BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 44



"Riel, Nabila masih nangis?" tanya Zahra saat ia hendak masuk ke kamar Nabila, ternyata Ariel juga keluar dari sana. 


"Udah tidur, Tante. Sepertinya dia kecapekan," sahut Ariel. Membuka pintu kamar Nabila dan terlihatlah wanita itu sedang tertidur lelap di bawah selimut. 


Zahra melangkah masuk dan mendekati putrinya. Menatap wajah sang putri yang masih penuh dengan jejak air mata. Wanita itu pun mencium puncak kepala Nabila penuh dengan kasih sayang. 


"Maafkan mama ngerjain kamu sebentar saja, Sayang." Zahra bergumam sangat lirih. Mungkin, hanya dirinya saja yang mendengar. Sementara Ariel sudah duduk di ruang tamu bersama dengan Arga. 


Banyak hal yang diobrolkan oleh kedua lelaki itu. Bahkan, Arga terlihat sangat pandai bersandiwara. Lelaki itu bersikap seolah Sultan memang masih dalam pencarian. Percayalah, Arga hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuk Ariel dan Nabila saja. 


"Sultan!" teriak Ariel tidak percaya ketika melihat kedatangan Sultan berserta yang lainnya. "Lu-lu, di-di sini?" Kedua bola mata lelaki itu sampai membulat penuh ketika melihat Sultan berdiri di depannya. 


"Oh, ternyata lu di sini juga, Riel." Sultan tersenyum sinis. "Di mana istri gue?"


"Di kamarnya. Sul, lu selamat dalam kecelakaan pesawat itu. Syukurlah." Ariel mendekati Sultan hendak memeluk lelaki itu. Namun, Ariel justru mendapat pukulan yang cukup keras dari Sultan hingga Ariel jatuh terjerembab di lantai. Lelaki itu sedikit mengerang sambil memegang perutnya yang terasa nyeri. 


"Bima Sultan Andaksa! Bisulan! Kenapa kamu memukul Ariel!" bentak Rasya. Ia mendekati Ariel dan membantunya bangkit berdiri. 


"Dia sangat kurang ajar karena sudah membawa istriku pergi tanpa izin, Ma!" Suara Sultan pun tak kalah seru. Dari raut wajahnya terlihat jelas emosi yang meninggi seperti akan meluap. 


"Suk, Ki, maafkan anak gue udah nyakitin anak lu," ucap Rasya kepada sahabatnya. Ia merasa tidak enak hati apalagi saat melihat tatapan Zety terlihat nanar ke arah putranya, berbeda dengan Kiano yang tetap saja terlihat tenang. Tidak terlihat apalagi sampai memukul balik Sultan. 


"Biarkan saja Sultan memukulnya. Anggap saja itu jadi pelajaran untuk Ariel agar tidak lagi bersikap kurang ajar," sahut Kiano. 


"Pa, aku minta maaf. Aku sengaja melakukan itu. Membawa Nabila pergi hanya untuk ngeyakinin bahwa Sultan bisa mencintai Nabila dengan tulus," ucap Ariel berusaha menjelaskan. Ia tidak takut Sultan akan memukulnya lagi, tetapi ia lebih takut jika harus menghadapi kemarahan sang papa. 


"Dan apa kamu pikir itu tindakan yang tepat? Papa benar-benar sangat kecewa padamu!" hardik Kiano. Membuat Ariel hanya bisa menunduk dalam. "Sul, pukul lagi saja putraku yang nakal ini. Pukul sampai kamu merasa puas," perintahnya. 


"Mas! Kamu yang benar saja. Aku tahu putraku salah, tapi tidak sepatutnya kamu meminta orang lain untuk menyakiti putramu," bantah Zety tidak terima. 


"Putra kebannggaanmu itu sudah keterlaluan," balas Kiano. 


"Ya, aku tahu. Semua yang dilakukan Ariel itu karena dia sangat tulus sayang sama Nabila. Dia hanya ingin menyakinkan bahwa Nabila jatuh di tangan lelaki yang tepat. Lelaki yang bisa menjaganya. Aku yakin, kalau kamu masih muda dan mencintai orang dengan sangat tulus, kamu akan melakukan seperti apa yang Ariel lakukan." Zety masih berbicara dengan nada tinggi. 


Suasana yang tadinya tenang kini justru memanas. Zety yang merasa malu karena harus berdebat seperti itu pun memilih berpamitan pulang. Ia tidak mau kian menambah suasana panas di sana. Padahal Rasya sudah berusaha menenangkan sahabatnya. Bahkan, berkali-kali ia meminta maaf kepada Zety. Jujur, ia tidak ingin jika persahabatan mereka harus renggang karena masalah ini. 


