BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 62



Walaupun sibuk bekerja, Sultan tetap memantau keadaan istrinya. Hampir setiap setengah jam sekali, Sultan menghubungi Nabila hanya untuk menanyakan keadaan wanita itu. Apakah sudah lebih baik atau belum. Namun, Nabila mengatakan bahwa rasa mualnya masih sama. Belum juga reda. 


Sultan pun meminta Nabila untuk pergi ke dokter bersama Mbok Iyah, tetapi Nabila justru marah-marah dan mengatainya sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab. 


Ingin sekali Sultan pulang dan menemui istrinya, mengantarnya ke dokter untuk memeriksa penyakit apa yang diderita istrinya. Namun, itu tidak mungkin dilakukan karena ia masih memiliki rapat penting setelah ini. Ia pun meminta maaf kepada Nabila, dan meminta wanita itu agar sedikit lebih bersabar. Sepulangnya nanti, Sultan berjanji akan langsung mengantar Nabila ke dokter. 


Sampai pada akhirnya, Sultan mengembuskan napas lega ketika ia sudah selesai rapat. Tanpa menunggu lama, Sultan pun bergegas pulang tanpa menundanya lagi. Ia harus segera menemui istrinya untuk memastikan keadaannya. Bahkan, Sultan tidak lupa membeli buah-buahan kesukaan Nabila. Persis seperti menjenguk orang sakit. 


Setibanya di halaman rumah mewahnya, Sultan dibuat terheran karena ada Rasya dan Zahra di sana. Langkah Sultan pun kian tergesa karena rasa cemas. Jangan-jangan keadaan Nabila sangat parah karena kedua mamanya sampai berada di sana. 


Ketika baru masuk ke ruang tamu, Sultan kebingungan saat melihat Nabila sedang menangis tersedu. Rasya dan Zahra terlihat sedang berusaha menenangkan wanita itu. Melihat kedatangan suaminya, tangisan Nabila justru kian mengeras. 


"Itu pelakunya datang, Ma!" teriak Nabila sambil menunjuk Sultan. Membuat wajah lelaki itu panik sekaligus pucat. 


Langkah Sultan kian cepat dan lelaki itu langsung berdiri di depan istrinya. "Apa maksudnya?" tanyanya bingung. 


"Kamu yang udah buat aku kayak gini! Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus bertanggung jawab!" pekik Nabila. Sambil menangis meskipun tidak ada air mata yang keluar.  


Rasya dan Zahra pun tidak lelah untuk terus berusaha menenangkan wanita itu, sedangkan Sultan makin terlihat kebingungan. Mungkinkah ini masih soal cendol panas kemarin. Pikir Sultan berkelana.


"Sabar ya, Sayang. Mama yakin kalau Sultan pasti mau bertanggung jawab," kata Zahra. Terus mengusap punggung putrinya. 


"Iya, Sayang. Anak mama ini pasti akan tanggung jawab, kok. Jadi, kamu jangan nangis terus. Kalau dia tidak mau tanggung jawab maka mama akan menyunati dia lagi," ucap Rasya menambahkan. 


Sungguh, Sultan kian bingung dan menatap ketiga wanita itu secara bergantian. Berusaha mencari jawaban untuk memupus kebingungan yang sedang ia rasakan. 


"Iya, Ma. Pokoknya Sultan harus tanggung jawab! Dia udah berani berbuat maka harus berani tanggung jawab! Selama ini aku nurut aja kalau dia bolak-balik pas dikasur seperti goreng tempe. Aku nurut aja pas dia sodok-sodok meskipun kadang sakit, eh kadang enak juga, sih!" 


Sultan mendelik ke arah Nabila. Ia sungguh sebal kepada istrinya karena bagaimana bisa wanita tersebut berbicara sevulgar itu. Tanpa filter apalagi rasa malu di depan mama mereka. 


Lihatlah, Rasya dan Zahra sudah cengengesan. Sultan tahu ke mana jalan pikiran kedua wanita paruh baya yang masih mesum itu. 


"Kamu itu pelakunya! Kamu harus bertanggung jawab! Karena kamu, aku jadi mual-mual dan bahkan muntah seperti ini! Kamu buat aku lemas dan ...." 


Nabila terdiam karena Sultan sudah membekap mulutnya cukup erat. Wanita itu berusaha meronta sekuat tenaga, tetapi Sultan tetap saja menahan tangannya di mulut Nabila karena tidak ingin wanita itu banyak bicara. 


"Apa yang harus aku pertanggungjawabkan? Kamu yang memintaku untuk membeli cendol panas. Aku hanya menuruti kemauanmu karena kalau tidak dituruti sudah pasti kamu akan mengomel. Kalau tahu cendol itu akan membuat kamu jadi sakit seperti ini, aku tidak akan mau menurutinya," ucap Sultan penuh ketegasan. 


"Ini bukan soal cendol panas kemarin, tapi ini soal cendol mini punyamu," kata Nabila masih disertai tangisan meskipun sudah sedikit mereda. Padahal hanya air mata buaya. 


"Cendol miniku? Maksudnya?" tanya Sultan makin bingung. 


Ah, dia gemas kenapa istrinya ternyata sangat aneh seperti itu. Otaknya yang cerdas bahkan tidak bisa menangkap maksud ucapan Nabila. 


"Cendol mini kamu yang mirip dengan kecebong itu, sudah ada yang berhasil masuk ke rahimku, dan sekarang aku harus mual dan pusing seperti ini karena ada Bisulan Junior di sini." Nabila mengusap perut sambil berusaha menahan senyumnya. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini!" 


"Tunggu dulu. Jangan bilang kalau kamu sedang hamil saat ini?" tukas Sultan. Menatap Nabila penuh selidik. 


Nabila pun mengangguk cepat sambil tersenyum simpul. Tak ayal, membuat wajah Sultan langsung terlihat semringah. 


"Ka-kamu yakin sedang hamil sekarang?" tanya Sultan belum percaya. 


"Ma, dia tidak percaya aku hamil." Nabila kembali merengek. Mengadu kepada orang tuanya dan hanya disambut dengan senyuman bahagia. 


"Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Akhirnya aku akan menjadi seorang ayah."  Sultan memeluk Nabila sangat erat. Lalu mencium seluruh wajah wanita itu barulah beralih mencium perut Nabila yang masih sangat datar. 


"Hallo, Sayang. Ini Daddy." Mata Sultan terlihat berkaca-kaca karena terharu dan belum percaya kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. 


Ya, seorang ayah yang luar biasa tampan tentunya. 


Pede. Haha.