BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 17



Setelah Sultan mengalah dan tidur sambil memeluk Nabila semalaman, ternyata itu tidak membuat hubungan mereka penuh dengan keromantisan. Keesokan paginya, baru juga selesai membersihkan diri, Sultan dan Nabila sudah berdebat bahkan tidak ada yang mau mengalah. 


"Gue udah bilang, elu enggak perlu kerja. Gue bakal ngasih lu nafkah buat menuhi semua kebutuhan lu," kata Sultan seperti tidak terbantahkan. Namun, Nabila justru mendengkus kasar beberapa kali. 


"Gue tetap mau kerja dan gue baru akan berhenti kalau udah punya anak. Gue males, Sul. Kalau di rumah cuma rebahan, rebahan, dan rebahan terus." 


Sultan menggeleng sambil berdecak kesal. "Terserah elu, deh. Dasar keras kepala." 


"Makanya, Sul. Lu cepet hamilin gue. Baru gue mau di rumah terus buat ngurus rumah, ngurus anak kita dan setia nungguin lu pulang kerja," celetuk Nabila membuat Sultan mendelik tajam ke arahnya. Namun, Nabila tidak takut meskipun bola mata suaminya seperti hendak lepas dari tempatnya. 


Wanita itu masih saja terlihat santai. 


"Lu gila!" protes Sultan. 


"Gila gimana? Emang salah kalau gue minta dihamilin suami gue sendiri?" tanya Nabila. Sultan menutup rapat mulutnya karena tidak tahu harus menjawab apa. "Kalau gue minta dihamilin oleh laki-laki selain suami gue, baru namanya gue gila," imbuhnya membuat Sultan merasa spechless.  


"Sudahlah. Gue enggak mau ngerusak mood pagi-pagi. Kalau lu tetap keras kepala dan mau berangkat kerja, cepet siap-siap. Jangan sampai kita terlambat ke kantor." Sultan melihat jam di pergelangan tangannya lalu hendak bersiap pergi. 


"Ish! Gue tahu kalau lu enggak bakal mau hamilin gue, Sul. Ada Hanum yang sudah mengisi relung hati lu dan enggak ada Anam gue sama sekali. Kalau terus seperti ini, mungkin gue perlu mempertimbangkan buat minta lelaki lain hamilin gue." 


"Jaga bicara lu, Nabila!" Sultan tampak geram. Ia sangat marah ketika mendengar ucapan Nabila tersebut. 


"Kenapa? Kalau pria bisa poligami maka wanita bisa poliandri. Gue yakin lu bakal ikhlas kalau gue nikah lagi, karena lu bakal makin bebas dekat dengan Hanum. Bukankah begitu?" Nabila sungguh tidak gentar dan terus memancing emosi Sultan. Sebenarnya ia masih marah perihal kemarin saat ia harus menunggu Sultan berkencan dengan Hanum sampai berjam-jam. Harga dirinya sebagai istri sah menjadi ternoda. 


"Lu!" Sultan sudah mengangkat tangannya tinggi, tetapi ia merem*s udara setelahnya. Ia hanya bisa menggeram keras untuk meluapkan amarahnya. 


Tidak ingin terus berdebat, Sultan lebih memilih untuk berangkat ke kantor tanpa sarapan. Bahkan, ia hanya menjawab baik-baik saja ketika Zahra dan Arga bertanya padanya. 


Setelah kepergian Sultan, barulah Nabila turun dari kamar. Ia begitu terburu untuk menyusul Sultan, tetapi langkahnya terhenti saat Arga menahannya. 


"Tunggu dulu, Na! Papa mau bicara!" Suara Arga meninggi. Membuat langkah Nabila benar-benar berhenti. Wanita itu pun berbalik dan menatap sang papa yang melayangkan tatapan penuh selidik kepadanya.  


"Kenapa, Pa?" tanya Nabila santai. 


"Apa kamu sedang marahan dengan Sultan?" tanya Arga menuntut jawaban. 


Nabila terdiam. Tidak menggeleng ataupun mengangguk. Sampai cukup lama menunggu, Arga pun mendes*hkan napas ke udara secara kasar karena ia yakin kalau tebakannya benar jika dilihat dari gelagat putrinya. Sementara Zahra langsung mendekati putrinya. 


