BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 49



Nabila benar-benar menyusul Sultan ke tempat di mana lelaki itu sedang melakukan pertemuan dengan klien. Langkahnya sangat terburu seperti istri sah yang hendak memergoki suaminya bersama dengan pelakor. Pikiran Nabila sudah melayang, membayangkan Sultan sedang bergenit-genitan bersama wanita itu apalagi sampai bercumbu. 


Ahh, tidak! Jangan sampai itu terjadi! Nabila tidak akan pernah ikhlas. 


"Pokoknya gue kagak ikhlas. Awas aja kalau sampai si Bisul berani main sama wanita lain, bakalan gue bejek-bejek tuh wanita." 


Setelah memarkirkan mobilnya, Nabila pun bergegas masuk. Seluruh pandangan matanya memindai setiap sudut ruangan. Ketika ia melihat sosok suaminya sedang duduk bersama asistennya dan tidak ada siapa pun selain mereka di sana, Nabila pun bergegas mendekati meja suaminya. 


"Bisul!" panggil Nabila. Mengejutkan Sultan yang kala itu sedang fokus dengan laptop. Berbeda dengan asisten Sultan yang terlihat sedang menahan tawa karena mendengar panggilan Nabila kepada Sultan. 


"Kadal? Ngapain lu di sini?" tanya Sultan heran. Ia bahkan sampai bangkit berdiri untuk memastikan bahwa yang dilihatnya memanglah Nabila. Bukan hanya halusinasi semata. 


"Gue mau memergoki suami sah gue. Lu lagi sama pelakor 'kan? Jujur!" Telunjuk Nabila mengarah tepat di depan Sultan. 


"Astaga, lu ngomong apaan, sih! Kagak jelas banget." Sultan mulai terlihat kesal karena belum terlalu paham apa maksud Nabila. 


"Gue tahu, lu main belakang 'kan?" Pertanyaan Nabila makin menambah kebingungan Sultan. 


"Kita 'kan belum pernah main di ranjang." Sultan menimpali dengan ketus. Ia tahu, ke mana jalan pikiran Nabila. "Gue di sini emang ketemu sama klien. Bukan mau selingkuh." 


"Halah! Ngaku aja, deh. Gue tahu lu itu lagi ketemuan sama cewek cantik, bohai, janda anak lima pula," ujar Nabila. Membuat bola mata Sultan sontak terbuka lebar. 


"Siapa yang bilang gitu?" tanya Sultan. Sang asisten pun memulai terdiam dan perasaannya mendadak tidak nyaman ketika melihat Sultan mendelik ke arahnya. Ia tahu, hari ini adalah hari terakhir ia bekerja. 


Emang iya, kan besok si Kadal udah mulai kerja. 


"Asisten lu yang bilang," sahut Nabila santai. Sang asisten itu pun menelan ludah secara kasar. Tidak berani mendongak sama sekali. 


 Tamat sudah riwayatnya. Batinnya. 


"Maaf, Tuan. Saya memang bicara benar apa adanya. Kalau klien Anda itu cantik karena dia cewek, bohai karena dia montok menurut saya. Kalau janda anak lima, saya hanya ngarang saja untuk mendramatisir suasana, Tuan, Nona." Asisten itu menjawab jujur tanpa rasa takut. 


"Dasar sialan!" umpat Sultan kesal. 


"Dah, lah. Walau dia bukan janda anak lima, gue malah lebih cemburu lagi. Gue yakin kalau dia ...."


"Maaf, saya lama di toilet. Ini ada apa?" tanya seorang wanita yang baru bergabung di depan mereka. 


Wanita itu memang cantik, dengan dandanan menor dan tubuhnya pun sangat subur. Melebar ke samping. Nabila awalnya diam karena terpaku melihat wanita itu. Namun, ketika wanita tersebut berdeham keras, Nabila pun langsung tersadar. 


"Ma-maaf, Anda siapa?" tanya Nabila penasaran. Sementara Sultan hanya diam dan terus memasang wajah tidak suka. Seolah membuat Nabila tersadar bahwa dirinyalah yang benar bukan prasangka Nabila. 


"Saya klien Tuan Sultan. Kalau Anda?" tanyanya balik. 


"Em ... gue ... eh, maksud saya. Saya ini ...." Nabila menjeda ucapannya sambil melirik Sultan yang justru terlihat tidak acuh. 


Wanita itu diam sambil mengerutkan kening menunggu jawaban dari Nabila. 


