
Mereka kembali membuat sandiwara. Selama berjalan, Sultan terus saja merangkul pundak Nabila. Seolah ingin menunjukkan kepada siapa pun yang melihat bahwa mereka adalah sepasang pengantin yang bahagia. Nabila pun terus memanfaatkan situasi itu dengan merangkul pinggang Sultan.
"Lu sengaja ya?" tanya Sultan ketus.
"Emang iya. Emang kenapa? Selagi ada kesempatan, harus gue manfaatin dengan baik," sahut Nabila santai, tidak peduli meskipun Sultan sudah memberi sedikit rem*san di bahunya.
"Dasar Kadal!" cebik Sultan kesal.
"Dasar Bisulan!" balas Nabila dan hanya disambut dengkusan kasar oleh Sultan.
Setelah sampai di parkiran, barulah Sultan melepaskan rangkulannya. Namun, ketika hendak masuk ke mobil, mereka dikejutkan dengan kedatangan Hanum. Kedua orang itu pun terpaku di samping mobil.
"Hanum, kamu datang lagi?" tanya Sultan lembut. Nabila yang barusan tersenyum senang kini mulai memudarkan senyuman itu. Wajahnya mendadak murung seketika.
"Ya, aku membawa makan siang untukmu lagi karena tadi pagi aku masak terlalu banyak. Apalagi kamu bilang kemarin masakanku sangat enak dan membuatmu ketagihan." Hanum berbicara lirih sambil menunduk. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang tidak enak hati.
Sultan pun terpaku di tempatnya, tetapi ia melirik Nabila setelahnya. Sorot matanya seolah memberi kode. Nabila pun menghela napas panjang saat paham kode yang diberikan oleh Sultan.
"Silakan makan siang bersama Bos Sultan, Nona. Saya akan pergi karena mau mengganggu makan siang kalian." Nabila menunjukkan senyum paksa.
"Tapi kamu harus makan siang—"
"Kamu tenang saja. Aku akan makan bersama Ariel. Sepertinya dia punya banyak waktu. Lagi pula, Ariel tidak punya gandengan, jadi aku lebih bebas," ucap Nabila setengah menyindir. Ia tidak peduli meskipun Sultan sudah mendelik ke arahnya. "Sana, masuklah ke ruangan. Kasihan Nona Hanum sudah jauh-jauh datang ke sini."
"Na—"
"Aku baik-baik saja." Nabila menepuk bahu Sultan lalu dirinya mengambil kunci dari tangan lelaki itu. Setelahnya, Nabila masuk ke mobil dan melajukannya dengan kencang. Bahkan, ia hampir saja menabrak gerbang kantor.
"Kadal sialan!" umpat Sultan kesal. Ia tampak seperti orang yang kebingungan.
"Sultan, kamu mau ke mana?"
"Hanum, kamu tunggu di sini dulu. Aku harus mengejar dia karena aku khawatir terjadi apa-apa dengannya." Setelah berbicara seperti itu, Sultan langsung mengambil kunci milik siapa pun dan segera melajukan mobilnya menyusul Nabila. Ia sungguh merasa sangat khawatir dengan wanita itu.
Ya, Sultan sudah sangat memahami Nabila. Termasuk bagaimana cerobohnya wanita itu.
Sedang dalam situasi terburu, Sultan berdecak saat ponselnya berdering. Ia melihat nama Ariel tertera di layar. Sultan pun segera memasang headset lalu menerima panggilan tersebut.
"Ada apa, Riel?" tanya Sultan tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
"Lu di mana? Gue mau ngajak lu makan bareng, tapi kenapa daritadi gue telepon Nabila kagak diangkat juga? Apa Nabila masih bekerja?" tanya Ariel.
"Gue makan siang di luar. Jadi, mendingan lu makan sendiri aja." Nada bicara Sultan jelas sekali terdengar bermalasan. Bahkan, ia mencengkeram setir kemudi cukup kuat. Ia marah akan pertanyaan Ariel yang membuat hatinya serasa memanas.
"Yah, padaha gue mau ikut. Bosen makan siang sendirian mulu," ucap Ariel.
"Makanya nikah dan lu bakal punya seseorang yang nemenin makan," kata Sultan ketus. Ia pun mematikan panggilan tersebut begitu saja.
Setelahnya, Sultan mengaktifkan mode silent agar Ariel tidak lagi mengganggu. Karena untuk saat ini Sultan tidak ingin diganggu siapa pun. Ia hanya ingin fokus mencari Nabila.
Setelah cukup lama mencari, Sultan terkejut ketika melihat mobilnya terparkir di pinggir jalan—ralat—bukan terparkir melainkan rusak bagian depan karena menabrak pembatas jalan, juga ada beberapa orang yang melihat kecelakaan itu.
Sultan pun bergegas turun karena saking khawatirnya. Ia mencari Nabila di dalam mobil, tetapi wanita itu tidak ada.
"Sul, lu dateng ke sini?" tanya Nabila dari arah belakang.
Sultan berbalik dan memindai seluruh tubuh Nabila dari atas sampai bawah. Ia bernapas karena wanita itu baik-baik saja tanpa ada yang lecet sedikit pun.
"Bisakah lu nyetir dengan baik! Jangan pernah nyetir sendirian! Lu sadar enggak kalau lu itu sangat ceroboh!" bentak Sultan.
Nabila tidak berbicara apa pun. Wanita itu hanya menunduk dalam sambil merem*s dada saat merasakan nyeri yang sangat hebat di sana. Bahkan, tanpa sadar air mata Nabila hampir saja menetes jika wanita itu tidak segera menghapusnya.
"Maafkan gue karena sudah sangat ceroboh, Sul. Gue beneran enggak sengaja. Lu tenang aja, gue udah manggil mobil derek buat bawa mobil lu ke bengkel dan gue yang akan bayar semua biayanya. Mendingan sekarang lu kembali ke kantor karena gue yakin Hanum masih menunggu lu di sana."
"Na ...."