
Ariel yang kala itu sedang fokus pada layar komputer, merasa terkejut karena Jeje masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Ia mendengkus kasar, merasa sebal kepada gadis itu. Namun, saat teringat bahwa ia yang memerintahnya untuk datang, Ariel pun hanya bisa menghela napas panjang.
Ia sungguh heran, bagaimana bisa di tengah kebuntuan pikiran dan butuh solusi. Ia justru memanggil Jeje, padahal dulu tidak seperti itu.
"Ada apa kamu menyuruhku datang ke sini, Riel? Tumben. Kesambet?" Jeje dengan santainya duduk di sofa tanpa diperintah.
"Apakah lu enggak punya sopan santun? Masuklah dengan mengetuk pintu, gue bahkan belum nyuruh lu buat duduk," protes Ariel. Sesekali melirik Jeje, dan kembali fokus pekerjaannya lagi.
"Tamu adalah raja emm ratu kalau aku, Riel. Ingat itu. Apalagi kalau tamu undangan spesial kayak aku ini. Jadi, kamu harus perlakukan aku dengan spesial," ujar Jeje sombong.
"Halah! Emang lu pikir martabak, spesial telur dua sosis jumbo satu. Eh, gue lupa!" Ariel menepuk kening, sedangkan Jeje hanya terkekeh ketika mendengarnya.
"Katakan, kamu mau apa sebenarnya? Aku yakin, kamu pasti manggil aku karena butuh," tukas gadis itu.
"Oh, ya jelas. Kalau kagak butuh, buat apa gue manggil lu." Ariel berbicara ketus, tidak peduli meskipun Jeje sudah menatapnya kesal. "Gue lagi sebal sama nyokap gue."
"Kenapa? Dosa, Riel kalau berani sama orang tua," kata Jeje sok bijak.
"Gue bukannya berani sama nyokap, gue cuma enggak suka aja sama keputusan dia yang nyuruh aku buat nikah sama Nesya. Masa iya, aku harus pilih salah satu, Nesya atau Kayla."
Jeje melongo sesaat, sebelum akhirnya ia tergelak sangat keras. Bahkan, suara tawanya begitu memekakkan telinga hingga membuat hati Ariel bukannya menjadi lega, justru makin menumpuk rasa kesal itu.
"Jangan ketawa, Je! Sumpah gue benci banget sama lu," serunya. Namun, hal itu tidak membuat tawa Jeje berhenti. Justru kian meledak.
"Awas jangan terlalu benci, ntar lu jatuh cinta lagi sama gue."
"Ogah! Gue nyuruh lu ke sini bukan buat ngetawain gue, tapi gue cuma minta bantuan lu buat gagalin rencana perjodohan itu. Anggap aja, itu balasan dari lu buat gue karena udah bantu lu kemarin," kata Ariel. Membuat tawa Jeje seketika terhenti.
"Ya ampun, Riel. Kamu perhitungan banget, sih! Kagak ikhlas kamu bantuin aku." Jeje bersedekap sambil mencebik kesal. "Lagian, apa yang bisa aku bantu?"
"Ya lu pura-pura aja jadi pacar gue. Gampang 'kan?" Ariel tersenyum sinis. Berbeda dengan Jeje yang terdiam untuk beberapa saat.
"Iya, kamu ngomong gampang. Gampang banget malahan. Kalau bantuin kamu kayak gitu, aku enggak mau." Jeje menolak mentah-mentah.
"Kenapa? Apa susahnya lu tinggal iya-in aja."
"Susah banget lah, Riel. Kamu pikir aja, yang mau dijodohin sama kamu itu si Nesya. Kayaknya kamu belum lupa kalau Nesya itu sepupu aku. Masa iya, aku mau merebut calon tunangan sepupu aku sendiri. Bisa-bisa hubungan keluargaku jadi renggang. Aku enggak mau itu terjadi," jelas Jeje.
"Gue belum tunangan sama dia dan enggak akan mau jadi tunangan sama dia sampai kapan pun. Gue mau menikah dengan wanita pilihan gue sendiri dan yang jelas wanita itu bukan anak kecil seperti dia." Ariel menyandarkan kepala dan mendes*hkan napas ke udara.
Jika boleh memilih, ia ingin memiliki istri seperti Nabila. Ya, semua seperti Nabila. Namun, kenyataan menyadarkan lelaki itu bahwa tidak ada manusia yang sama di dunia ini. Kalau mirip mungkin ada, tapi kalau sama persis, seribu satu. Bahkan, saudara kembar saja meskipun bersama di rahim, tetap saja ada bedanya.
