
Keesokan paginya, Nabila terkejut ketika baru membuka mata, ia langsung membaca pesan dari Sultan. Meskipun hanya kata 'hai' nyatanya bisa membuat hati Nabila terasa berbunga-bunga. Namun, Nabila dengan usilnya tidak membalas pesan tersebut. Hanya membacanya lalu menaruh ponselnya kembali.
Ia ingin membuat Sultan belingsatan karena kesal dari kemarin lelaki itu terus melarang dirinya untuk mengirim pesan padanya.
"Mendingan gue mandi ajalah, biarin aja dia kelimpungan. Salah sendiri sok-sok'an enggak mau dihubungi. Lagian, jam segini pasti dia udah di kantor."
Nabila melihat jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh. Ternyata wanita itu bangun pagi yang kesiangan. Haha.
Untuk merelaksasi pikirannya, Nabila memilih berendam di bath-up hampir satu jam lamanya. Setelah merasa tubuhnya sudah lebih baik, ia pun segera memakai jubah mandi dan mengambil baju ganti.
Namun, ketika belum sampai berganti pakaian, Nabila terkejut saat ponselnya terus saja berbunyi. Ada sebuah nomor asing yang menghubungi Nabila. Akan tetapi, ketika hendak menerima panggilan itu justru sudah terputus. Nabila pun dengan segera membuka pesan masuk dari nomor tersebut.
Hai, Nona Nabila. Ini saya, Hanum. Maaf, saya menganggu Nona. Saya hanya mau pamit sama Nona kalau sekarang saya harus pulang ke kampung. Maaf, kalau selama ini saya sudah mengganggu rumah tangga Nona dengan Sultan. Setelah ini, saya harap kalian berdua bisa hidup bahagia dan doakan saya juga bisa hidup bahagia bersama suami saya nanti Nona. Saya pamit, Nona. Selamat siang.
"Ya Tuhan, Hanum ... Sultan."
Nabila berusaha membalas pesan tersebut, tapi tidak dibalas. Ia pun berusaha menelepon, tetapi tidak diangkat sama sekali. Dengan gegas, Nabila memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang kecil lalu mengalungkan di pundak dan segera berlari keluar kamar. Ia harus menemui Sultan sekarang juga. Ia masuk ke mobil, lalu menyetir dengan tergesa menuju ke kantor Sultan.
"Jangan sampai Hanum berangkat. Sultan harus cepat tahu biar dia bisa gagalin pernikahan wanita itu." Nabila terus mengebut. Melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Beruntung, sedang berada di jam kerja membuat jalanan tidak terlalu padat.
Setibanya di kantor Sultan, Nabila memarkirkan mobilnya secara sembarang. Lalu berlari untuk menemui Sultan, tetapi sayangnya, ia justru terjatuh ketika sedang menaiki anak tangga yang akan menuju ke lobi.
"Sial bener," umpat Nabila kesal.
Salah seorang karyawan mencoba menolong Nabila meskipun karyawan pria itu terus saja memalingkan wajah.
"Terima kasih." Nabila berusaha tersenyum.
Karyawan pria itu pun mengangguk cepat dan langsung pergi begitu saja. Nabila hendak langsung ke ruangan Sultan, tetapi ketika melihat Sultan sedang berjalan turun, dengan cepat Nabila menarik tangannya. Ia bahkan tidak menyadari jika lengannya sudah berdarah karena terjatuh tadi.
"Lu!"
"Sul, cepetan lu ikut gue!"
Sultan bingung ketika Nabila sudah menarik tangannya dengan kencang dan mengajaknya masuk ke mobil. Nabila hendak menyetir, tetapi Sultan melarang. Lelaki itu tidak mau jika sampai nyawa mereka melayang hanya karena kecerobohan Nabila.
"Gue yang nyetir. Gue enggak mau lu nyetir dalam keadaan panik kaya gini."
Nabila hanya mengiyakan dan segera duduk di kursi penumpang. Lalu Sultan segera masuk ke mobil dan melajukannya.
"Kita mau ke mana?" tanya Sultan masih terlihat tenang.
"Terminal." Nabila menjawab dengan napas tidak beraturan karena sejak tadi wanita itu berlarian.
"Mencegah Hanum biar enggak pulang kampung."