"Ga, bilang sama Zaenab. Nanti aku ke sini lagi kalau suasana udah tenang." Zety mengajak Ariel untuk pulang bersama. Kiano pun pada akhirnya ikut bersama mereka. Meskipun saat ini ia sedang perang dingin dengan istrinya. Ia akan menyelesaikan semuanya di rumah. 


Sementara itu, Zahra yang baru keluar dari kamar Nabila pun langsung memeluk Sultan sangat erat. Wanita itu bahkan meneteskan air mata setelah melihat anak menantunya dalam keadaan baik-baik saja. 


"Sul, ingat ya. Mama dan yang lainnya masih di sini. Jadi, jangan kencang-kencang kalau ngasih hukuman. Takutnya ahh nya kedengeran sampai sini," celetuk Rasya. Mengundang gelak tawa Zahra yang ada di sana. Sementara Pandu dan Arga yang mendengar itu pun hanya bisa menggeleng. 


Rasya kumat. Suasana yang penuh tangisan tadi kini berubah penuh kesomplakan. Padahal Zety dan Margaretha tidak ada di sana. Bagaimana kalau akhirnya mereka berempat berkumpul. Apa kata dunia ini? 


Dunia tidak berkata apa-apa. Jadi, jangan lebay! (Muka sinis)


"Apaan, sih, Ma! Jangan ngaco, deh!" timpal Sultan. 


"Enggak papa. Udah sana, masuk kamar, kunci pintu rapat-rapat. Terus ...." 


"Goyangkan pinggul maju mundur." Zahra meneruskan ucapan Rasya. 


"Ya Tuhan ... kalian." Arga ingin sekali menggigit Zahra, tetapi ia merasa gengsi karena  ada Pandu di sampingnya. 


Tidak mau semakin menjadi bahan ledekan, Sultan pun lebih memilih untuk masuk ke kamar istrinya. Sesuai dengan perintah sang mama, ia mengunci pintu kamar tersebut sebelum akhirnya naik ke atas ranjang. 


Sultan tidak langsung membangunkan istrinya. Ia ingin  menatap wajah teduh istrinya terlebih dahulu karena jika sudah membuka mata, Nabila akan berubah menjadi sosok yang menyebalkan dan membuat tensi darah Sultan mendadak tinggi. 


"Lu beneran nyebelin. Bikin gue cemas dan khawatir," gumam Sultan. Sambil terus menatap lekat wajah istrinya. 


Sultan membayangkan yang telah berlalu. Ia mengingat semuanya. Di mana ia mengetahui kalau Ariel menaruh rasa kepada Nabila. Bahkan, Ariel sampai melakukan hal yang menurutnya 'bodoh' hanya untuk memastikan Nabila jatuh pada lelaki yang tepat. Jujur, dalam hati Sultan merasa salut atas apa yang dilakukan oleh Ariel kepada Nabila.


Seandainya ia ada di posisi Ariel, belum tentu ia akan melakukan hal seperti itu. Andai ia Ariel, dan Nabila adalah Hanum maka .....


Sultan  menggeleng untuk mengusir pikiran iblis itu.


Setelahnya, Sultan mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Hanum. Sebelum akhirnya ia memblokir nomor wanita itu bahkan semua kenangan bersamanya. Termasuk foto saat ia sedang berdua bersama dengan Hanum. 


"Gue akan benar-benar menghapus perasaan gue buat lu, Num. Termasuk kenangan kita. Gue akan belajar buat ngebuka hati ini buat Nabila." Sultan menaruh ponselnya di nakas samping tempat tidur. Lalu ia merebahkan diri tepat di samping istrinya dan memeluk wanita itu sangat erat hingga tanpa  sadar Sultan ikut tertidur lelap. 


***


Num, maafkan semua kesalahanku selama ini dan terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Memberi kenangan yang indah untukku. Num, doaku hanya satu. Semoga kita bisa bahagia dengan jalan kita masing-masing dan dengan pasangan kita masing-masing. Aku bahagia pernah mengenalmu dan semoga setelah ini kita bisa sama-sama meraih bahagia yang sempurna meski dengan takdir yang berbeda. Selamat menempuh hidup baru, Num.


Hanum menghela napas panjang saat ia membaca pesan dari Sultan. Ada sedikit rasa sesak yang Hanum rasakan, tetapi ia dengan segera berusaha menepisnya. Jangan sampai ia menjadi baper sendiri. 


"Aku tahu kita bisa bahagia dengan pasangan kita masing-masing, Sul. Semoga saja ...."