"Kamu masih mikirin Nabila?"
Tebakan Jeje seketika membuat Ariel terpaku. Bagaimana bisa wanita itu tahu kalau ia sedang memikirkan Nabila. Apakah ia bisa membaca pikiran orang lain. Ah, mana mungkin!
"Ya ampun. Kamu ngalamun lagi, Riel!" Jeje berdecak kesal. "Benar-benar, ya!"
Jeje memasang wajah malas. Sungguh, sejak dulu Ariel selalu saja menyebalkan untuknya. Apalagi sejak Nabila menikah, entah mengapa ia merasa Ariel selalu saja dekat dengannya dan itu membuatnya repot.
Jangan-jangan Ariel cuma mau jadiin Jeje tempat pelarian. Oh, No! Jangan sampai itu terjadi.
"Cepet ambil keputusan. Kalau sampai hitungan ketiga lu enggak ngasih jawaban, gue bakal ngambil keputusan pertama. Lu jadi pacar pura-pura gue," ucap Ariel penuh ketegasan.
"Sumpah, kamu itu nyebelin!" bentak Jeje, tetapi Ariel tidaklah peduli.
"Satu ... dua ...."
"Aku akan carikan gadis yang cocok untukmu." Jeje menjawab cepat. Membuat Ariel tersenyum puas.
Ia merasa senang, setidaknya tidak perlu repot-repot mencari gadis untuk dijadikan pacar pura-pura. Ariel yakin kalau Jeje punya banyak teman wanita dan ia pun merasa yakin kalau Jeje akan mencarikan wanita yang baik untuknya.
Ciee ... yakin amat lu, Riel!
***
Ariel tersenyum senang ketika Jeje mengabari dirinya kalau sudah mendapat wanita yang sepertinya cocok untuk Ariel. Bahkan, Jeje sudah mengirimkan foto gadis itu dan menurut Ariel, selera Jeje tidaklah terlalu buruk.
Tanpa berpikir panjang, Ariel pun langsung meminta Jeje untuk mempertemukannya dengan gadis itu. Tentu saja hal itu langsung disambut antusias. Jeje meminta Ariel untuk datang ke restoran miliknya dan bertemu dengan gadis itu di sana.
"Mana orangnya, Je. Kenapa lama banget?" tanya Ariel tidak sabar. Pasalnya, dia sudah menunggu selama lebih dari sepuluh menit, gadis itu belum juga muncul.
"Sabar, sih, Riel. Enggak sabaran banget," balas Jeje mulai kesal.
Ariel pun akhirnya diam dan mengalihkan perhatian ke ponsel. Namun, ketika baru saja bermain ponsel, ia dikejutkan oleh suara Jeje yang cempreng sekaligus melengking. Sungguh, Ariel sampai tersentak. Ia sampai berpikir bahwa Agnes ketika sedang hamil Jeje, mungkin ngidam peluit tukang parkir. Haha kagak penting oe!
"Belinda, apa kabar?" tanya Jeje. Menyambut seorang wanita cantik, bertubuh seksi dengan belahan dada yang terlihat menonjol sempurna. Wajahnya memang terlihat kalem, tetapi penampilannya terlihat 'liar'.
Ariel sampai melotot ke arah Jeje yang sedang tersenyum senang.
"Apa ini pria yang akan menjadikanku pacar pura-pura, Je? Kalau memang iya, jangankan pura-pura, jadi istri sahnya saja aku akan langsung terima." Wanita itu mengerlingkan sebelah mata hingga membuat Ariel seketika bergidik ngeri.
"Je ...."
"Aih, harusnya kamu sebut nama aku, Sayang. Namaku Belinda. Kamu bisa memanggilku Abel atau Linda terserah, asal jangan memanggilku Bel saja. Takut dikira bel sekolah, hihi." Wanita itu terkekeh sendiri seperti kunti membuat Ariel makin merinding.
"Maaf, saya tidak bersalaman dengan lawan jenis. Anda bisa tunggu di sini sebentar, Nona? Karena ada yang akan saya bicarakan dengan Jeje." Ariel bangkit berdiri dan berusaha memaksakan senyumnya.
Wanita itu hendak menahan, tetapi Ariel sudah terlebih dahulu menarik tangan Jeje dan mengajaknya pergi dari sana. Menuju ke ruangan Jeje agar tidak ada siapa pun yang mendengar obrolan mereka.
"Lu gila, Je!" umpat Ariel penuh kekesalan.