"Dia istri saya, Nyonya. Maaf, kalau mengganggu Anda." Sultan menyela ucapan Nabila. Membuat si Kadal sontak membuka mata lebar. Ia pikir, Sultan tidak mau mengakuinya sebagai istri di depan kliennya. Namun, ternyata tidak. Lelaki itu dengan lantang menyebutnya sebagai istri dan itu mampu membuat hati Nabila terharu. Huhuhu. 


"Wah, salam kenal, Nona." Wanita itu tampak antusias dan mengulurkan tangan. Nabila pun dengan ragu membalas uluran tangan tersebut. "Nama saya Susi." 


"Nabila." Terlihat senyum canggung di bibir Nabila, sedangkan Sultan sudah tersenyum miring. Ia yakin, pasti istrinya itu sangatlah malu karena salah menduga. 


"Maaf, Nyonya. Istri saya itu memang seperti itu. Dia tidak bisa jauh dari saya. Masih seperti anak kecil, bahkan dia menganggap dirinya adalah adik saya." 


"Oh, tidak apa. Saya justru suka dengan pasangan yang sangat romantis seperti kalian. Wanita seperti istri Anda ini, biasanya bikin selalu terbayang," kata wanita itu. 


Nabila berusaha menelisik wajah wanita itu dan ia memang tidak melihat kekesalan ataupun kemarahan darinya. Namun, tiba-tiba ia dibuat tersentak dengan sikap Sultan yang langsung menariknya hingga ia pun duduk di atas pangkuan suaminya.


"Sul, lu ...." 


"Diamlah. Gue lagi kerja." Sultan terlihat sangat fokus dengan layar laptop dan langsung mengajak Nyonya Susi membahas kerja sama lagi. Ia bahkan membiarkan Nabila tetap duduk aman dalam pangkuannya. 


Nabila yang awalnya merasa tidak enak hati pun pada akhirnya cuek. Ia tidak peduli meskipun menjadi bahan pembicaraan nantinya. Ia justru melingkarkan tangan di perut suaminya dan memejamkan mata sambil bersandar di dada lelaki itu. Tanpa sadar, Nabila justru benar-benar tertidur lelap dalam pangkuan Sultan. 


"Tuan, apa Anda akan kembali ke kantor?" tanya asisten Sultan saat mereka baru selesai membahas kerja sama itu dan Nyonya Susi sudah berpamitan. 


"Sepertinya aku harus pulang dulu. Lihatlah, bayi besar ini masih tidur," kata Sultan. Ia berusaha membopong tubuh Nabila dengan hati-hati agar wanita itu tidak terbangun. 


"Baiklah, Tuan," kata sang asisten. 


Sultan pun membawa Nabila pulang ke rumah. Entah karena lelah atau memang tidurnya seperti kerbau, Nabila sama sekali tidak terganggu ketika Sultan membopongnya ke mobil. 


***


Nabila mengerjapkan mata saat Sultan hendak membopongnya turun dari mobil. 


"Loh, kok kita udah di rumah aja?" tanya Nabila bingung. 


"Lu tidur udah kayak kebo." Sultan menjawab ketus sambil membopong Nabila keluar dari mobil. 


"Gue capek banget jadi ketiduran, Sul. Lu enggak balik ke kantor?" tanya Nabila heran karena Sultan justru membawanya masuk kamar. 


"Enggak. Pekerjaan gue udah selesai di kantor. Sekarang tinggal mengerjakan pekerjaan rumah," sahut Sultan. Disertai senyuman licik hingga membuat Nabila mendadak curiga. 


"Emang pekerjaan lu apa di rumah? Nyapu, ngepel?" Nabila benar-benar sangat cerewet sampai membuat Sultan merasa gemas sendiri. 


"Tentu saja ngasih hukuman buat lu. Lu udah enggak haid 'kan? Lu udah kabur dengan Ariel dan tadi lu ganggu pertemuan gue dengan klien. Jadi, gue bakal ngasih hukuman dobel buat lu," kata Sultan. Merebahkan Nabila di atas ranjang.


"Ja-jadi, kita bakal nina-ninu?" tanya Nabila gugup. Ia terlihat tidak tenang ketika melihat Sultan sudah melepas jas yang dikenakan. "Sul, yang benar aja. Ini masih siang. Masa iya, kita malam pertama di siang hari, 'kan lucu." 


"Anggap saja ini siang pertama kujebol pertahanan gawangmu, Kadal." Sultan memajukan wajahnya disertai seringai tipis hingga membuat Nabila menelan ludah kasar.