BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 75



Hari ini adalah hari bahagia untuk Ariel dan Jeje. Tepat dihari ini, mereka akan melangsungkan ijab kabul dan setelahnya resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka sama-sama tidak sabar dan berdoa semoga acara hari ini terlewati dengan baik.


Jeje sudah tampak cantik dalam balutan gaun pengantin warna putih. Tampak serasi dengan Ariel yang memakai tuksedo dengan warna senada. Sungguh, mereka sangat cocok menjadi raja dan ratu dalam seharian ini. Bahkan, banyak pasang mata yang memusatkan pandangan mereka pada kedua orang itu. 


Kegugupan tampak memenuhi wajah Ariel sejak pagi dan lelaki itu baru merasa lega ketika ijab kabul sudah selesai. Kedua pengantin itu pun terus bergandengan tangan mesra dan senyuman kebahagiaan sama sekali tidak lepas dari bibir keduanya. Mereka bahkan terlihat menikmati rentetan acara itu. 


"Riel! Jangan kaku gitu." Nabila terus saja meledek Ariel yang sedang melakukan sesi foto. Seolah merasa puas melihat wajah sahabatnya yang tampak tegang.


Walaupun hubungan Ariel dan Jeje sudah baik, tetapi ketika harus beradu kemesraan di depan banyak orang, Ariel seketika grogi. Berbeda dengan Jeje yang terlihat lebih tenang daripada lelaki itu.


"Diem lu, Na! Jangan ngeledek atau anak gue ntar enggak jadi gue jodohin sama Sean." Ariel mencebik ketus dan langsung disambut gelakan tawa oleh Nabila.


"Lu, bikin aja belum udah main gagalin aja." 


Sungguh, Ariel merasa sangat sebal karena ia terus saja menjadi bahan ledekan, belum rentetan acara yang membuat kakinya pegal juga tamu undangan yang tiada habisnya.


Ariel sungguh tidak mau melakukan ini lagi. Ia kapok. Cukup sekali dan tidak mau terulang lagi. 


Emangnya lu ada rencana mau nikah lagi, Riel? Macem-macem lu, ya!


"Suk, Mas Gatra gagal jadi suami elu, eh ternyata sekarang kalian jadi besan. Emang, dah. Lu sama Gatra kagak bisa jauh," goda Zahra disertai tawa renyah.


Genk Somplak sekawan itu, sedang bergabung. Bersatu membasmi kegalauan. Eh! Mereka hampir pensiun.


Zahra berani berbicara seperti itu karena tidak ada Agnes di sana. Kalau ada Agnes, sudah pasti mereka tidak mungkin membahas hal itu agar tidak menyinggung perasaan Agnes. 


"Udah tua, jangan pada ngeledek Mulu. Lu sama Kurap, noh. Inget, udah jadi Oma sekarang." Zety menunjuk Zahra dan Rasya dengan gemas. Masih kesal dengan ledekan sahabatnya tadi. 


"Lah, emang iya. Lu juga bentar lagi jadi Oma," balas Rasya. Tidak mau kalah.


"Belum, Ra. Anak gue belum juga malam pertama," timpal Zety. Mencebik. 


"Hmmm, mendingan habis ini kita makan seblak aja. Udah lama juga kagak makan," ajak Margaretha yang sekarang lebih banyak diam.


"Yaelah, emang perut kalian masih kuat sama pedesnya?" Zahra berdecak.


"Kuatlah. Ngadepin omongan tetangga yang lebih pedes dari seblak aja, gue sanggup. Apalagi cuma seblak," ujar Zety angkuh.


Yang lainnya hanya mendengkus kasar. Ingin sekali membahas soal 'peranjangan'. Namun, ingat tahan diri, tahan emosi, tahan seblaknya dulu bestie. Haha.


Kenapa somplak sekawan sudah tidak somplak lagi?


Inget umur. Inget udah jadi Oma (sambil pasang muka judes)


***


Di sebuah kamar dengan nuansa merah muda. Banyak taburan bunga dan lilin kecil sebagai penambah suasana romantis. Pasangan yang baru tadi pagi resmi menyandang gelar suami istri, kini tampak gugup di dalam kamar itu. Mereka hanya saling bertukar pandang satu sama lain karena bingung harus memulai dari mana. 


"Kenapa diem aja? Jangan grogi gitu, Je." Ariel melepas baju yang dikenakan hingga terpampanglah dada bidangnya yang menggunggah selera. 


Udah kayak iklan aja. 


Jeje memalingkan wajah. Merasa malu sendiri. Selama ini ia belum pernah melihat Ariel bertelanjang dada dan baru kali ini tergoda. Ingin sekali memandang lebih lama, tetapi melihat tatapan Ariel yang menggoda, membuat wanita itu tidak sanggup. Ia tidak mau menjadi bahan godaan oleh suaminya sendiri. 


Ciee, suami. 


