BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 64



Mobil yang dikemudikan Jeje melesat membelah jalanan kota. Beruntung saat itu suasana tidak terlalu padat sehingga Jeje bisa melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Bahkan, lebih terkesan terburu-buru. Ketika sampai di rumah sakit, Jeje langsung menuju ke ruang IGD karena ia merasa yakin kalau Ariel sudah pasti ada di sana. 


Namun, ia justru terheran ketika tidak menemukan keberadaan Ariel. Ia pun tidak mendapati pasien atas nama Gevariel. Padahal ia sudah berusaha memaksa perawat untuk mengingat dan meneliti dengan jelas. Memang benar, tidak ada Gevariel. 


Gadis itu mulai merasa kesal. Mungkinkah Ariel maupun Nesya sedang mengerjai dirinya. 


Jeje berusaha menghubungi Gevariel maupun Nesya, tetapi tidak ada satu pun yang menerima panggilan itu. Awalnya Jeje merasa frustrasi dan bingung sendiri, tetapi ia pun menyadari bahwa semua ini bisa saja permainan Nesya atau bahkan mereka dalam tanda kutip. 


Dengan kecewa, Jeje kembali masuk ke mobil. Tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah. Moodnya sudah sangat buruk dan tidak ingin melakukan apa pun. Bahkan ia kembali menaruh ponsel secara sembarang untuk melampiaskan rasa kecewa yang sedang dirasakan. Dalam hati, Jeje merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia sebodoh itu dan mudah pada percaya pada ucapan mereka. 


Ketika sedang melajukan mobilnya, Jeje merasa heran karena sepertinya ada yang mengikuti dirinya. Awalnya Jeje berusaha menepis perasaan itu dan menganggap itu hanyalah perasaannya saja. Namun, mobil itu terus saja mengikuti ke mana pun ia melaju. Jeje berusaha mengemudikan lebih kencang, tetapi ia harus mengerem secara mendadak ketika mobil tadi sudah berada di depannya, tepat ketika berada di jalan sepi. 


Jantung Jeje berdebar kencang. Ia segera memegang ponsel yang sempat dilemparnya. Berusaha menghubungi Ariel, tetapi masih saja panggilan tersebut tidak ada satu pun yang diterima. Jeje melihat dua orang bertubuh kekar keluar dari mobil tersebut. Lalu mengetuk kaca pintu mobilnya dengan cukup kencang. 


Jeje yang panik, tetap tidak mau membuka karena ia takut, tetapi suara ketukan itu kian mengeras bahkan terasa memekakkan telinga. Membuat Jeje makin merasa ketakutan. 


"Ya Tuhan, Ariel, ayo terima teleponku." Jeje panik sendiri. Ia pun tidak menyadari betapa bodoh dirinya itu. Banyak yang bisa ia mintai bantuan, tetapi kenapa sejak tadi ia terus saja berharap pada pertolongan Ariel yang jelas-jelas tidak ada kabar seharian ini. 


Di tengah kepanikannya karena lelaki itu terus saja mengetuk pintu, Jeje merasa sedikit lega karena Ariel meneleponnya. 


"Riel."


"Je, ikutlah dua orang itu karena mereka anak buah gue. Jangan takut, mereka enggak akan nyulik lu. Gue emang sengaja nyuruh mereka buat jemput lu karena gue enggak bisa jemput lu sekarang," kata Ariel sebelum Jeje berbicara. Ucapan lelaki itu seketika membuat kening Jeje mengerut dalam. Ia bahkan sampai menatap layar ponselnya untuk memastikan bahwa yang meneleponnya memang seorang Gevariel. Bukan orang lain. 


Padahal dari suaranya saja Jeje sudah bisa mengenali. 


"Kamu yakin, Riel?" tanya Jeje ragu. "Jangan bikin gue cemas."


"Ya, pasti. Buat apa gue bohong sama lu." 


Dengan ragu Jeje menurunkan kaca pintu mobilnya. Lelaki bertubuh kekar dan sangar yang barusan terlihat menyeramkan itu, kini membungkuk hormat di depan Jeje. Membuat wanita itu merasa yakin kalau ucapan Ariel memang benar. 


"Ka-kalian siapa?" tanya Jeje gugup. 


"Nona, saya akan mengantar Anda ke tempat Tuan Gevariel. Kalau Anda tidak mau bersama kami, Anda bisa mengikuti kami dari belakang menggunakan mobil Anda sendiri," ujar salah satunya karena mengerti jika Jeje pasti merasa tidak nyaman. 


Jeje pun mengangguk mengiyakan. Ia mengikuti mobil tersebut untuk menuju ke tempat Ariel. Padahal seharusnya ia sedang marah sekarang ini, tetapi kenapa ia masih mau saja menemui Ariel. 


Aahhh, mungkinkah Ariel sudah memberi pelet padanya. Bagaimana bisa ia setunduk itu. 


Jeje tetap mengikuti mereka meskipun ia kembali dibuat heran karena tidak tahu jalan yang dilewati itu menuju ke mana. Yang jelas, itu bukan ke rumah Ariel. 


***


"Kenapa berhenti di sini? Kalian yakin Ariel ada di sini?" tanya Jeje bingung. 


Saat ini mereka berada di depan sebuah restoran mewah yang tampak sepi. Bahkan, sepertinya restoran tersebut sudah tutup. Jeje pun mengedarkan pandangan ke sekitar dan ia pun mulai percaya saat melihat mobil Ariel ada di sana. 


Ketika kedua pria itu mengajak masuk, Jeje pun hanya menurut saja. Walaupun masih banyak kebingungan yang ia rasakan, tetapi ia berusaha untuk tetap diam. 


Ketika di dalam, memang tampak sepi. Bahkan, tidak ada siapa pun di sana. Hanya meja yang sudah disusun rapi seperti akan atau habis ada pesta. Langkah Jeje pun perlahan, tapi pasti mulai melangkah kian masuk. 


"Di mana Ariel? Kenapa ini sepi sekali? Apa kalian tidak bercanda?" tanya Jeje mulai kesal karena sejak tadi perasaannya terus saja merasa panik dan was-was. 


"Tidak, Nona. Tuan Gevariel ada di lantai atas." 


Jeje pun terus mengikuti menuju ke lantai tiga. Lantai teratas dengan ruangan terbuka. Pemandangan dari atas sana tampak indah. Setibanya di sana Jeje dibuat terpaku oleh Ariel yang terlihat tampan dalam balutan jas yang sangat rapi. Berdiri di depan meja makan yang sudah dihias dengan sangat cantik. 


Setelah mengantar Jeje, kedua pria itu berpamitan pergi hingga hanya meninggalkan Jeje berdua bersama Ariel. 


"Riel ... i-ini apa?" Jeje masih bingung, padahal semua dekorasi di sana sudah menjelaskan memang ada apa lagi jika bukan ....


"Selamat ulang tahun, Je." Ariel memberikan sebuah bucket bunga yang sangat cantik.