"Bukannya papa dan mama mau ikut campur urusan kalian, Na. Kita hanya penasaran saja. Apa kalian bertengkar?" Suara Zahra terdengar lebih lembut daripada Arga. 


Nabila mengangguk lemah. "Iya, Ma." 


"Kenapa?" Zahra menatap putrinya sangat lekat. 


"Sultan menyuruhku untuk berhenti bekerja dan memintaku untuk di rumah saja menunggu dia pulang. Tapi aku enggak mau, Ma. Aku masih ingin bekerja karena jika terus di rumah pasti rasanya sangat jenuh," jelas Nabila. 


"Ya Tuhan, Na. Tapi, memang wanita jika sudah menikah, harus menurut apa kata suaminya," kata Zahra. Ia mengusap puncak kepala Nabila penuh sayang agar putrinya itu tidak takut padanya.


"Kalau begitu, hari ini kamu tidak perlu ke kantor. Biar nanti papa berbicara dengan Sultan," pungkas Arga. 


"Aku juga sayang kamu." Arga mencium puncak kepala putrinya. 


Arga harus bertindak cepat dan membicarakan semuanya dengan Sultan. Mumpung mereka masih bersama karena Minggu depan, Nabila dan Sultan akan menempati rumah baru mereka. Walaupun tidak terlalu jauh, tetapi Arga pasti akan sangat merindukan putrinya kelak karena merasa akan jarang bertemu ataupun mengobrol. 


Mereka pun sarapan bersama, setelah selesai barulah Nabila kembali ke kamar karena ia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman. Seperti terkena gejala meriang alias merindukan kasih sayang. Upss! 


Nabila tiduran di kamar sambil menggulir layar ponselnya dan melihat video-video lucu maupun sedih di ponsel. Ketika ia merasa ada video yang bagus maka ia akan menyimpannya ke galeri. 


Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia


Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu


Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia


Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu


Untukmu hidup dan matiku


_Surat Cinta Untuk Starla-Virgoun_


Nabila memejamkan mata saat mendengarkan lagu tersebut hingga tanpa sadar air matanya hampir mengalir saking menghayatinya. 


"Hah! Kenapa gue jadi cengeng gini? Dasar bodoh!" Nabila duduk tegak dan mengusap wajahnya berkali-kali. Untuk menghapus air mata yang mungkin meninggalkan jejak di wajahnya. 


Tidak mau terus menggalau, Nabila pun memilih untuk menghubungi Ariel dan mengajak lelaki itu untuk bertemu. Kebetulan hari ini Ariel tidak berangkat ke kantor. 


Pak Suami, gue izin mau main sama Ariel bentar, ya. Nanti waktu makan siang gue mampir ke kantor. Hari ini gue masih cuti.


Nabila mengirim pesan tersebut kepada Sultan lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas dan bergegas pergi karena sebentar lagi Ariel akan datang. Ia tidak mengetahui kalau Sultan sejak tadi meneleponnya karena ponselnya dalam mode silent. 


***


"Dasar wanita genit! Apa-apaan ini? Bukannya minta maaf dan nyusul suami ke kantor, malah kencan sama pria lain," gerutu Sultan sambil terus berusaha menghubungi Nabila. Namun, sampai hampir sepuluh kali memanggil, tidak ada satu pun yang diterima oleh Nabila hingga membuat Sultan menggeram marah. 


Ia pun segera mengirim pesan kepada Nabila dan juga Ariel. 


Awas kalau sampai lu bikin Nabila lecet sedikit saja maka gue enggak akan tinggal diam. Ingat, sekarang Nabila adalah tanggung jawab gue. 


Sultan mengirim pesan tersebut kepada Ariel. Namun, ia seperti orang tersadar setelahnya. Sultan pun hendak menghapus pesan tersebut,  tetapi sialnya sudah centang biru yang artinya Ariel sudah membacanya. 


Beberapa saat kemudian, masuk balasan dari Ariel yang hanya berisi satu emot tertawa. Sultan pun mengacak rambutnya secara kasar. 


"Aarggh!! Kenapa gue merasa jadi bodoh gini!" umpatnya pada diri sendiri.