BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 39



Sesuai dengan apa yang direncakan oleh Ariel kemarin. Keesokan paginya, Nabila tetap melayani Sultan seperti biasa. Seolah wanita itu tidak akan pergi ke mana pun. Sarapan bersama dan mengantar Sultan sampai ke mobil.


"Lu enggak mau salim sama gue?" tanya Nabila. Mengurungkan gerakan Sultan yang hendak menutup pintu mobil. 


Sultan berdecak lalu mengulurkan tangan agar Nabila menyalaminya dan membiarkan wanita itu mencium punggung tangannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Sultan merasa senang atas apa yang dilakukan oleh Nabila. Ada sebuah perasaan yang baru ia rasakan dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena sejak menikah, baru kali ini Nabila mencium punggung tangannya seperti itu. 


"Jangan jutek gitu. Awas, loh. Ntar kalau gue pergi kangen lagi." Nabila terkekeh, sedangkan Sultan hanya mengembuskan napas kasar. 


"Jangan pergi ke mana pun sampai gue pulang kantor. Kalau lu bosen, datang aja ke kantor dan gue bakal ngajak lu jalan," perintah Sultan. 


Nabila mengangguk mengiyakan. "Hati-hati di jalan, Sayang." 


Sultan dibuat tersentak ketika Nabila tiba-tiba mencium pipinya secepat kilat. Lalu wanita itu berlari sambil melambai meninggalkan mobil Sultan. 


"Dasar Kadal!" Sultan mengusap pipinya. Ia tersenyum tidak jelas ketika mengingat bibir Nabila yang menyentuh pipinya. Ah, sangat romantis sekali. Bocah sengklek itu benar-benar membuatnya salah tingkah. "Ya Tuhan, gue bisa gila kalau kayak gini terus." 


Sultan pun segera melajukan mobilnya karena ia tidak mau terlambat dan terus kepikiran apa yang dilakuka Nabila tadi. Selama dalam perjalanan, ia terus saja berdendang karena hatinya merasa berbunga-bunga. 


Sungguh, apa yang dilakukan oleh Nabila membuatnya selalu terngiang-ngiang oleh wanita itu. Ia merasa seperti terkena pelet cinta. 


Cieee ... Ehem ... Icik-icik ihiiirr. Haha


***


"Riel, gue udah siap. Lu mau jemput jam berapa?" tanya Nabila lewat panggilan suara. 


Ia sudah menata baju di koper dan memastikan tidak ada yang tertinggal. 


"Gue udah hampir sampai rumah lu," sahut Ariel. 


Nabila pun mengiyakan lalu mematikan panggilan tersebut. Setelahnya, ia keluar kamar sambil membawa koper. Hal itu membuat Mbok Iyah yang sedang bersih-bersih pun menjadi terheran-heran dan segera mendekati majikannya dengan tergesa-gesa. 


"Nona, mau ke mana?" tanya Mbok Iyah khawatir. Apalagi saat ia melihat Nabila membawa koper. Ia takut Nabila akan kabur dari rumah karena kembali bertengkar dengan Sultan—mungkin. 


"Aku mau jalan-jalan sama Ariel, Mbok. Ke luar kota. Nanti, kalau Sultan tanya, bilang aja tidak tahu, karena pas aku pergi, Mbok Iyah lagi di pasar," perintah Nabila mewanti-wanti. 


Wajah Mbok Iyah terlihat ragu-ragu. "Tapi, Non ...." 


"Plis, Mbok." Nabila menangkup kedua tangan di depan dada, dengan penuh memohon. "Mbok, tenang aja. Aku udah bilang sama papa juga Tante Kurap. Mereka setuju aku mau ngerjain Sultan." 


"Baiklah, Non. Hati-hati di jalan. Kalau sudah selesai, langsung pulang, Non. Saya tidak mau kalau sampai ada huru-hara lagi," kata Mbok Iyah cemas. 


Nabila mengangguk cepat lalu segera keluar dari rumah ketika Ariel menelepon kalau ia sudah di pintu gerbang. Langkah Nabila pun kian cepat karena khawatir Sultan tiba-tiba pulang. Setelah memastikan keadaan aman terkendali, Nabila pun langsung masuk ke mobil Ariel. 


Maaf, gue pergi jalan-jalan dulu, Sul. Kalau lu nyari gue, itu artinya lu sayang sama gue, Sul. Kalau lu diem aja, berarti gue harus bersabar lagi. Mungkin, hati lu belum kebuka semua buat nerima gue. Haha. Nasib gue gini amat ya. 