Citt!
Tubuh Nabila terhuyung ke depan karena Sultan mengerem secara mendadak padahal mereka baru saja keluar dari gerbang perusahaan.
"Sultan! Lu emang sialan! Mau bikin gue mati," cebik Nabila kesal. Ia mengusap keningnya yang hampir saja membentur dashboard.
"Katakan sekali lagi, lu mau ngajak ke mana?" Sultan memperjelas pertanyaannya.
"Ish! Apa telinga lu udah enggak denger. Gue mau ngajak lu ke terminal. Buat nahan Hanum biar enggak pulang kampung. Lu tahu, Sul. Dia mau pulang kampung karena besok mau nikah sama pria pilihan orang tuanya. Jadi, mendingan sekarang kita bergerak cepat jangan sampai terlambat," cerocos Nabila panjang lebar. Namun, Sultan justru hanya membisu dan terus menatap wanita itu.
"Buat apa? Biarkan saja." Sultan menjawab singkat.
"Ish! Lu!" Nabila menepuk bahu Sultan cukup kencang hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan. "Kenapa gitu? Ayolah, Sul. Lu harus ngejar Hanum. Gue yakin dia belum naik bis. Jadi, mending sekarang lu ngebut ke sana dan cegah dia. Kayak adegan di tivi-tivi gitu. Pasti so sweet banget." Nabila memegang pipi sambil tersenyum-senyum seperti orang sedang kasmaran. Padahal ia hanya membayangkan adegan romantis yang sering ia tonton di sinetron.
"Na ...."
"Udah, ayo, Sul. Jangan banyak mikir. Ntar yang ada kita terlambat. Kalau Hanum udah naik bis, ntar kita harus susul ke kampung. Kita buat pernikahan Hanum dengan pria itu batal."
"Buat apa, Na?"
"Biar lu bisa bersatu dengan Hanum. Kalau perlu lu besok langsung nikah aja sama Hanum. Lu gantiin mempelai pria. Gue yakin kalau orang tua Hanum lebih setuju kalau dia nikah sama lu. Ayolah, Sul." Nabila gemas sekali. Ia bahkan memutar-mutar setir mobil dan berlagak seperti sedang melajukannya.
"Na, kalau gue nikah sama Hanum. Lalu gimana dengan pernikahan kita?" tanya Sultan tanpa melepaskan pandangan dari Hanum.
"Gue bakal ceraiin lu. Tenang aja. Gue enggak akan ganggu rumah tangga lu. Ntar, lu aja yang gugat cerai gue dan bilang kalau gue ini tidak bisa menjadi istri yang baik. Biar lu enggak buruk di mata keluarga gue maupun keluarga lu sendiri, Sul. Yang penting buat gue adalah ngelihat lu bahagia, Sul."
Nabila terdiam ketika Sultan tiba-tiba memeluknya cukup erat. Bibir wanita itu langsung terkatup rapat begitu saja. Entah mengapa, pelukan itu terasa sangat erat bahkan membuat Nabila sedikit merasa sesak.
"Sul ..."
"Gue enggak mau cerai dari lu. Gue pengen memperbaiki hubungan kita," ucap Sultan.
Nabila mendorong Sultan agar pelukan itu terlepas. "Sul, kenapa lu ngomong gitu. Harusnya lu ikuti ucapan gue tadi. Lu harus cepat kejar Hanum, dan kejar juga cintanya. Gue enggak mau kalau lu terus tersiksa dengan hubungan kita. Gue cuma mau lihat lu bahagia. Lu tahu, hal yang bisa buat gue bahagia adalah ngelihat lu bahagia dengan orang yang lu cintai, walaupun itu bukan gue."
"Tapi, Na."
"Sul! Jangan paksa hal yang elu sendiri enggak bisa ngelakuin. Gue sadar, sampai kapan pun elu enggak akan pernah bisa cinta sama gue. Gue tahu, perasaan gue salah. Gue tahu udah ngerusak hubungan lu sama Hanum. Gue emang murahan!" Nabila mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya. "Hiduplah bahagia dengan Hanum dan gue akan belajar ngehapus perasaan sayang gue buat lu, Sul."
"Na, bisakah lu jangan keras kepala sekali saja?"