BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 40



Sultan kelimpungan mencari istrinya. Ia berusaha untuk terus menghubungi Nabila, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung hingga membuat lelaki itu menggeram marah, kesal, dan juga cemas. Entah ke mana tujuan mobil Sultan, lelaki itu terus saja berusaha mencari Nabila. Ia sangat berharap bisa menemukan Nabila dengan segera. 


Namun, sudah berputar hampir lima kali, tidak ada tanda-tanda keberadaan Nabila hingga membuat Sultan merasa kian gelisah. Ia pun memilih pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Ia menaruh harapan jika sampai rumah nanti, Nabila menyambut dengan memberi kejutan padanya bahwa wanita itu ada di rumah. 


Akan tetapi, harapan itu hanyalah sebatas angan saja karena ketika membuka pintu rumah, bukan Nabila yang menyambutnya, tetapi Mbok Iyah yang terlihat panik. 


Wanita paruh baya itu langsung mendekati sang majikan dan bahkan menggoyangkan lengan Sultan sambil terus bertanya ke mana kiranya Nabila pergi. Sungguh, ia sangat pandai bersandiwara. 


"Aku ganti baju dulu, Mbok. Nanti aku cari Nabila lagi." Sultan pun bergegas ke kamar. Meninggalkan wanita paruh baya itu begitu saja. 


Tidak ada kejutan apalagi sapaan, kamar itu benar-benar lengang hingga membuat Sultan menghela napas panjang. 


"Lu ke mana, Kadal. Astaga, pusing gue nyari lu." Sultan menghempaskan tubuhnya secara kasar di ranjang. Lalu menatap langit-langit kamar sambil berusaha memikirkan ke mana sekiranya Nabila pergi. Ia kembali menghubungi Nabila, tetapi tetap saja tidak terhubung. 


Lu ke mana, Kadal? 


Lu kabur? Kenapa enggak ngomong sama gue? Awas aja kalau ketemu, gue kasih hukuman buat lu! 


Sultan mengirim pesan tersebut meskipun ia tidak tahu kapan Nabila akan membalasnya. 


"Arrggh! Sial!" 


Ia mengacak rambut kasar lalu bergegas bangun dan berganti pakaian tanpa mandi. Ia tidak peduli dirinya untuk saat ini karena yang terpenting baginya, ia bisa menemukan Nabila. 


***


Nabila tampak ragu ketika hendak menghidupkan ponselnya. Ia mengikuti saran Ariel untuk mematikan ponselnya saja agar Sultan makin kelimpungan. Ia sungguh sangat ingin tahu apakah Sultan mencarinya atau tidak. 


"Gimana kalau ternyata Sultan enggak ngehubungin gue sama sekali, Riel?" tanya Nabila cemas. Ia benar-benar meragu. 


"Itu artinya lu bukan orang yang spesial untuknya. Kalau emang dia sayang sama lu, dia pasti bakal nyari lu sampai ketemu. Dengerin baik-baik, nyari lu sampai ketemu." Ariel tersenyum sinis dan memberi penegasan di kalimat terakhir yang diucapkannya. 


Nabila mengangguk mengiyakan lalu menghidupkan benda pipih tersebut. Ketika baru saja menyala, banyak notif panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan masuk sehingga membuat Nabila berdecak kesal. 


Dengan sedikit memajukan tubuhnya, Ariel pun mengintip pesan dari Sultan dan ia terkekeh karenanya. Lelaki itu merasa sangat terhibur apalagi saat membayangkan wajah Sultan yang kebingungan. 


"Napa lu ketawa, Riel? Emang ada yang lucu?" tanya Nabila heran. Ia hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya. 


"Kagak. Gue cuma lagi bayangin aja. Pasti  sekarang Sultan udah kayak cacing kepanasan. Mondar-mandir kagak jelas. Hahaha." Ariel tertawa puas. Namun, hanya sesaat karena ponsel Nabila tiba-tiba berdering dan terlihat nama Sultan tertera di layar. 


Nabila hendak menerima panggilan itu, tetapi Ariel dengan cepat merebutnya. 


"Ariel! Lu ...." 


"Hallo, Sul." Ariel menaruh telunjuk di depan mulut, meminta Nabila agar diam. Wanita itu pun tidak bisa melakukan apa pun selain menuruti perintah Ariel. 