Nabila menghela napas panjang ketika mobil Ariel melaju meninggalkan rumahnya. Ia menatap rumah mewah tersebut dengan berat, tetapi ia terpaksa melakukan untuk membuktikan perasaan Sultan. 


Mobil yang dikemudikan Ariel membelah jalanan kota. Lelaki itu mengemudi dengan santai karena ingin menikmati waktu bersama dengan Nabila. Mumpung ia masih diberi kesempatan untuk berduaan dengan wanita itu. Ia akan memanfaatkan dengan baik. 


Bisulan itu pasti akan sangat cemas. 


"Riel, gue hubungi Sultan sekarang apa nanti aja, ya?" tanya Nabila cemas. Sejak tadi ia terus saja menatap layar ponselnya. Seperti akan menghubungi suaminya, seperti tidak.  


"Ntar aja kalau kita udah sampai hotel. Kalau lu hubungi sekarang, pasti dia langsung telepon. Terus nanya ... Kadal, lu di mana, cepet pulang sekarang. Dasar Kadal." Ariel menirukan cara bicara Sultan hingga membuat Nabila tak kuasa menahan gelakan tawa. 


"Astaga, Riel. Lu beneran laknat banget jadi sahabat. Gue yakin, kalau Sultan tahu lu yang ngasih ide buat ngerjain dia, posisi lu enggak akan aman. Bisa aja lu bonyok," kata Nabila. 


"Biarin aja," timpal Ariel. "Yang penting gue bisa mastiin kalau lu berada di tangan lelaki yang tepat," imbuhnya. 


"Makasih banyak, Riel. Selama ini lu selalu sayang sama gue." Nabila tersenyum sangat manis dan Ariel hanya membalas dengan senyuman. 


Andai lu tahu kalau sebenarnya gue sayang banget sama lu, Na. Lebih dari sekadar sahabat, tapi aah ... sudahlah. Kita emang enggak berjodoh. 


***


Aku yakin bahwa kamu adalah pilihan terbaik untukku. Semoga kita bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia meskipun belum ada cinta di antara kita. 


Sultan mendes*hkan napas ke udara secara kasar ketika melihat status milik Hanum. Di mana wanita itu terlihat tersenyum menggunakan gaun pengantin bersama dengan seorang lelaki yang Sultan yakini sebagai suami Hanum. 


Jika dibandingkan, Sultan merasa lebih tampan dari lelaki itu. Bahkan, ia merasa lebih mapan juga. Halah! Sombongnya. Namun, Sultan kini menyadari bahwa jodoh tidak akan ke mana dan setiap orang sudah memiliki pasangan masing-masing. Tidak peduli harta dan Rita Tatha jelek nggak papa, ehh keceplosan—harta dan tahta maksudnya. 


"Hah! Semoga kamu selalu bahagia, Num. Aku akan selalu mendoakanmu meski kita tidak bisa bersatu." 


Sultan pun mengirim pesan berupa ucapan selamat dan doa-doa. Setelahnya, ia berusaha menghubungi Nabila untuk mengalihkan kegelisahan hatinya. Namun, tidak ada satu pun pesan maupun panggilan darinya yang direspon oleh wanita itu. Sehingga membuat Sultan merasa kesal sendiri. 


Merasa jenuh terlalu lama menunggu balasan dari Nabila, Sultan pun memilih menghubungi nomor rumah dan langsung diterima oleh Mbok Iyah. 


"Mbok, Nabila—"


"Nona Nabila pergi, Tuan." Suara Mbok Iyah terdengar panik. Membuat Sultan ikutan panik. 


"Pergi ke mana, Mbok?" tanya Sultan tidak sabar. 


"Saya tidak tahu, Tuan. Waktu saya pulang dari pasar, Nona Nabila tidak ada bahkan kopernya pun tidak ada," sahut Mbok Iyah. 


"Yang benar saja? Astaga!" Sultan mengusap wajah kasar. "Mbok, aku cari Nabila dulu. Jangan sampai papaku dan papanya Nabila tahu. Bisa-bisa aku digantung nanti." 


"Baik, Tuan. Tapi, kalau sampai nanti sore Nona Nabila tidak ketemu, saya tetap akan lapor." 


"Iya, Mbok." 


Panggilan itu pun terputus. Sultan mengacak rambutnya dan saat ini lelaki itu lebih terlihat seperti orang yang sedang frustrasi. Ia berusaha menghubungi Nabila lagi, tetapi belum ada juga panggilannya yang diangkat. 


"Dasar Kadal! Ke mana lu, astaga!"