BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 21



Kedatangan Sultan dan Nabila di kantor sontak mencuri perhatian karyawan di sana. Pengantin yang masih sangat baru itu, terlihat biasa saja, seperti biasa. Tidak ada keromantisan apalagi adegan bucin-bucinan. Menyadari tatapan para karyawan yang mengarah padanya, Sultan pun segera berbalik dan menghela napas panjang ketika Nabila masih berjalan cukup jauh darinya. 


"Cepatlah sedikit," kata Sultan memerintah meski suaranya cukup pelan karena tidak ingin jika ada karyawan yang mendengarnya. 


"Emangnya kenapa, sih? Lu 'kan biasanya juga jalan gitu aja, ninggalin gue," protes Nabila sambil merapikan blazer yang dikenakan. 


"Ehem!" Sultan berdeham keras hingga mengalihkan perhatian Nabila. Wanita itu mendongak dan melihat sorot mata suaminya yang kian menajam. 


Sepertinya Nabila tahu apa yang membuat Sultan memasang wajah jelek seperti itu. 


"Maaf, Tuan. Aku lupa kalau ini di kantor." Nabila sedikit membungkuk hormat. Bukannya mengiyakan, Sultan justru menarik tubuh Nabila masuk dalam dekapannya. Wanita itu pun terkejut dengan apa yang sudah Sultan lakukan. 


Baru saja hendak membuka suara, Nabila kian dikejutkan dengan ciuman Sultan yang mendarat di pipinya. Seketika membuat tubuh Nabila mematung di tempat. Bahkan, Nabila merasakan jantungnya berdebar berkali-kali lipat dari biasanya. 


"Ini di kantor, gue ingin kita bersikap mesra dan seperti pasangan romantis pada umumnya. Gue enggak mau kalau sampai ada desas-desus yang buruk tentang kita ataupun keluarga kita," bisik Sultan dan hanya ditanggapi anggukan lemah oleh Nabila. 


Sultan tidak menyadari jika Nabila sudah mempunyai rencana licik untuknya. 


Sultan merangkul pundak Nabila, tetapi tangannya langsung ditepis oleh wanita itu hingga membuat Sultan terheran. 


"Apa yang lu—"


"Aku mau dibopong kamu. Aku capek jalan kaki." Nabila merengek manja. Bahkan, wanita itu sengaja mengeraskan suaranya agar beberapa karyawan yang sejak tadi mencuri pandang, menatap pada mereka. "Kalau kamu tidak mau ya sudah! Kamu memang tidak sayang padaku." 


Sultan benar-benar bingung, ia mengamati sekitar dan menyadari bahwa beberapa karyawan masih terus menatap ke arahnya. Sultan pun dengan terpaksa membopong Nabila. Dengan genitnya, Nabila mencium pipi Sultan. Wanita itu pun hanya bisa tertawa ketika melihat wajah Sultan yang terlihat memerah karena menahan amarah. 


Rasain lu! Lu yang mulai main drama duluan, gue juga ikutan lah. Bukankah kita sama-sama pemain utama, bukan? Haha. 


 Nabila tertawa keras tanpa sadar. Akan tetapi, ketika melihat Sultan yang mendelik, dengan gegas Nabila membenamkan kepala di dada bidang lelaki itu. 


"Gaje!" 


***


Pengantin baru itu tampak sibuk dengan pekerjaan mereka hingga tanpa sadar waktu makan siang hampir tiba. Nabila yang merasakan perutnya lapar pun melirik jam berwarna keemasan yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih kurang sepuluh menit dari waktu yang seharusnya, tetapi rasa lapar Nabila seperti tidak bisa ditahan lagi. Ia terus saja gelisah hingga tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. 


"Kenapa?" tanya Sultan yang merasa terganggu karena Nabila terus saja mengembuskan napas kasar. Bahkan, wanita itu terlihat duduk tidak tenang. 


"Makanlah," suruh Sultan santai. 


"Masih kurang sepuluh menit lagi." Nabila menunjuk jam tangannya. 


"Tidak usah nunggu waktu makan siang. Makanlah sebelum perutmu sakit," perintah Sultan penuh dengan penekanan. Namun, Nabila tidak acuh dan justru kembali fokus pada layar komputernya. 


Setelah dua menit berlalu dan Nabila masih saja duduk di kursinya, Sultan pun bangkit dan mendekati meja Nabila. Akan tetapi, saking fokusnya pada komputer, Nabila tidak menyadari keberadaan suaminya. 


"Ayo bangun." Sultan menarik tangan Nabila hingga membuat gadis itu bangkit dengan segera. 


"Mau ke mana, Sul?" tanya Nabila berusaha mengikuti langkah kaki Sultan. 


"Kita makan siang sekarang. Jangan sampai kamu sakit," jawab Sultan. Senyum Nabila pun mengembang sempurna ketika mendengarnya. 


"Ahh, lu beneran so sweet, deh. Suami idaman. Pasti lu enggak tega kalau lihat gue sakit, 'kan?" Nabila menghentikan langkahnya secara mendadak. Sultan pun terkejut karenanya. 


"Bukan karena itu. Aku cuma tidak mau kamu sakit. Karena jika hal itu sampai terjadi maka aku bakal digantung oleh Om Arga. Kalau bukan karena merasa tidak enak hati, aku ogah harus nyuruh kamu makan gini. Kamu bukan lagi anak kecil." Sultan berbicara santai sambil memegang gagang pintu. 


"Emang dasar Bisul sialan!! Gue pikir lu khawatir sama gue, dan kalau lu khawatir sama gue itu artinya lu sayang gue. Kalau emang gitu, gue makasih banget, Sul. Itu artinya cinta gue terbalas. Kagak nyesek lagi," cerocos Nabila panjang lebar. 


"Dasar cerewet!" 


"Astaga!" 


Sultan berhenti karena terkejut mendengar teriakan Nabila. Ia pun berbalik dan terdiam ketika melihat Nabila duduk bersimpuh di lantai karena jatuh di depan pintu. Bukannya membantu, Sultan justru menggeleng sambil berdecak kesal. 


"Selain cerewet, ceroboh, dan centil. Lu juga ce ...." 


"Cekalang atau lima puluh tahun lagi ku akan tetap mencintaimu." Nabila bangkit berdiri. Ia bernyanyi sambil berjoget.


"Astaga. Ada ya wanita kayak elu," cibir Sultan.


"Ada dong, dan wanita ini adalah istrimu, Wahai Bisulan. Hahaha."


"Allahu Akbar."