BISULAN (Bima Sultan Andaksa)

BISULAN (Bima Sultan Andaksa)
Bisul 42



Nabila merasa tidak tenang ketika Sultan mengirim pesan bahwa lelaki itu akan datang menyusulnya. Walaupun kota tempatnya sekarang berpijak sangatlah luas, dan mungkin Sultan akan kesulitan mencarinya, tetapi Nabila sangat berharap Sultan bisa menemukannya dan mereka akan pulang bersama. Jujur, Nabila mulai merasa rindu kepada suaminya. 


Selain itu, ia pun tidak mau jika mengerjai suaminya semakin jauh lagi. 


"Napa lu sedih gitu, Na?" tanya Ariel bingung melihat wajah Nabila yang tidak senyum-senyumnya. 


"Gue ngerasa udah keterlaluan banget, Riel. Kasian Sultan. Pasti sekarang dia sedang bingung," keluh Nabila. Ia terus menatap layar ponsel yang menunjukkan pesan dari Sultan. Nabila merasa ragu ketika hendak membalas pesan tersebut. 


"Tapi, Na ...." 


"Gue mau udahan aja ngerjain laki gue. Gue enggak mau kalau sampai kualat nantinya. Kalau emang Sultan enggak bisa tulus sayang sama gue dan semua masih sama kayak dulu. Gue bakal terima aja lah, Riel. Gue percaya aja kalau jalan takdir gue pasti indah," kata Nabila. Membuat Ariel tidak mampu lagi berkata-kata. 


Ia pun tidak bisa memaksa wanita itu agar terus mengikuti rencananya. Ia paham, bagaimana perasaan Nabila. 


"Kalau lu mau pulang kapan aja, gue akan anter, Na. Apa lu mau pulang sekarang?" tanya Ariel. 


Nabila menggeleng lemah. "Ntar aja, Riel. Sultan bilang dia lagi jemput gue. Jadi, gue tunggu di sini aja sampai dia dateng. Kalau dia udah sampai sekitar sini, barulah gue akan hubungi dia." Nabila pun duduk di sofa dan menghidupkan televisi untuk menghilangkan kejenuhannya. 


Sebuah kecelakaan pesawat dengan nomor XXX terjadi. Pesawat dengan tujuan Bandara Internasional Juanda, Surabaya, hilang kendali sebelum akhirnya jatuh menabrak bukit. Berikut nama penumpang termasuk salah seorang pengusaha muda, Tuan Bima Sultan Andaksa, yang merupakan putra sulung Tuan Pandu Nugraha Andaksa.


Deg! 


Bak terkena sambaran petir, jantung Nabila berdegup sangat kencang ketika mendengar nama suaminya disebut. Termasuk Ariel yang juga tidak percaya. Ia pun segera mencari informasi lewat media lain, dan memang benar. Kecelakaan pesawat itu terjadi dan ada nama Sultan yang tercatat dalam daftar penumpang. 


"Na ...." Ariel menatap iba ke arah Nabila yang sedang menangis keras. Ia pun langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat. 


"Riel ... Sultan ...."


"Lu tenanglah dulu. Gue akan cari informasi yang paling detail. Gue berharap semoga Sultan masih dilindungi. Lu harus tenang dulu, Na." 


Ariel terus mengusap puncak kepala Nabila sambil memeluk erat wanita itu. Dalam hatinya terbesit rasa sesal dan tidak terpikir semua akan sekacau ini. Sementara Nabila sudah terlihat sangat khawatir. Wanita itu terus saja gelisah bahkan beberapa kali menjambak rambutnya sendiri. Ariel pun segera memberi pelukan kepadanya untuk sekadar memberi ketenangan. 


"Riel ...." Nabila tidak mampu lagi berkata-kata. Hanya tangisan memilukan yang terdengar dari wanita itu. Ariel pun tidak pernah lelah menenangkan dan ia pun mencoba menghubungi orang rumah.


***


Rasya yang saat itu sedang bersenda gurau dengan sahabatnya, begitu tersentak ketika mendapat telepon dari Pandu bahwa pesawat yang ditumpangi oleh Sultan, mengalami kecelakaan. Hal itu pun sontak membuat Rasya menangis histeris. Ia bahkan langsung menuju ke bandara untuk memastikan. 


"Ya Tuhan, Mas. Gimana Sultan." Air mata Rasya berderai. Hatinya sangat tidak karuan. Begitu pun dengan yang lain. 


