
..."Aku tahu. Perasaanku ini tidak terbalaskan karena perasaanmu bukanlah untukku. Namun, bolehkah aku bertahan sebentar lagi? Aku memang bodoh karena sudah mencintaimu dan rela terluka karena ternyata kamu mencintai wanita lain. Tapi, bolehkah aku egois sebentar saja. Berharap kamu bisa membalas perasaan ini. Kamu menghapus wanita itu dari hatimu dan mencintaiku dengan sangat dalam. Aku hanya berharap itu walaupun aku tidak yakin semua akan menjadi kenyataan. Aku tahu, semua sudah digariskan oleh Tuhan." ...
..._Nabila Kanesh Dalila_...
...****************...
Pengantin yang masih dibilang baru itu, sekarang sudah menempati rumah pribadi mereka sejak beberapa hari lalu. Rumah megah yang hampir setara dengan luas rumah Pandu. Dengan halaman luas di depan.
Nabila berharap, setelah mereka pindah maka bisa fokus membina rumah tangganya bersama Sultan dan anak mereka kelak. Ya, meskipun Nabila hanya menaruh harapan kecil karena ia sudah berjanji akan membantu Sultan bersatu dengan Hanum.
Janji yang bodoh, bukan?
Bahkan, Nabila sering menertawakan dirinya sendiri karena sudah bersikap sebodoh itu.
"Hari ini gue ada kepentingan dengan seseorang. Jadi, ntar habis kerja, lu pulang dulu aja. Jangan menungguku," suruh Sultan.
Kening Nabila mengerut dalam. "Dengan siapa?" tanyanya.
"Lu enggak perlu tahu." Sultan memasang wajah ketus. Nabila pun mengangguk sambil membulatkan bibir.
Ia yakin kalau Sultan pasti akan menemui Hanum. Tidak diragukan lagi. Karena yang Nabila tahu, Sultan sedang tidak memiliki janji dengan rekan kerja mana pun.
"Baiklah, kalau gitu ntar gue mau jalan sama Ariel aja. Kebetulan gue mau beli sepatu baru. Ada model baru yang gue suka," kata Nabila santai.
Ia tidak peduli meskipun Sultan sudah menatapnya tajam.
"Jangan dengan Ariel!" perintah Sultan setengah membentak. "Pergilah dengan Kayla atau Jeje. Dengan siapa pun itu asal bukan Ariel!"
"Kenapa? Gue cuma mau pergi dengan Ariel. Udah lama sekali gue enggak jalan berdua dengan dia." Nabila benar-benar pandai memancing emosi suaminya.
"Pokoknya gue enggak mau kalau sampai lu ketemu sama Ariel!" perintahnya lagi. Namun, Nabila sama sekali tidak takut meskipun Sultan sudah melotot ke arahnya.
Dengan santai, Nabila bangkit dan merapikan blazer yang dikenakan. "Udahlah, gue enggak mau berdebat hal kayak gini. Lu boleh jalan sama Hanum. Lalu kenapa gue enggak boleh jalan sama Ariel? Padahal gue, lu, dan Ariel udah bersahabat lama. Sementara lu dan Hanum ...."
"Apa!"
"Enggak jadi." Nabila mengurungkan pembicaraan mereka. Lalu memaksa Sultan agar segera berangkat. Nabila tidak ingin jika mereka akan berperang hanya karena masalah ini. Sepertinya hanyalah masalah sepele, tetapi mampu membuat hati Nabila merasa sakit setiap waktu.
Sultan pun menuruti keinginan istrinya. Walaupun pada akhirnya mereka saling diam dan tidak bertegur sapa. Entahlah, Sultan merasa kesal hingga membuatnya malas bicara, sedangkan Nabila sedang berusaha menguatkan hatinya.
Hal seperti ini benar-benar membuatnya kehilangan selera makan.
***
Sultan melakukan hal yang sama dengan Nabila. Lelaki itu tidak langsung pulang ke rumah karena ia akan menemui Hanum. Ia merasa sudah sangat lama tidak bertemu dengan wanita itu. Jika dulu dua hari tidak bertemu saja membuat Sultan seperti orang kalang kabut, tetapi tidak sekarang. Ia merasa rindu. Namun, tidak sehebat biasanya.
