
Sultan dan Ariel, dua pria itu sedang berada di sebuah private room di kafe. Jika biasanya mereka akan mengobrol dan bersenda gurau, tetapi tidak untuk sekarang. Keduanya sama-sama saling melayangkan tatapan tajam hingga membuat suasana di ruangan itu terasa mencekam.
"Kenapa, Sul? Tumben banget ngajak gue ketemuan di private room kayak gini. Mau bahas bisnis?" tanya Ariel berlagak bodoh. Padahal ia tahu dengan pasti apa yang akan dibahas oleh Sultan.
"Enggak. Gue cuma mau nanya sama lu, dan gue harap lu jawab dengan jujur, Riel." Sultan melayangkan tatapan tajam. Namun, hal itu tidak membuat Ariel menjadi takut.
"Apa? Tanya aja. Gue bakal jawab kalau bisa." Ariel masih saja bersikap tenang.
"Riel, apa lu yang ngomong ke Hanum kalau gue udah nikah sama Nabila? Karena gue curiga sama lu."
"Enggak usah curiga karena emang gue yang ngomong ke dia. Emang kenapa? Emang salah kalau gue ngomong sejujurnya sama wanita itu," sahut Ariel.
"Brengsek!" Sultan memukul pipi Ariel hingga membuat lelaki itu merintih kesakitan.
"Kenapa lu, Sul? Enggak ada angin ataupun hujan langsung main pukul aja," tanya Ariel bingung. Ia mengusap pipinya yang terasa seperti kebas.
"Gue enggak nyangka ternyata lu yang bikin huru-hara. Mulut lu ember sekali!" sentak Sultan.
"Maksudnya?" tanya Ariel makin bingung karena ia belum tahu soal kejadian kemarin.
"Gara-gara mulut sialan lu ini, keluarga gue dan Nabila tahu. Bahkan kita bertengkar hebat dan gue harus mendapat omelan dari papa dan mama. Lu beneran brengsek, Riel!" Sultan ingin sekali memukul Ariel lagi, tetapi niatnya urung ketika melihat Ariel yang sudah memasang kuda-kuda.
"Hal itu emang pantes lu dapetin, Sul! Gue enggak akan pernah rela ada orang yang nyakitin Nabila. Walaupun itu lu yang merupakan suami Nabila sendiri!" Ariel balas membentak Sultan. Emosi lelaki itu serasa naik ketika teringat tentang Hanum yang mendekati Sultan.
Ia memang tidak melihat Nabila menangis, tapi ia tahu kalau wanita tersebut menyimpan luka hati yang sangat dalam. Semua terlihat jelas dari sorot mata wanita itu.
"Seharusnya lu enggak pernah ikut campur urusan rumah tangga gue dan Nabila. Emang lu pikir siapa? Bilang aja lu sayang sama Nabila." Sultan tertawa meledek.
"Gue emang sayang sama Nabila. Gue udah coba ikhlasin dia buat nikah sama lu karena gue tahu, dari dulu Nabila sayang sama elu. Tapi apa, Sul? Lu malah nyakitin dia! Kalau emang lu enggak sayang sama dia, lu enggak bisa bahagiain dia, mendingan lu pisah dari Nabila dan kejar wanita pujaan hati lu. Karena gue bakal nerima Nabila apa pun keadaannya." Ariel tersenyum sinis melihat Sultan yang terlihat geram.
"Lu emang brengsek!" Sultan memukul perut Ariel.
Merasa tidak terima, Ariel pun membalas pukulan tersebut.
"Lu yang brengsek, Sul!"
Dua orang itu pun saling adu jotos. Bahkan, keduanya memiliki luka memar dan berdarah di bagian pelipis maupun sudut bibir. Setelah merasa puas saling memukul, mereka pun terduduk dan terlihat napasnya sama-sama tersengal.
"Kita udah impas sekarang. Jadi, gue mesti pulang. Gue harap lu enggak akan nyakitin Nabila lagi. Kalau sampai lu buat Nabila nangis, gue bakal rebut Nabila dari lu." Ariel memakai masker untuk menutupi luka-luka lebam di wajahnya. Lalu bergegas pergi dari ruangan itu.
***
"Jatuh." Sultan menjawab singkat dan bermalasan.
"Jangan bohong, Sul. Mana ada orang jatuh lukanya kayak gini. Bilang aja lu habis berantem sama Ariel. Muka dia juga penyok soalnya," kata Nabila. Ia tidak mengetahui jika ucapannya membuat dada Sultan terasa panas. "Lu duduk sini dulu, gue ambil air buat kompres."
"Enggak perlu. Gue bukan anak kecil lagi." Sultan menolak dan justru memilih untuk pergi ke kamar. Nabila pun mengikut di belakang lelaki itu.
Namun, bukannya untuk tidur, Sultan justru mengambil beberapa stel pakaian dan memasukkannya ke koper. Hal itu pun sontak membuat Nabila mendadak heran dan bingung.
"Lu mau ke mana, Sul?" tanya Nabila.
"Bukan urusan lu. Selama beberapa hari ini, gue enggak mau ketemu sama lu. Jangan pernah cari ke mana gue pergi. Jangan pernah hubungi gue apalagi sampai nemuin gue di kantor. Tugas lu di kantor udah ada yang handel semua," sahut Sultan. Nabila pun terdiam untuk beberapa saat.
"Sul, kenapa begitu? Gue minta maaf kalau salah. Gue ...."
"Diamlah," sentak Sultan. Ia menatap Nabila dengan tajam lalu menyeret koper itu keluar kamar.
Nabila pun dengan gegas mengejar Sultan. "Sul, gue lupa kalau Hanum ...."
"Udah gue bilang lu diam aja, Kadal! Jangan pernah ngomong apa pun. Gue butuh waktu sendiri!" ujar Sultan memerintah. Membuat ucapan Nabila itu hanya tercekat di tenggorokan.
Nabila mematung di depan pintu kamar dan hanya bisa menatap kepergian Sultan. Ia hanya ingin memberitahu kalau Hanum akan menikah, tetapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Nabila pun memilih untuk kembali masuk kamar karena ia merasa memang untuk saat ini mereka berdua harus memiliki waktu untuk saling menenangkan diri.
"Non," panggil Mbok Iyah. Mengurungkan gerakan Nabila yang hendak menutup pintu. "Tuan Sultan mau ke mana?"
"Mbok, jangan bilang papa kalau Sultan pergi dari rumah. Aku mau masalahku dan Sultan selesai tanpa ada campur tangan orang tua. Jadi, aku sangat mohon, Mbok. Jangan bilang papa." Nabila menangkup kedua tangan di depan dada dan memasang wajah memelas.
Awalnya Mbok Iyah tampak ragu, tetapi setelah menimang semuanya, wanita paruh baya itu pun mengangguk pelan. "Baik, Nona. Untuk sekarang ini saya akan diam, tapi kalau Tuan Sultan sudah keterlaluan, maka saya akan mengadu lagi kepada Tuan Arga."
Nabila pun memeluk Mbok Iyah sangat erat. "Makasih banyak, Mbok."
Setelahnya, Nabila pun pamit masuk ke kamar karena ia ingin segera beristirahat. Ia memang sengaja tidak mengejar Sultan karena ia pun merasa butuh waktu untuk saling menyendiri.
Hah!
Nabila mengembuskan napas kasar. "Semoga semua ini cepet selesai."