
Beberapa bulan kemudian.
Hari perkiraan lahir tinggal sebentar lagi. Sultan sudah merasa semakin cemas bahkan ia tidak bisa konsentrasi ketika bekerja. Ia terus saja kepikiran Nabila. Bahkan, tidak membiarkan ponsel jauh darinya ketika sedang di kantor karena khawatir jika harus melewatkan panggilan penting. Sultan juga sudah menyuruh sang mama agar tinggal di rumahnya untuk menjaga Nabila dan mengabarinya jika sewaktu-waktu Nabila sudah mulai merasakan kontraksi.
Bahkan, saking khawatirnya, Sultan terkadang pulang lebih awal dari biasanya dan ia baru akan merasa tenang ketika berada di samping istrinya. Jika dulu ia terkadang kesal karena permintaan istrinya yang aneh-aneh, tetapi sekarang tidak lagi. Sultan bahkan terkadang menawarkan apa pun itu terlebih dahulu sebelum Nabila meminta.
Tengah malam, waktunya orang tertidur lelap, tetapi tidak dengan Nabila. Wanita itu entah sudah keberapa kali ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil. Bahkan, ia sengaja tidak membangunkan Sultan karena tidak mau mengganggu tidur suaminya.
"Astaga, pegal sekali." Nabila mengusap punggung belakangnya yang terasa pegal. Ia yakin itu karena efek hamil besar juga ia yang bolak balik ke kamar mandi. Belum sadar kalau ia sudah mulai kontraksi.
Baru saja hendak naik ke atas ranjang, Nabila kembali merasakan denyutan di perut bahkan ia sampai merem*s sprei. Hal itu pun sontak membuat Sultan terbangun dan langsung merasa cemas ketika melihat Nabila yang sedang meringis kesakitan.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Sultan cemas. Padahal wajahnya masih berantakan karena bangun tiba-tiba.
"Entahlah, perutku sakit sekali. Sepertinya aku mulai kontraksi," sahut Nabila santai walaupun masih meringis sesekali.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang," kata Sultan. Ia turun ranjang dengan tergesa.
"Mas! Kamu mau ke mana?" tanya Nabila menghentikan langkah Sultan yang sudah hampir mencapai ambang pintu.
"Ke rumah sakit, lah." Sultan mendadak bego.
"Mau ngapain? Kamu mau ninggalin aku?" tanya Nabila kesal. Sungguh, ini tidak seperti Sultan yang biasanya tenang.
Sultan menepuk keningnya. "Astaga, aku lupa."
Dengan gegas Sultan berjalan kembali dan menuntun istrinya. Ketika sampai di lantai bawah, mereka langsung disambut oleh Rasya karena kebetulan wanita itu memang menginap di kamar yang berada di lantai bawah. Kebetulan juga, Rasya sedang mengambil minum di dapur tadi.
Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung menuju ke rumah sakit dan Nabila segera mendapat pemeriksaan.
Rasanya, Sultan tidak tega ketika melihat Nabila yang terus meringis menahan sakit. Ia sungguh merasa sangat bersalah karena sudah membuat wanita itu merasakan sakit.
Halah, nanti juga bakal diulangi.
Yang membuat Sultan salut kepada istrinya adalah wanita itu yang diam dan tetap tenang. Tidak seperti biasanya yang petakilan. Justru Sultan yang tidak tenang dan terus berdoa sambil menyemangati Nabila.
Selang tiga jam kemudian, lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Kulitnya putih bersih dan memang terlihat tampan seperti Sultan.
Baik Sultan maupun Nabila tidak sanggup menahan air mata haru ketika melihat bayi mungil itu menangis keras. Bahkan, Sultan sampai membenamkan banyak ciuman di wajah istrinya.
Bahagia.
Ya, inilah kebahagiaan mereka yang sesungguhnya dan semua lengkap sudah. Nabila tidak tahu harus berbicara apa lagi untuk mengungkapkan segala rasa bahagia itu.
***
Arkana Sean Andaksa.
Nama yang tersemat untuk cucu pertama Kurap dan Panu. Tidak ada nama penyakit kulit seperti mereka. Sultan memang ingin yang lain. Nama yang mengandung doa yang indah semoga putranya menjadi anak yang berbakti dan taat agama.
Kehadiran Sean menjadi rebutan. Bayi yang baru lahir itu langsung menjadi primadona. Banyak yang ingin menggedong bayi mungil itu termasuk oma-oma muda. Siapa lagi kalau bukan Geng Somplak. Rasya and the geng. Bahkan, Nabila sampai jarang menggendong putranya.
"Biarin aja. Yang penting mereka bahagia." Sultan mencium pipi Nabila.
Sebenarnya ia tahu, istrinya ingin menggendong Sean bukan hanya saat menyusu saja, tetapi ia pun tidak bisa melarang sang mama untuk menggedong cucunya. Ia tahu, kehadiran Sean menjadi warna baru dalam keluarga mereka.
"Na, terima kasih banyak. Aku enggak nyangka akan sebahagia ini mencintaimu. Kupikir, dulu aku akan sangat menderita karena belum bisa membuka perasaannku untukmu." Sultan menatap Nabila penuh cinta. Begitupun Nabila tak kalah membalas tatapan suaminya.
"Tentu saja. Aku pun merasa sangat bahagia karena kamu lelaki yang kudamba, akhirnya bisa kumiliki seutuhnya." Nabila tersenyum simpul dan senyuman itu terlihat sangat manis menurut Sultan. Hingga tanpa sadar, Sultan memajukan wajahnya hendak mencium bibir istrinya.
"Ehem! Kalian bermesraan di sini. Nih, Sean minta enen." Rasya memberikan Sean kepada Nabila dan langsung disambut oleh wanita itu. "Ingat, Sul. Istri kamu ini lagi nifas. Jadi, jangan macem-macem."
"Iya, Ma."
Rasya pun keluar dari kamar lagi karena ia ingin beristirahat. Setelah kepergian sang mama, Sultan langsung mencium bibir istrinya sekilas.
"Mas ...."
"Aku cuma nyium bukan bercinta. Jadi, jangan protes." Sultan turun dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi untuk bersolo karir.
Nabila pun hanya menggeleng saat melihatnya. Lalu menghela napas panjang. Ia sungguh merasa lega karena bisa merasakan bahagia seperti ini.
Terima kasih, Tuhan. Aku mencintaimu, Bisulan. Aku juga mencintaimu, Sean.
Nabila mencium pipi putranya yang terlihat gembul.