Wanita itu tersentak ketika Ariel sudah menindihnya. Bahkan, memajukan wajahnya hingga menyentuh pipi. Jeje pun bisa merasakan hangat napas Ariel yang menerpa wajah. Membuat seluruh tubuhnya terasa meremang. Membangkitkan gairah yang menggelora. 


Wanita itu sontak menutup mata, berusaha untuk menikmati suasana meskipun kegugupan masih mendominasi hatinya. Ia berusaha tenang, dan ketika Ariel berhasil meraup bibirnya, wanita itu langsung menahan napas.


Inilah ciuman pertamanya.


Perlahan, tapi pasti. Kegugupan mereka memudar seiring sentuhan yang membuat tubuh meremang. Dalam dinginnya malam, mereka saling beradu kehangatan.


Selamat menempuh hidup baru dan selamat sudah melepas keperawanan dan keperjakaan kalian. Semoga bahagia selalu menyertai hidup kalian.


***


Keesokan paginya, Jeje merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Ariel benar-benar bisa membuatnya kelojotan di malam pertama mereka. Bukan hanya satu ronde saja, tetapi lebih dari itu. Namun, Ariel melakukan dengan kelembutan hingga Jeje hanya merasakan sakit ketika di awal saja dan ketagihan setelahnya. 


Setelah bersiap, hari ini mereka berencana akan ke rumah Sultan. Entah mengapa, Jeje ingin sekali menjenguk Sean. Ia tahu, selama ini dirinya sudah salah karena 'sedikit' menjaga jarak dari Nabila maupun yang lain. Jeje hanya merasa khawatir kalau Ariel tidak akan pernah bisa ikhlas melepas cintanya pada Nabila.


Namun, kini Jeje sudah sepenuhnya yakin bahwa Ariel memang sangat mencintainya dan tidak perlu diragukan lagi. Jeje pun akan berdamai pada hatinya sendiri dan berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan Nabila. Ya, meskipun sebenarnya selama ini hubungan mereka pun baik-baik saja.


"Ya ampun, pengantin baru. Lihatlah, Sean. Paman dan bibimu sudah main kuda-kudaan semalam," ucap Nabila setengah meledek. Ia tidak peduli meskipun Ariel sudah melayangkan tatapan tajam padanya.


"Gue ke sini buat ketemu sama ponakan gue, bukan buat lu ledekin." Ariel mengambil alih Sean dari Nabila. Lalu menyerahkan bayi mungil itu kepada istrinya.


Bibir Jeje terlihat tersenyum lebar ketika melihat bayi mungil itu. Rasanya sangat bahagia. Bahkan, tidak jarang Jeje menciumi wajah Sean saking gemasnya.


"Je, buruan deh lu lembur terus biar cepet jadi tuh bayi. Calon mantu gue nanti," kata Nabila.


"Udah, Na. Lu diem. Jangan ngeracunin pikiran istri gue. Otak mesum lu emang bukan kaleng-kaleng lagi, dan gue enggak pengen otak istri gue tercemar," cibir Ariel.


Pembicaraan mereka terjeda ketika Sultan masuk rumah. Padahal harusnya lelaki itu masih bekerja sekarang ini. Namun, mendengar Mbok Iyah mengatakan ada pengantin baru datang ke rumah, dengan buru-buru Sultan pulang ke rumah.


Ia tidak tenang jika Nabila bertemu dengan Sultan. 


"Loh, kamu sudah pulang?" tanya Nabila heran.


"Udah. Ada tamu, jadi aku langsung pulang," balas lelaki itu sambil mengecup pipi Nabila.


"Gue juga bisa." Ariel tidak mau kalah. Ia mengecup pipi Jeje.


Sekali.


Dua kali.


Bahkan berkali-kali hingga membuat Jeje berdecak.


Bukan ia tidak mau dicium suaminya, tetapi ia malu harus pamer kemesraan di depan orang lain. Karena itu bisa saja mengundang ledekan.


Maklum, pengantin baru masih malu-malu dan masih anget-angetnya.


"Dah, habis ini kita langsung pulang aja. Gatel gue," celetuk Ariel asal.


"Dah sana kalau mau pulang. Daripada adek lu gatel minta digaruk," timpal Sultan setengah mengusir.


"Woo, iya, dong. Mumpung masih sempit, belum turun mesin."


"Gevariel!" pekik Nabila. Melempar bantal Sofa dan tepat mengenai kepala Ariel.


"Kenapa, sih, Na? Kesambet lu?" Ariel mengusap kepalanya yang tadi terkena bantal.


"Lu bilang turun mesin. Gue udah turun mesin satu kali, tapi punya gue masih sempit dan menggigit. Iya 'kan, Sul?" tanya Nabila sambil mendelik. Tidak peduli meskipun Sultan sudah menatap kesal padanya.


"Udah, Na. Udah. Gue percaya. Jangan dilanjut


Ingat, lagi puasa. Haha."


"Eh lupa." Nabila menepuk keningnya. "Selamat menunaikan ibadah puasa untuk kalian yang menjalankannya."