"ARIEL! Di mana Nabila? Kenapa lu yang angkat teleponnya!" Bentakan Sultan terdengar sampai telinga Nabila hingga membuat wanita itu merasa was-was. Namun, berbeda dengan Ariel yang tetap saja terlihat santai. 


"Istri lu aman sama gue," sahutnya dengan gaya sengklek'an. 


"Kalau emang lu sayang sama Nabila, cari aja sekarang kami ada di mana. Kalau lu berhasil nemuin kami, lu boleh bawa Nabila pulang. Kalau lu enggak bisa, ya kepeksa. Nabila jadi milik gue. Haha." 


"Ariel! Ini enggak lucu!" bentak Sultan. Nabila pun sudah mencubit pinggang lelaki itu. Namun, Ariel justru mematikan panggilan tersebut dan menyimpan ponsel Nabila ke dalam saku celananya. 


"Riel! Balikin ponsel gue!" perintah Nabila. Ia mulai kesal karena merasa Ariel sudah keterlaluan. 


"Lu ambil sendiri aja, Na. Di kantong celana gue. Jangan sampai salah ambil, loh. Haha." Ariel benar-benar merasa puas sudah mengerjai kedua sahabatnya itu. 


"Lu gila! Tau gini gue enggak mau ikut lu!" Nabila bergegas bangun dan hendak meninggalkan Ariel, tetapi lelaki itu langsung menahannya. 


"Ish! Jangan ngambek. Gue 'kan udah bilang kalau ini tuh cuma buat mastiin perasaan Sultan ke elu, Na," kata Ariel, masih dengan gaya santainya. 


"Tapi ini udah keterlaluan, Riel! Kalau ternyata dia malah pergi dan ninggalin gue ...." 


"Itu artinya dia enggak tulus sayang sama lu. Dah, mendingan lu ikut gue. Kita jalan-jalan menikmati waktu bersama. Besok juga Sultan bakal nemuin lu. Percayalah sama gue." Ariel bangkit berdiri dan menarik Nabila agar ikut pergi bersamanya. 


Mereka pun menghabiskan waktu bersama. Ariel benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk berduaan dengan Nabila. 


***


"Dasar Ariel kutu kupret!" umpat Sultan kesal. Ia hampir saja membanting ponselnya, tetapi saat teringat banyak data di sana, ia pun mengurungkannya. "Awas aja, kalau sampai gue bisa nemuin lu. Gue tonjok lu sampai babak belur." 


Sultan pun segera masuk ke mobil lagi dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Zety. Ia yakin kalau mereka tahu di mana keberadaan Ariel. 


Setibanya di sana, Sultan langsung disambut antusias oleh Zety. Bahkan, ia seperti seorang tamu kehormatan. Begitu pun dengan Kiano yang merasa senang dengan kedatangan Sultan. 


"Tumben sekali kamu datang ke sini waktu Ariel sedang ke luar kota, Sul?" tanya Zety penasaran. 


"Loh, emangnya Ariel sedang di luar kota, Tan? Kok dia enggak bilang padaku?" Sultan bertanya balik. Ia tersenyum licik karena merasa tidak salah datang ke sini, dan bisa  mendapatkan informasi tentang istrinya. 


"Tumben sekali. Biasanya dia pergi selalu ngajak kamu dan Nabila," ucap Kiano yang juga heran. Ia pun tidak tahu soal putranya yang sedang mengerjai Sultan. 


"Tidak, Om. Emangnya si Ariel ke mana, Om?" Sultan tidak sabar sendiri. 


"Lagi ke Jawa Timur. Perjalanan bisnis." 


"Lama di sana, Om?" Sultan berusaha terus mengorek informasi. 


"Sekitar semingguan." 


Sultan pun mengangguk senang mendengar jawaban Kiano. Ia tidak menyangka jika Ariel akan membawa Nabila sampai sejauh itu. Dengan gegas, Sultan pun berpamitan pulang karena ia akan bersiap untuk menyusul Nabila. 


Ia tidak mau jika sampai meninggalkan Nabila terlalu lama. 


"Bisulan!" Pekikan Rasya menyambut kedatangan Sultan yang baru saja sampai di ambang pintu. Lelaki itu bahkan sampai menutup telinga karena teriakan sang mama yang seperti akan memecahkan gendang telinganya. 


"Astaga, Ma."