
"Loh, Tuan Sultan. Alhamdulillah, Ya Allah. Ternyata Tuan Muda selamat. Ya Allah ...."
Sultan yang baru masuk ke rumahnya merasa heran ketika Mbok Iyah langsung histeris. Wanita itu terus mengucap syukur bahkan menangis sambil memeluk lengan Sultan saking bahagianya. Berbeda dengan Sultan yang justru terlihat kebingungan.
"Ada apa, Mbok?" tanya Sultan makin bingung.
"Tuan, saya senang sekali akhirnya Tuan pulang dengan selamat. Ya Allah." Wanita paruh baya itu mengusap air mata yang masih saja mengalir deras.
"Loh, memangnya ada apa, Mbok?"
"Bukannya pesawat yang ditumpangi Tuan mengalami kecelakaan?" Mbok Iyah bertanya balik dan justru membuat kening Sultan makin mengerut dalam.
"Aku tidak tahu, Mbok. Aku tidak jadi naik pesawat karena ban mobilku bocor, ponselku juga mati," sahut Sultan. Mbok Iyah terlihat mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Lebih baik sekarang Tuan ke bandara karena semua keluarga ada di sana. Tuan dan Nyonya mengira Anda ikut dalam kecelakaan itu," suruh Mbok Iyah.
Dengan segera, Sultan pun kembali keluar rumah dan melajukan mobilnya menuju ke bandara. Ia yakin, pasti keluarganya sangat cemas sekarang ini.
Mobil yang dikemudikan oleh Sultan pun melaju kencang karena lelaki itu mengemudi dengan tidak sabar. Ia tidak mau membuat sang mama menjadi sangat khawatir apalagi menangis. Ya, meskipun Sultan meyakini kalau sekarang ini mamanya sedang menangis histeris.
Setibanya di bandara, Sultan melihat keadaan di sana sangatlah ramai. Bahkan, ia sedikit kesulitan ketika mencari keluarganya.
"Mama!" teriak Sultan. Mengalihkan perhatian Rasya dan yang lainnya.
"Sultan!" Rasya berlari kencang. Bahkan, ia sampai menyingkirkan siapa pun yang berdiri menghalangi jalannya. Setelahnya, Rasya pun memeluk Sultan sangat erat bahkan tangisan wanita itu terdengar mengeras.
"Ma ...."
"Maafkan mama, Sul. Mama sudah keterlaluan. Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah menyelamatkan putraku." Rasya makin mengeratkan pelukannya. Bahkan, air mata wanita itu sudah membasahi kemeja yang digunakan oleh putranya.
Tak berbeda jauh dengan Rasya, Sultan pun membalas pelukan sang mama sangat erat. Berharap hati wanita itu akan menjadi tenang.
"Diamlah, Ma. Aku udah di sini," ucap Sultan. Berusaha membuat tangisan Rasya berhenti.
"Kamu tidak ikut dalam kecelakaan itu?" tanya Pandu. Ia mengusap air mata yang menetes karena terharu putranya dalam keadaan baik-baik saja.
"Tidak, Pa. Ban mobilku bocor. Aku harus menunggu mobil derek datang, dan setelahnya ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggal. Akhirnya aku ketinggalan pesawat," sahut Sultan. Membuat mereka bernapas lega.
"Lalu kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Rasya kesal.
"Kehabisan baterai, Ma. Aku juga baru pulang. Waktu sampai rumah, Mbok Iyah langsung nangis dan bilang kalian di sini. Aku sama sekali tidak tahu kalau pesawat yang seharusnya aku tumpangi, mengalami kecelakaan," ucap Sultan. Disertai des*han napas kasar hingga membuat mereka terheran.
"Kenapa kamu terlihat sedih, Sul?" tanya Rasya terheran.
"Aku gagal ngejar si Kadal, Ma. Mungkin aku akan memesan tiket lagi setelah keadaan sudah membaik. Biarlah, setidaknya ada Ariel yang menunggu Nabila meskipun aku kesal karenanya." Sultan beberapa kali berdecak kesal.
"Kamu ingin menemui Nabila?" tanya Pandu.
"Iyalah, Pa. Nabila itu istriku. Jadi, aku wajib menyusulnya. Apalagi saat ini posisi Nabila sedang bersama Ariel si Kutu Kupret," decak Sultan.