Kedatangan Sultan membuat Hanum yang kala itu sedang bersama anak-anak menjadi terkejut. Tidak ada angin ataupun hujan, Sultan sudah langsung duduk di ruang tamu. Awalnya Hanum tersenyum, tetapi ketika mengingat ucapan Ariel kemarin, seketika memudarkan senyum Hanum kala itu juga.
Merasa ada yang perlu dibicarakan, Hanum pun meminta anak-anak untuk segera masuk ke kamar. Ia tidak ingin jika mereka mendengar pembicaraan antara dirinya dengan Sultan.
"Hanum, kenapa kamu lama sekali tidak mengabariku? Bahkan, saat aku menghubungi, kamu tidak mau membalas sama sekali." Sultan bertanya langsung tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak menaruh curiga sama sekali.
"Aku sibuk." Hanum menghirup napasnya dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Sul ... aku minta maaf karena selama ini sudah mengganggumu. Sudah menjadi beban untukmu."
"Hanum, kamu sama sekali tidak menjadi beban untukku. Aku justru senang bisa membantumu dan anak-anak panti ini. Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba berbicara seperti itu?" Sultan berusaha tersenyum meskipun dalam hati merasa gelisah karena Hanum tidak seperti biasanya.
"Sul, aku cuma mau meminta satu hal sama kamu. Maukah kamu menjauhiku mulai saat ini?"
"Hanum! Apa yang kamu bicarakan? Jangan ngaco!" Sultan mulai meninggikan suaranya karena ia terkejut dengan ucapan Hanum.
"Sul, aku senang dekat denganmu, tapi aku takut kehadiranku akan merusak rumah tangga orang lain. Aku tidak mau menjadi pelakor di dalam hubungan orang lain. Aku tidak mau, Sul." Kedua mata Hanum tampak berkaca-kaca.
"Apa maksudmu?" tanya Sultan makin tak karuan rasanya.
"Sul, aku tahu kamu sudah menikah dengan Nona Nabila. Wanita yang lebih sepadan denganmu daripada aku. Jadi, kumohon jauhilah aku karena aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain," kata Hanum. Suaranya bergetar karena menahan tangis.
Sultan terkejut ketika mendengar ucapan Hanum tersebut. "Dari mana kamu tahu?"
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapat informasi itu. Yang terpenting sekarang adalah kita harus saling menjaga jarak, Sul. Kalau perlu, kamu tidak perlu datang lagi ke sini." Hanum menghirup napas dalam-dalam. Ia pun merasa hatinya sesak, tetapi ia lebih memilih untuk jauh dari Sultan daripada harus menyakiti wanita lain.
Sejujurnya, Hanum pun memiliki rasa kepada Sultan karena kedekatan mereka. Ia pikir, suatu saat ia dan Sultan akan bersama, tetapi hal itu tidak mungkin karena Sultan bukanlah pria lajang. Ia tidak mau merusak rumah tangga lelaki itu karena ia pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati membuat Hanum memilih untuk mundur.
"Hanum ...."
"Kumohon, Sul." Hanum bersimpuh di depan Sultan hingga membuat lelaki itu tersentak kaget.
"Bangun, Num! Apa yang kamu lakukan!" bentak Sultan kesal.
"Aku mohon, Sul. Kamu jangan pernah datang lagi ke sini dan menemuiku. Aku tidak mau menyakiti hati Nona Nabila." Hanum begitu memohon.
Dengan kesalnya, Sultan pun beranjak bangun dan pergi dari sana. Dadanya bergemuruh hebat karena dipenuhi amarah. Ia marah kepada Hanum karena sudah mengusirnya, tapi ia lebih marah kepada Nabila. Ia yakin kalau Nabila lah, yang mengatakan semuanya kepada Hanum.
Dasar wanita sialan! Lihat aja, setelah ini gue bakal bikin perhitungan sama lu!
Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan mencengkeram setir kemudi dengan kuat untuk melampiaskan amarahnya. Ia benar-benar tidak sabar ingin segera menemui istrinya.