BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 68



Tidak ada seblak, tidak ada tidur bersama. 


Begitulah pepatah dari seorang Nabila Kanesh Dalila untuk suami tercinta Bima Sultan Andaksa. 


Lengkap amat manggilnya. udah kayak mau bikin undangan mantenan aja. Haha. 


Walaupun terasa berat, tetapi Sultan berusaha ikhlas menjalani karena ini adalah nikmat ketika istri sedang ngidam. Di mana istri hamil, di situ kesabaran suami diuji. Toh, semua juga karena perbuatannya juga. Jadi, Sultan harus bertanggungjawab apa pun rintangannya. 


Halah lebay. 


Sultan mengalah, tidur di ruang televisi. Mbok Iyah yang melihat Sultan sedang duduk di sofa sambil memeluk selimut dan bantal pun, hanya bisa menggeleng. Sungguh, ia terkadang merasa kasihan dengan Sultan karena Nabila sering rempong sekarang ini. 


"Yang sabar ya, Tuan." Mbok Iyah seperti biasa, menyiapkan teh panas dan cemilan ringan untuk majikannya. Setelahnya, ia kembali ke kamar sendiri karena malam hampir larut. 


Tidak ingin hatinya makin kesal, Sultan pun memilih untuk rebahan dan berusaha agar bisa tertidur lelap. Besok ia masih harus bekerja dan ia tidak ingin jika sampai terlambat ke kantor hanya karena bangun kesiangan. 


Namun, ternyata sangat susah karena Sultan tidak bisa tidur jika tanpa Nabila di sampingnya. 


***


Jam baru menunjuk angka satu dini hari. Nabila yang terjaga dari tidurnya pun langsung berbalik. Ia mendes*hkan napas secara kasar ke udara ketika tidak melihat sang suami di sisinya. Ia merasa dirinya sudah keterlaluan karena mengusir suaminya. Padahal ia pun gelisah bila tidak tidur dengan suaminya. 


Dengan perlahan, Nabila turun dari ranjang. Ia pun keluar kamar untuk melihat suaminya. Setibanya di ruang televisi, Nabila menghela napas panjang ketika melihat Sultan sedang tidur di sofa. Kaki lelaki itu menggantung karena lebih panjang dari sofa. 


"Ya ampun. Apa dia tidak sakit tidur dalam posisi seperti ini," gumam Nabila. 


Ia mendekati Sultan dan menatap wajah suaminya yang terlihat tampan. Aahh ... Nabila sungguh sangat bahagia karena sekarang bisa memiliki hati lelaki yang ia puja sejak dulu. Bahkan, sekarang ia sedang mengandung benih lelaki itu. 


Saking gemasnya, tanpa sadar Nabila mengecup pipi Sultan.


Satu kali. 


Ah, belum berasa dan Nabila belum merasa puas. Ia pun mengecupnya lagi. 


Dua kali. 


Masih saja belum puas. Rasanya, seperti candu. Ingin lagi, dan lagi. Hingga tanpa terasa Nabila memberikan banyak kecupan hampir di seluruh wajah Sultan. Terkadang ia menekankan ciuman itu seolah sedang membenamkan dengan dalam. 


"Apa kamu sudah puas?" tanya Sultan tanpa membuka mata. 


Nabila terpaku. Ia menatap lekat wajah suaminya yang tampan itu. Kalau anaknya lahir nanti, Nabila sangat berharap bisa setampan Sultan, kalau cewek maka harus secantik dia. 


Ya iyalah, kan kalian orang tuanya. Kalau mirip tetangga sudah pasti jadi pertanyaan. 


Nabila tersentak saat Sultan tiba-tiba mendorongnya hingga tubuh mereka saling menempel. Bahkan, ketika ia menempelkan telinga di dada bidang lelaki itu, ia bisa mendengarkan detak jantung suaminya yang berdebar sangat kencang. 


"Aku tahu kamu pasti sedang mengagumi ketampananku." Sultan menyeringai tipis. Lalu mencium pipi istrinya dengan lembut. 


"Jangan memancingku. Ini masih pagi," kata Nabila berusaha menolak. Padahal tubuhnya tidak bisa mengkhianati. Masih saja menempel pada Sultan. 


"Siapa yang memancingmu? Lagian, waktu sekarang ini sangat pas. Aku kedinginan di sini dan sangat membutuhkan kehangatan," kata Sultan. Memeluk erat tubuh istrinya hingga membuat wanita itu tidak bisa berkutik. 


"Kita pindah kamar saja. Aku tidak mau di sini," ujar Nabila tiba-tiba. "Pasti sakit kalau di sofa karena tidak bisa bebas bergerak." 


"Mau ngapain di kamar? Apa anak kita minta dijenguk daddy-nya?" tanya Sultan menggoda. 


Nabila tidak menjawab, ia justru memukul dada bidang suaminya hingga membuat lelaki itu mengaduh. Sultan pun bangkit dan membopong tubuh istrinya. Mengajaknya ke kamar untuk melakukan nina-ninu. 