"Huusstt! Ada Tante Suketi dan Om Kiano di sini," bisik Rasya. Namun, Sultan hanya menunjukkan rentetan giginya. Sementara yang namanya disebut hanya tersenyum tipis.
"Biarin, Ma. Dia kurang ajar udah bawa istriku," keluh Sultan. Namun, ucapannya justru disambut gelakan tawa oleh yang lain. "Kenapa kalian ketawa? Ada yang lucu?"
"Apaan, sih, Ma." Sultan memalingkan wajah sambil menggigit bibirnya untuk menahan senyumannya. Ia tidak mau jika menjadi bahan ledekan lagi karena tersipu seperti itu.
"Ga, putraku ternyata tidak ikut dalam penerbangan itu dan kami masih di bandara. Kamu sudah sampai rumah?" Pandu terdiam sesaat untuk mendengar Arga yang berbicara dari seberang telepon. "Baiklah, kalau begitu kamu pulang saja. Aku akan menyusul ke rumah dengan yang lain," perintahnya.
"Pa, Papa Arga barusan di sini?" tanya Sultan.
"Iya, tapi dia pulang dulu sebentar. Kalau begitu, lebih baik sekarang kita pulang saja." Pandu pun mengajak mereka semua agar pulang. Tak lupa, Pandu memberi tahu ke bagian informasi bahwa putranya dalam keadaan baik-baik saja.
***
"Na, sudah. Tenanglah. Terus berdoa semoga Sultan baik-baik saja," ucap Zahra berusaha menenangkan putrinya yang terus saja menangis.
"Ma, aku mau ketemu Sultan. Aku mau ke sana aja, Ma. Biar bisa lihat Sultan." Nabila sejak tadi terus bersikukuh ingin ke tempat terjadinya kecelakaan, tetapi kedua orang tuanya selalu melarang. Itulah kenapa Arga memilih membawa Nabila pulang ke rumah bersama dengan Ariel.
Sama seperti Arga, Ariel pun ingin memastikan keadaan Nabila hingga ia tidak sedikit pun beranjak dari sisi wanita itu.
"Ada yang ingin aku katakan padamu," bisik Arga. Mengajak Zahra keluar dari kamar Nabila.
Zahra pun hanya mengikuti sang suami dan meminta Ariel untuk menemani Nabila terlebih dahulu.
"Kenapa, Mas? Apa ada kabar dari Sultan?" tanya Zahra tidak sabar.
Arga mengangguk lemah. "Ya."
"Apa dia ditemukan dalam keadaan selamat? Apa dia baik-baik saja? Apa dia ...."
"Dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini," sahut Arga menyela rentetan pertanyaan dari istrinya.
"Ma-maksudnya?" tanya Zahra terbata. Ia belum paham maksud ucapan suaminya.
Arga pun menceritakan bahwa Sultan selamat karena tidak ikut dalam penerbangan itu. Sesuai dengan cerita Pandu. Mendengar cerita suaminya, Zahra pun mengembuskan napas lega. Ia sangat bersyukur karena anak menantunya bisa selamat.
"Aku harus bilang kepada Nabila kalau Sultan ...."
"Jangan!" Arga menahan lengan Zahra. Menghentikan langkah wanita itu yang hendak menuju ke kamar Nabila.
"Jangan halangi aku, Mas! Memangnya kenapa? Aku tidak mau melihat Nabila terus-terusan sedih," ucap Zahra penuh kekesalan.
Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Biarkan saja dulu. Ariel dan Nabila kelimpungan juga cemas dengan keadaan Sultan. Anggap saja, ini balasan atas perbuatan mereka," ujar Arga.
Zahra hendak mendebat lagi, tetapi Arga langsung mencium bibir wanita itu sangat lembut. "Perintahku tidak butuh bantahan."
"Oh, Ya Tuhan, Mas. Jangan buat aku pengen ... ahhhh!"
"Kamu ini!" Arga dengan gemasnya menyentil kening istrinya.
"Jangan pakai pengaman, Mas. Biar Andreas punya adik lagi. Haha," celetuk Zahra.
"Otak kamu, astaga!" Arga menggeleng dengan istrinya yang masih saja tidak berubah sampai sekarang.