"Kamu tenanglah. Kita berdoa saja semoga putra kita masih selamat," ujar Pandu. Ia berusaha menenangkan hati Rasya meskipun dalam hatinya sendiri merasa kecewa. 


Namun, semua sudah menjadi takdir dan telah terjadi dan kalaupun mau menyalahkan, bagi Pandu adalah percuma. Justru akan memperumit keadaan. Ia pun hanya bisa berdoa semoga putranya selamat dalam kecelakaan itu. 


"Maafkan mama, Sul. Pulanglah dalam keadaan baik-baik saja. Mama tidak mau kamu kenapa-napa. Mama sayang banget sama kamu, Sul." Rasya terus saja menangis, hingga membuat sahabatnya pun tak kuasa menahan tangisan mereka.  


Mereka pun sama cemasnya dengan keadaan Sultan dan terus menunggu kabar kelanjutannya. Pelukan mereka sama sekali tidak terlepas untuk saling menguatkan. 


"Gimana Nabila." Tangan Zahra gemetaran ketika mengambil ponsel untuk menghubungi Nabila. Ia sangat cemas dengan keadaan Nabila seandainya tahu kalau Sultan mengalami kecelakaan pesawat. Putrinya pasti akan sangat terpuruk. 


"Gue telepon Ariel aja biar bawa Nabila pulang," kata Zety. Ia yang tidak tahu perihal Ariel yang membawa Nabila untuk mengerjai Sultan, pun akhirnya sedikit menyesalkan tindakan sahabatnya.


Suasana di bandara pun sangat ramai dari orang-orang yang keluarganya masuk dalam daftar penumpang pesawat. Pandu berusaha terlihat tenang meskipun sorot matanya tidak memungkiri bahwa lelaki itu sedang sangat cemas sekarang ini. 


"Ra, sekarang kita pulang dulu. Kamu harus istirahat karena sejak tadi nangis terus. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit," kata Pandu. Mencium pipi istrinya agar hati wanita itu menjadi tenang. 


Ia merasa tidak tega ketika melihat raut kesedihan tampak memenuhi wajah istrinya. Wanita itu pasti sangat terpukul. 


"Aku mau nunggu kabar dari Sultan, Mas. Aku enggak mau pulang sekarang," tolak Rasya. Ia bersikukuh tetap berada di sana meskipun para sahabatnya juga sudah merayu agar Rasya pulang terlebih dahulu. 


"Biar aku dan Arga yang nunggu di sini. Kamu pulang saja dan biarkan mereka menemanimu di rumah," suruh Pandu. Dengan nada yang masih lembut, tetapi Rasya tetap saja menggeleng lemah. 


"Aku tetap ingin di sini," kata Rasya. 


Pada akhirnya, semua hanya menurut kemauan Rasya untuk tetap berada di sana sampai ada kabar tentang Sultan. 


Hampir dua jam berlalu, Nabila dan Ariel tiba di bandara dan langsung disambut oleh mereka semua dengan isak tangis. Susahnya medan tempat terjadinya kecelakaan, membuat proses evakuasi memakan waktu yang sangat lama. Bahkan, Pandu juga menyuruh anak buahnya untuk membantu proses evakuasi. 


"Ma ... Sultan gimana, Ma." Nabila terus menangis. Padahal air mata wanita itu seperti hampir mengering, tetapi tangisan wanita itu masih saja terdengar memilukan. 


Tidak ada kesedihan yang tidak terlihat di wajah mereka semua. Tangisan lirih bahkan keras terdengar di sekitar bandara. Mereka pun sama seperti Rasya, menunggu kabar tentang keluarga mereka. 


"Sabar, Sayang. Percayalah, Sultan pasti baik-baik saja. Berdoa pada yang Maha Kuasa untuk melindungi Sultan di mana pun dia berada," ucap Arga. 


Bukan hanya kabar Sultan yang membuatnya cemas, tetapi kesedihan yang dialami putrinya membuat Arga pun merasa khawatir pada anak perempuannya tersebut. Bahkan, sejak tadi Arga tidak melepaskan pelukannya sama sekali dari Nabila. 


"Ini karena kamu, Riel. Coba kalau kamu tidak punya ide konyol untuk mengerjai Sultan, semua tidak akan seperti ini. Papa benar-benar sangat kecewa padamu," kata Kiano. Menatap putranya dengan tatapan yang susah dijelaskan. Ariel pun hanya bisa menunduk tanpa bisa berkata-kata. 


Ia mengaku salah dan mungkin akan mengaku kalah setelah ini.