***


"Oh, Ya Tuhan. Apalagi ini? Sabar ... Sabar ... Sultan. Kamu harus sabar." Sultan berdecak saat mendapat panggilan dari Nabila. 


Ia masih berada di jam kerja, tetapi entah ini sudah keberapa kali Nabila menghubungi hanya untuk bertanya hal yang tidak penting menurutnya. Seperti sebuah pertanyaan yang penuh dengan basa-basi. 


Bagaimana pekerjaanmu. 


Bagaimana rapatmu. 


Apa kamu bekerja dengan baik hari ini. 


Padahal seharusnya Nabila sudah tahu kalau pekerjaan di kantor membuat lelaki itu jarang memegang ponsel. Apalagi jika ada pekerjaan yang membuat kepalanya terasa pusing. Nabila seolah tidak mengerti, dan akan marah-marah ketika Sultan lama merespon. 


"Hallo, ada apa lagi, Na? Kalau emang elu menelepon cuma buat tanya lagi apa. Oke, gue jawab. Gue lagi sibuk kerja dan gue lagi enggak pengen diganggu. Jadi, lu tinggal anteng aja di kamar nunggu gue pulang."


Sultan langsung mematikan panggilan itu dan menaruh ponselnya cukup kasar di meja. Ia memijat pelipis untuk mengurangi denyutan di kepala. Namun, saat ia mengingat satu hal, dengan gegas ia pun langsung bangkit dan keluar dari ruangannya. 


"Oh, sial! Jangan sampai istriku marah. Bodoh banget gue enggak bisa kontrol." 


Sultan pun langsung pulang untuk melihat istrinya. Ia yakin kalau wanita itu pasti sedang menangis dan bisa saja ia mendapat hukuman setelah ini. Selama dalam perjalanan, Sultan terus saja gelisah. Ia berusaha memikirkan apa yang harus dibawa pulang agar istrinya tidak marah lagi. 


Benar saja, setibanya di rumah. Sultan langsung disambut isakan Nabila. Yang lebih sialnya lagi, ada Mama Kurap dan Zahra di sana. 


Argh! Sultan menggerutu karena keadaan pasti akan semakin ribet dengan keberadaan dua wanita rempong itu. 


"Dua mama kesayangan ada di sini," ujar Sultan. Berusaha mengalihkan suasana. 


"Jangan sok baik. Mama tahu kamu bersikap seperti itu pasti karena mau minta maaf. Kamu udah buat Nabila menangis seperti ini," ucap Rasya. Menimpali ucapan putranya. 


"Aku tadi lagi ribet di kantor, jadi enggak sadar udah ngebentak Nabila. Maafin aku ya, Na." Sultan berbicara lirih dan ingin sekali mendekati Nabila. Namun, kedua mama yang masih ingin dipanggil mama muda itu menghalangi di depan Nabila. Seperti palang pintu. 


"Aku tidak mau memaafkanmu, Kanda. Aku cuma mau minta izin buat pergi ke mall sama mama, tapi belum juga aku berbicara, kamu sudah membentakku. Kamu sungguh kejam sekali, Kanda." Nabila berbicara dibuat-buat. Sultan pun berdecak kesal karenanya. 


Oh astaga. Mulai ngedrama. Sial sekali bila berhadapan dengan tiga wanita ini. Apalagi jika mereka sudah bersatu. 


"Jangan lebay, Na!" omel Sultan saking kesalnya. 


Tangisan Nabila pun kian mengeras. 


"Huaaa, dia marahin aku, Ma." Nabila kembali berakting untuk mencari pembelaan. 


"Dasar Bisulan! Eh, jelek amat, ya." Rasya menginterupsi ucapannya sendiri. "Sultan! Kamu tidak boleh seperti itu kepada Nabila!" 


"Betul!" Zahra membenarkan setiap ocehan Rasya yang sedang memarahi Sultan. 


"Kamu ini harusnya ngerti kalau istrimu itu lagi hamil, jadi dia itu sangat sensitif." Rasya masih berbicara dengan menggebu-gebu. 


"Iya, Ma. Udah, ih!" Sultan mulai sebal. 


"Betul itu kata mama kamu, Sul. Sebagai mertuamu, aku setuju dengan apa yang dikatakan Bu Besan." Zahra ikut saja. Sementara Nabila mulai merasa tidak tega kepada suaminya yang terkena omelan. 


"Kamu boleh marahin istri kamu kalau dia salah!" 


"Betul!" Zahra ikut-ikutan saja. 


"Kalau tidak salah, ya jangan dimarahi. Kamu itu kalau marah harus lihat situasi, kondisi, dan toleransi." 


"Betul sekali, kalau disingkat jadi SiKon ...." 


"Zaenab!" Pekik Rasya. Mengejutkan Zahra. 


Wanita itu pun langsung menutup mulutnya dan menepuk berkali-kali secara perlahan. 


"Oh, Ya Tuhan. Hampir saja keceplosan."