapa?" tanya Ariel. Ia merasakan hangat di dada dan Ariel merasa yakin kalau Jeje pasti sedang menangis. 


Dengan khawatir, Ariel segera melerai pelukan itu dan menatap Jeje yang memang sedang menangis. Membuat lelaki itu benar-benar panik. 


"Kenapa lu nangis? Apa gue ada salah?" tanya Ariel penuh kecemasan. 


Jeje menggeleng lemah. "Tidak. Aku cuma terharu aja karena kamu mencintaiku dengan tulus. Maaf, kalau aku selama ini meragukanmu. Harusnya aku percaya bahwa kamu mencintaiku." 


"Sudah, jangan dibahas nanti lu nangis makin kenceng. Mendingan sekarang kita beli ice cream aja. Gue yakin mood lu bakal balik setelah ini," ajak Ariel. 


Jeje mengusap wajah dengan cepat untuk menghapus sisa air mata itu. Setelahnya, mereka pun bergegas pergi dari sana. 


***


"Riel, kamu baru pulang?" tanya Zety saat Ariel baru saja masuk ke rumah. 


Ariel langsung duduk di samping sang mama bahkan tanpa malu bersandar di pundak wanita paruh baya itu. 


"Iya, Ma." 


"Bagaimana hubungan kamu dengan Jeje? Apa masih baik-baik saja?" Zety tampak khawatir.


"Kenapa Mama bertanya seperti itu? Apa Mama ingin hubunganku dengan Jeje tidak baik-baik saja?" Ariel entah kenapa menjadi sangat sensitif. 


"Bukan seperti itu." Zety menghela napas panjangnya. "Kalau kamu serius dengan Jeje maka mama ingin kamu segera melamarnya, tapi kamu harus yakin dulu bahwa tidak ada bayang-bayang masa lalu." 


Ariel menatap bola mata sang mama yang terlihat nanar. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang mama dan sepertinya itu luka. 


"Maksud Mama apa?" 


"Mama pernah terluka karena lelaki yang dekat dengan mama, masih sangat mencintai masa lalunya. Rasanya sangat tersiksa. Mama tidak mau kalau itu terjadi pada calon menantu mama. Kalau kamu sudah serius dengan wanita lain, maka kamu harus pastikan bahwa perasaan kamu kepada Nabila sudah tidak ada. Jangan sampai kamu salah menaruh perasaan dan akan berakibat pada kamu yang kehilangan banyak hal."