BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 50



Nabila memejamkan mata saat Sultan sudah meraup bibirnya. Bahkan membenamkannya. Sebisa mungkin, Nabila membalas ciuman tersebut meskipun masih kaku.  Lidah mereka saling berbelit satu sama lain.  


Tanpa sadar, tangan Sultan sudah bergerilya. Turun menjelajah bukit kembar yang masih sebesar buah jeruk nipis—kata Nabila. Ketika Sultan mulai sedikit memberi remas*n, Nabila pun mengernyit. Antara geli dan sakit bercampur jadi satu. 


"Rem*s terus, Sul. Biar gede kayak lemon," kata Nabila disela desah*nnya. 


Bukannya menjadi makin gencar, Sultan justru mendengkus kasar. Sungguh, ucapan Nabila menghancurkan suasana syahdu tersebut. 


"Lu mending jangan ngomong gitu. Tinggal des*h aja jangan sambil ngomong apa pun," perintah Sultan. Nabila pun hanya menanggapi dengan anggukan saja. 


Setelah dirasa suasana  kembali syahdu, Sultan mulai memasukkan tangan ke dalam kaos Nabila. Namun, ia tersentak karena wanita itu tiba-tiba menepuk tangannya cukup kencang. 


"Kenapa?" tanya Sultan ketus. 


"Aahh ahh ahh," des*h Nabila. Kening Sultan pun mengerut dalam karena tidak paham maksud Nabila. 


"Apaan, sih. Yang jelas? Apa maksudnya gue enggak boleh pegang ini?" Mood Sultan benar-benar mulai memburuk. 


"Aahh aahh aahh." Nabila terus saja mendes*h. Membuat Sultan benar-benar merasa sangat geram. 


"Ngomong oe! Kadal! Gak jelas banget," cibir Sultan. 


"Lu yang enggak jelas. 'Kan barusan lu yang ngasih perintah ke gue. Jangan ngomong apa pun! Lu cukup des*h aja. Ya gue ngikut lah," ujar Nabila. Sultan pun menggeleng tidak percaya akan kebodohan istrinya. "Lagian, Sul. Ngapain lu mau megang-megang. Ingat, kita bukan muhrim." 


"Lu ngomong apa? Terus gue ijab kabul buat apa?" Sultan mendelik, tetapi Nabila justru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan. 


"Gue lupa. Dah, kita serius lagi, yuk. Besok 'kan udah mode sholeh dan sholehah," kata Nabila. Berusaha  meredam emosi suaminya.


Bahkan, tanpa malu Nabila mencium bibir Sultan dan memberikan lum*tan hingga membuat Sultan terhanyut. Perlahan, tapi pasti. Lelaki itu mulai beringas dan merem*s jeruk nipis milik Nabila. Tak ayal, hal itu membuat Nabila tak kuasa menahan desah*nnya lagi. 


Mudah bukan? Tidak semudah itu ferguso!


Ketika Sultan berusaha memainkan jarinya di lembah bawah sana, Nabila justru menutupnya rapat. Sama sekali tidak mau membuka paha. Bahkan, Sultan sudah berusaha untuk bisa menerobos pertahanan Nabila. Nyatanya, wanita itu benar-benar sangat rapat menutupnya. 


"Sul, gue malu." Nabila merengek. Sambil terus menutup apem legitnya. 


"Tidak apa. Gue ini suami elu jadi ya kita bebas aja. Jangan malu-malu gitu. Ntar kalau udah ngerasain juga lu bakalan ketagihan," kata Sultan berusaha merayu. 


"Apa sakit?" tanya Nabila lirih. 


"Sakit dikit, habis itu enak banget," rayu Sultan sambil terus menggerayangi setiap inchi tubuh Nabila. 


Dengan kelembutan sentuhan tangan Sultan dan mantra ajaib yang dirapalkan dalam hati, Nabila pun mulai menerima setiap sentuhan yang Sultan berikan. Meskipun saat Sultan berusaha menjebol gawang itu, Nabila harus merintih kesakitan. 


Sultan menghentikan sesaat gerakannya. Membiarkan adik kecilnya berendam di dalam lembah itu. Setelah dirasa Nabila sudah bisa menerima, Sultan pun mulai memajukan adik kecilnya. Rintihan itu pun perlahan menjadi sebuah des*han yang membangkitkan gairah. 


Akhirnya, malam eh salah, siang panas itu pun terlaksana. Di mana sinar matahari menjadi saksi bahwa Nabila sudah tidak perawan lagi. 


Padahal ini memang sudah malam ya. Haha 


***


Adegan nina-ninu cukup sampai di sini, ya. Besok sudah memasuki bulan suci. 


Mohon maaf apabila ada salah selama ini. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 


Calangheyo guys. (Tanda love pakai dua jari)